10 Juni 2014
"One Last Breath"
03 September 2013
#From Solo with love
you are the air I need to breathe
the river of life inside of me
you are the half that made me whole
you are the anchor of my soul
and you are strong when I am weak
you are the words when I can't speak
you never fail to see me through
that's the love I found in you
you are my shelter from the storm
you are the road that leads me home
and baby with you here face to face
oh I know I've found my place
and you are strong when I am weak
you are the words when I can't speak
you never fail to see me through
that's the love I found in you
and once in every life
you find the one that's right
and when you say forever it's true
that's the love I found in you
you are strong when I am weak
you are the words when I can't speak
you never fail to see me through
that's the love I found in you
that's the love, love I found in you.
lirik diambil dari sini
27 Maret 2013
#From Solo with Love
Sewu Kutho
Sewo kuto uwis tak liwati
Sewu ati tak takoni
Nanging kabeh
Podo rangerteni
Lungamu neng endi
Pirang tahun anggonku nggoleki
Seprene durung biso nemoni
Wis tak coba
Nglalekake jenengmu
Soko atiku
Sak tenane aku ora ngapusi
Isih tresno sliramu
Umpamane kowe uwis mulyo
Lilo aku lilo
Yo mung siji dadi panyuwunku
Aku pengin ketemu
Senajan sak kedheping moto
Kanggo tombo kangen jroning dodo
25 Maret 2013
#From Solo with Love
Ojo sok gampang janji wong manis
Yen to amung lamis
Becik aluwung prasojo nimas
Ora agawe cuwo
Tansah ngugemi tresnamu wingi
Jebul amung lamis
Koyo ngenteni thukuling jamur
Ing mongso ketigo
Aku iki prasasat
Loro tan antuk jampi
Mbok ojo amung lamis
Kang uwis dadine banjur didis
Akeh tulodo kang demen cidro
Uripe rekoso
Milih sawiji ngendi kang suci
Tanggung biso mukti
09 Agustus 2012
Pajak dan Zakat 1: Selamat Idul Fitri 1433H
30 Maret 2012
Lapor Pajak Ternyata Gampang: cuma 5 menit!
29 November 2011
Kau Yang Kusayang*
t'lah bersemi karenamu
hati yang suram kini tiada lagi
telah bersinar karenamu
semua yang ada padamu ooohh...
membuat diriku tiada berdaya
hanyalah bagimu
hanyalah untukmu
seluruh hidup dan cintaku
biarkan hujan membasahi bumi
atau bulan yang tiada berseri
namun jangan kau biarkan cintaku
yang tulus suci hanya padamu.
* Sebuah lagu dari The Rollies, diambil dari sini
30 Oktober 2011
Ain't No Sunshine by Bill Withers
It's not warm when she's away.
Ain't no sunshine when she's gone
And she's always gone too long anytime she goes away.
Wonder this time where she's gone,
Wonder if she's gone to stay
Ain't no sunshine when she's gone
And this house just ain't no home anytime she goes away.
And I know, I know, I know, I know, I know,
I know, I know, I know, I know, I know, I know, I know,
I know, I know, I know, I know, I know, I know,
I know, I know, I know, I know, I know, I know, I know, I know
Hey, I ought to leave the young thing alone,
But ain't no sunshine when she's gone, only darkness everyday.
Ain't no sunshine when she's gone,
And this house just ain't no home anytime she goes away.
Anytime she goes away.
Anytime she goes away.
Anytime she goes away.
Anytime she goes away.
07 Oktober 2011
09 September 2011
Haryo Penangsang
'Sejarah ditulis oleh para pemenang' – Alex Haley, penulis AS 1921-1992
Selama Ramadhan kemarin, salah satu kegiatan 'ngaji' yang saya lakukan selepas subuh adalah membaca novel. Kali ini, yang menjadi bahan 'ngaji' saya adalah sebuah novel berjudul 'Penangsang-Tembang Rindu Dendam'. Novel ini sendiri sudah saya beli berbulan silam, namun baru sempat baca belakangan ini. Saya tertarik beli dan baca novel ini, karena kisah tentang Haryo Penangsang, seorang adipati dari sebuah wilayah bernama Jipang yang merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kesultanan Demak Bintoro pada abad 16. Sebuah wilayah yang kira-kira meliputi area dari Cepu sampai Rembang.
Berdasarkan pengalaman selama ini, kisah Haryo Penangsang selalu digambarkan sebagai seorang adipati yang sakti madraguna sekaligus haus kekuasaan dan temperamental. Semua karakteristik kepemimpinan yang jelek ada di sana. Terbayang bagaimana pemain memerankan Haryo Penangsang dalam pertunjukan ketoprak di TVRI Jogjakarta tempo dulu. Adegan murkanya Haryo Penangsang setelah mengetahui tukang rawat kudanya dipotong daun telinganya oleh pihak Pajang dan membaca tantangan dari Mas Kerebet untuk melakukan duel. Gambaran yang ditafsirkan dari kisah yang terangkum dalam Babad Tanah Jawi.
Namun, di dalam novel yang ditulis oleh Nassirun ini, penulis hendak melakukan penafisarn yang bisa jadi beda sama sekali dengan penafsiran yang selama ini ada dan jamak dipahami oleh masyarakat (Jawa). Berbeda dengan gambaran karakter Haryo Penangsang yang seperti saya biasa lihat dalam adegan ketoprak, Haryo Penangsang dalam novel ini digambarkan berbeda sama sekali. Haryo Penangsang yang merupakan anak dari Pangeran Sekar (anak laki2 dari isteri ketiga Raden Patah) digambarkan sebagai seorang adipati yang-merupakan anak asuh favorit Sunan Kudus- tidak saja sakti dan paham betul soal olah keprajuritan tetapi juga jago dalam tata pemerintahan dan ilmu agama. Juga digambarkan bagaimana tidak berminatnya penangsang terhadap kekuasaaan, khusunya yang menyangkut menjadi Sultan Demak, meski segala persyaratan ada padanya.
Novel ini juga menguraikan kematian Pangeran Sekar atau Raden Kikin (meninggal di atas jembatan Sungai Tuntang setelah ditusuk dengan keris Setan Kober oleh suruhan Bagus Mukmin, anak Sultan Trenggono-karenanya disebut pangeran Sekar Sedo-meninggal- Lepen-di sungai). Kematian yang menjadi buah kesalahpahaman. Karena kedatangan Pangeran Sekar ke Demak pada hari itu adalah untuk menyatakan penyesalan dan permohonan maaf atas kemarahannya karena diangkatnya Sultan Trenggono sebagai pengganti Pati Unus. Sebuah kedatangan yang disalahpahami sebagai langkah untuk melakukan pembunuhan terhadap Sultan trenggono sebagaimana terucap oleh Pengran Sekar beberapa hari sebelumnya. Yang terakhir ini juga merupakan tafsir yang ada di Babad Tanah Jawi. Sebuah kematian yang dua puluh lima tahun kemudian menjadi pangkal soal pertikaian antara keturunanSultan Trenggono (termasuk mas Kerebet a.k.a Joko Tingkir yang menjadi menantu Trenggono) dengan keturunan Pangeran Sekar (salah satunya Haryo Penangsang).
Sebuah pertikaian yang merupakan kelanjutan dendam lama antara pendukung Majapahit dengan kerajaan baru: Demak. Pertikaian panjang soal perebutan kekuasaan di Tanah Jawa. Pertikaian yang juga timbul karena perbedaan pendapat antara anggota waliyyul amri (Wali 9) utamanya antara Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus tentang bagaimana menguatkan Kesultanan Demak dan menyebarkan agama islam di pedalaman Jawa. Pertikaian yang pada akhirnya dimenangi oleh Trah Trenggono lewat Mas Kerebet, yang pada akhirnya menjadi cikal bakal kerajaan Mataran Baru (Jogja-Solo).
Cerita-cerita versi 'Babad Tanah Jawi' yang beredar selama ini, paling tidak yang saya ketahui- pada akhirnya memang menggambarkan pihak Mas Kerebet sebagai 'good guy' nya dan Penangsang menjadi 'bad guy'-nya. Barangkali karena memang sejarah selalu ditulis oleh sang pemenang. Persoalannya, haruskah sejarah yang ditulis sang pemenang tadi harus diterima sebagai kebenaran mutlak. Tak tahu juga. Mungkin tergantung kejujuran Si Pemenang. Allahu a'lam bissawab.
27 November 2010
You And Your Friends (Dire Straits)
Will you and your friend come around
Are you and your friend gonna get on down
Will you and your friend come around
Or are you and your friend gonna let me down
If you talk to one another
I'm a hungry man
Let me know one way or the other
So I can make my plans
Will you and your friend come around
Or are you and your friend gonna get on down
Will you and your friend come around
Or are you and your friend gonna get on down
I relive the situation
Still see it in my mind
You got my imagination
Working overtime
diambil dari sini
On Every Street (Dire Straits)
there's gotta be a record of you someplace
you gotta be on somebody's books
the lowdown - a picture of your face
your injured looks
the sacred and profane
the pleasure and the pain
somewhere your fingerprints remain concrete
and it's your face i'm looking for an every street
a ladykiller - regulation tattoo
silver spurs on his heels
says - what can I tell you, as I'm standing next to you
she threw herself under my wheels
oh it's a dangerous road
and a hazardous load
and the fireworks over liberty explode in the heat
and it's your face I'm looking for on every street
a three-chord symphony crashes into space
the moon is hanging upside down
I don't know why it is I'm still on the case
it's a ravenous town
and you still refuse to be traced
seems to me such a waste
and every victory has a taste that's bittersweet
and it's your face I'm looking for on every street
diambil dari sini
Why Worry (Dire Straits)
Baby I see this world has made you sad
Some people can be bad
The things they do, the things they say
But baby I'll wipe away those bitter tears
I'll chase away those restless fears
That turn your blue skies into grey
Why worry, there should be laughter after the pain
There should be sunshine after rain
These things have always been the same
So why worry now
Baby when I get down I turn to you
And you make sense of what I do
I know it isn't hard to say
But baby just when this world seems mean and cold
Our love comes shining red and gold
And all the rest is by the way
Why worry, there should be laughter after pain
There should be sunsh ine after rain
These things have always been the same
So why worry now
diambil dari sini
22 September 2010
Anna dan Semangkok Mie Instan

30 Juni 2010
Hujan Bulan Juni
menutup lembaran hari di bulan Juni
hujan di bulan Juni....
Hujan Bulan Juni*
tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
*puisi oleh Sapardi Djoko Damono
dicopy paste dari sini
13 Januari 2010
Batanghari-Kapuas: Journeys to Remember
Karena tugas kantor, satu hari saya harus mengarungi Sungai batanghari di Jambi dengannaik speeboat kecil berpenumpang tiga orang termasuk si nahkoda. Perjalanan Jambi-Muara Sabak kami tempuh lebih kurang empat jam. Lumayan juga, naik kendaraan air yang kecil itu di tengah-tengah sungai terbesar di Pulau Sumatera itu. Terombang-ambing oleh ombak setiap saat berpapasan dengan kendaraan air lain yang lebih besar ukurannya, yang lalau lalang di sungai itu. Perjalanan Jambi-Sabak yang kami tempuh dari pagi hingga tengah hari itu memberikan pengalaman yang menarik, melihat kesibukan di tengah dan dibantaran sungai. 20 November 2009
3 Bulan Pertama Perjalanan Di Bumi Katulistiwa
The world is flat
Ketika terbang permata kalinya menuju ke Pontianak, saya menghabiskan waktu di perjalanan dengan membaca bukunya Thomas L. Friedman, The World Is Flat. Dan begitu, mendarat di Bandara Supadio Pontianak, kemudian menempuh perjalanan ke pusat kota, lebih kurang 10 km dan pada gilirannya muter-muter kota Pontianak, saya menyadari bahwa di bumi Pontianak, bumi benar-benar datar dalam arti sebenarnya. Kontur tanah di Pontianak adalah datar sedatar-datarnya, tak ada tanjakan dan turunan curam. Ntah kalau di luar kota. Yang jelas, kontur model beginian memudahkan para tukang becak....
Tiga dosa besar
Ada guyonan khas yang dilontarkan oleh para sesepuh yang lebih dulu tugas di kota ini. Bahwa kota ini mempunyai tiga dosa besar, yang mudah-mudahan tidak akan saya alami. Tapi rupanya, doa-doa itu doa yang tak makbul karena tidak lama saya datang di kota ini, datang serangan tiga dosa besar secara serempak. Apa tiga dosa besar itu? Pertama, mati listrik. Ini memang penyakit yang menjadi wabah hampir diseluruh pelosok negeri. Bahkan ibukota negarapun kabarnya, saat ini dapat gilirannya! Dosa besar kedua, mati air. Air yang berasa asin itupun, ada saatnya tak mau keluar dari kran... entah untuk alasan apa? Dan, dosa besar ketiga adalah asap! Ya, kabut asap dari pembakaran hutan. Sesak napas dan pedih mata dibuatnya. Pada minggu ketiga keberadaan saya di Pontianak, ketiga dosa besar datang secara bersamaan. Pusing. Makanya buru-buru masukin permohonan cuti lebaran..., padahal puasa baru dapat dua minggu, dan balik ke rumah kumpul keluarga di Jakarta!Nasi ayam

Ketika mau berangkat, ada teman yang pernah tinggal di Pontianak, jauh-jauh hari mengingatkan agar saya tidak sekali-sekali mencoba makan menu 'nasi ayam' yang ada di pasar. Kenapa? Karena menu tersebut adalah menu nasi ayam berkaki empat! Harom...!
Beda rasa
Satu kesulitan yang saya rasakan, rasa masakan di warung-warung ternyata tak terlalu membangkitkan selera makan. Bahkan untuk masakan padang di warung makan minangpun tak seneak di tempat lain. Itu barangkali yang membuat badan jadi tambah langsing....[he3x]
Diversity in harmony
Sekelompok anak SMA, joget-joget, nyanyi-nyanyi bareng, meriah dan berisik banget! Dilihat dari tampilan fisiknya, kebanyakan dari mereka adalah dari etnis Thiong Hoa, nggak semua memang. Etnis Thiong Hoa, memang cukup dominan di Pontianak. Kalau dilihat dari banyaknya tempat peribadatan mereka, sepertinya mereka ini terdiri dari berbagai macam-macam kepercayaan. Dan, ternyata, sekelompok anak SMA tadi dari sebuah sekolah sawata katholik yang sedang mengikuti sebuah acara antar sekolah. Yang menarik, guru pendamping mereka adalah seorang ibu guru yang memakai busana muslim. Perpaduan yang menarik dan visualisasi dari semangat bhineka tunggal ika. Beginilah seharusnya indonesia....!
Tak Harus Jam 12
Dalam tiga bulan di Pontianak, belum pernah saya bisa ikut shalat jumat tepat waktu. Beberapa kali Jumat malah, nggak sempat dapat dengerin khutbah sama sekali. Di sini, shalat jumat tidak harus dimulai jam 12 siang seperti di Jakarta. Asumsi ini yang membuat saya sering kali telat shalat jumat. Begitu jam 12 kurang dikit sampai di masjid, khutbah sudah habis, dalam beberapa kesempatan, jamaah sudah bubar saat jam 12!
Upin dan Ipin
Anak-anak saya tampaknya begitu menikmati suasana Pontianak. Satu hal yang membuat mereka 'nyaman' adalah dialog-dialog model Upin dan Ipin yang biasa ditonton di layar kaca menjadi begitu dekat, mengingat sebagian besar masyarakat Ponatianak adalah petutur dialek Melayu. Upin dan Ipin menjadi begitu hidup di benak anak-anak.Shin shang
Ketika cedera kaki saya kambuh, dan selalu kambu hampir setiap Jumat karena harus naik turun tangga tiga lantai setiap hari, satu hal yang diingatkan dokter untuk dihindari, orang-orang di kantor menyarankan saya pergi ke shin shang. Makhluk apa shin shang ini? Ternyata adalah sebutan orang sini untuk shin she, dan ternyata... shin shang yang satu ini cukup handal! hampir tiga minggu dalam perawatannya, cedera berangsur-angsur membaik. Semoga demikian seterusnya. Buat Anda yang mempunyai keluhan di pertulangan, barangkali ini bisa jadi alternatif...[jauh amat yak...] namanya Shin Shang Lim Khun Sheng.
Time goes so slowly
Malam cepat sekali turun di Pontianak karena jam setengah 6 sore, saat pulang kantor suasananya, dalam beberapa bulan ini, sudah gelap sekali. Dan malam-malam jadi terasa amat panjang....
19 tahun pembiaran
Dan... di sini baru saya 'ngeh'... ternyata telah terjadi pembiaran untuk waktu yang sangat lama, 19 tahun... *sigh*
31 Agustus 2009
Mimbar Jumat: Tahu Batas*)

Tak berapa lama, sang induk datang dan menghitung anak-anaknya. Ternyata kurang satu. Dicari tahulah kepada anak-anak kodok yang lain, kemana gerangan sang anak kodok. Anak-anak kodok yang lain cerita kepada sang induk kalau salah satu di antara mereka terinjak hingga terbenam oleh sesuatu yang besar dan hitam. Mereka tak tahu apa gerangan yang membenammatikankan saudaranya itu!
"Besar dan hitam, ibu...", kata salah satu anak kodok kepada induknya. Sang induk menggelembungkan perutnya untuk memastikan, "Sebesar inikah anakku?"
"Bukan ibu, lebih besar lagi", seru anak kodok yang lain. "Sebesar inikah?" tanya sang induk sambil memperbesar perutnya. "Tidak ibu, lebih besar lagi. Sudahlah... ibu tidak akan bisa sebesar benda itu!" seru anak kodok yang lain.
Tapi, demi menghapus rasa penasarannya, sang induk tetap memperbesar dan memperbesar lagi perutnya. Sang anak, berusaha mencegah sang induk melakukan itu, sambil meyakinkan bahwa sang induk tidak akan bakal mampu memompa perutnya hingga sebesar kerbau. Tapi sang induk tetap bersikeras, sampai akhirnya, "Pyyaarrrr....!" Pecahlah perut si induk.
*Dari Dongeng Pagi-pagi Bersama Poetri dan Rafiq di 89,6FM, 070809
31 Juli 2009
Mimbar Jumat: Pak Polisi Baik Hati, Majulah POLRI!*
***
Akhir Mei 2009. Waktu masih menunjukkan pukul 09.00 waktu Tokyo. Saya pada hari itu kebetulan lagi ada tugas ke sana. Saya mencoba telepon ke rumah menanyakan keadaan anak saya, Maliq, karena sehari sebelumnya ketika telepon ke rumah ada kabar si buyung sedang sakit. Tapi, jawaban dari seberang telepon sungguh menganggetkan, "Pak, rumah kita dibobol mali!" Demikian, pekik isteri saya. "Waauw...!" Jawab saya. "Sebentar Pak, ini saya lagi mau ke kantor polisi", sambung isteri saya. "Nggak usahlah...", cegah saya. Pengalaman buruk saya ketika dulu kemalingan membuat saya berusaha mencegah beurusan dengan aparat. Ya sudahlah, ikhlaskan saja.... Tapi isteri saya tetap melapor ke kantor polisi. Dan sampai sekarang, nggak ketahuan gimana kasus pencurian itu ditangani. "Seperti biasanya. Sudahlah!" pikir saya.
Dua hari kemudian, di Tokyo, ada rombongan kepolisian dari Polres Bekasi datang ke asrama di mana saya menginap. Mereka serombongan polisi yang akan studi banding tentang pengembangan 'community police', semacam polisi lebih merakyat gitulah kira-kira. Luar biasa, mudah2an berhasil, kita doakan. Dari obrolan dengan mereka ada beberapa hal baru yang saya ketahui tentang dunia kepolisian. Dari sini, saya menjadi lebih paham, mengapa kadang kelihatan begitu sulit bagi pak polisi untuk mengungkap tindak kejahatan. Satu lagi adalah bagaimana prestasi pak polisi kita begitu diapresiasi oleh kalangan polisi di negara-negara lain karena keberhasilan mengungkap kasus-kasus terorisme. Hal yang mendapat konfirmasi dari mantan Komandan Densus 88 waktu diwawancara Karni Ilyas di TVOne. Satu hal lagi, saya dapat begitu akrab dengan beberapa polisi itu. Tak ada lagi trauma masa kecil. Barangkali karena mereka tidak berseragam,... beberapa Polwan pulak!
Kamis 30 Juli 2009. Waktu menunjukkan pukul 19.40. Kondisi jalan tol dari Semanggi ke arah Tomang macet berat di sekitaran Slipi. Karena berencana keluar di pintu tol Slipi, maka sehabis jembatan layang Slipi, saya berinisiatif mengambil bahu jalan. Toh, sudah dekat pintu tol. Tapi, ternyata di ujung sana sudah menunggu beberapa Pak Polisi. Dan salah satu petugas tersebut memberhentikan laju mobil saya yang telah balik lagi ke lajur paling kiri. Seorang petugas, menyapa, kemudian sesuai dengan protap, menanyakan STNK dan SIM. Meneliti sebentar dan kemudian bertanya kepada saya, "Mau dibantu atau ditilang?" tanya pak polisi.
"Tilang pak", jawab saya cepat. Mendengar jawaban saya pak polisi tertawa sambil berkata, "Kenapa kok milih yang susah, mau dibantu atau ditilang?" ulang pak polisi.
Jujur, saya jadi agak kikuk. "Dibantu macam mana ini pak polisi", tanya saya dalam hati. Lalu, saya bilang, "Kalau memang salah ya tilang aja pak". Lagi-lagi pak polisi itu ketawa, "Wong ditawari yang mudah kok malah pilih yang susah. Kalau Anda bilang dibantu ini sampeyan saya lepas, jalan lagi", lanjut pak polisi setelah memberikan beberapa nasihat singkat tentang kesalahan dan permintaan agar tidak mengulanginya. Akhirnya, saya katakan, "Tolong dibantu Pak".
"Nah, gitu dong," jawab pak polisi. Sambil mengatakan bahwa jangan serta merta berpikiran kalau 'dibantu' itu berarti minta sesuatu. Karena menurut Pak Polisi kita ini, beliau memang tidak berniat untuk itu dan hanya berniat mengingatkan kesalahan saya dan meminta saya untuk tidak mengulanginya lagi. Dan, saya pun berjanji demikian halnya. Kemudian saya tanyakan nama dan unit dari Pak Polisi itu, kenalan ngobrol sedikit, salaman, mengucapkan salam dan pamitan untuk melanjutkan perjalanan.
***
Di sepanjang sisa perjalanan ke rumah, saya begitu gembira. Cerita tentang ide 'community police' dan reformasi kepolisian yang saya dengar dari rombongan Polres Bekasi sepertinya bukan hanya dongeng di negeri mimpi. Paling tidak bagi Pak Polisi yang memberhentikan saya tadi. Mudah-mudahan semua polisi kita akan seperti Pak Polisi Kita tadi itu. Semoga. Bravo Kepolisian RI.... maju terus!
Salam untuk Pak Kusdiharto anggota Patroli Tol Dalam Kota Mobil Patroli #01-951
05 Mei 2009
To Serve and To Enforce
Sabtu kemarin, kebetulan bertepatan dengan hari pendidikan nasional, kantor tempat saya ngupoyo upo mengadakan kegiatan out-bound. Out-bound diselenggarakan di SLDC (Sentul Leadership Development Centre). Kegiatan ini dilakukan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan di antara teman-teman sekantor, maklum saja banyak orang baru yang masuk. Selain itu juga sebagai acara perpisahan karena beberapa orang yang sudah bertahun-tahun kerja bareng di kantor ini dipindahkan ke tampat lain. Secara pribadi, dari beberapa kali mengikuti kegiatan serupa, baru kali ini saya merasa menikmati. Nggak tahu kenapa, barangkali karena saya termasuk yang ikut sok sibuk menyiapkan acara ini atau mungkin karena manusia-manusia luar biasa yang tergabung di kantor ini. Mungkin dengan out-bound kemarin, beberapa orang yang pindah menjadi sedih karena harus meninggalkan kantor ini... *smile* *narsis mode: on*
Tapi, saya tidak akan bercerita panjang tentang out-bound ini, melainkan cerita tentang tag line acara out-bound, seperti yang tertulis di kaos (ada dua: orange belanda dan hijau) "to serve and to enforce". Ya, dua kata itulah yang menjadi tugas utama kantor ini, yang menjadi bagian dari otoritas pajak Republik Indonesia. Seperti halnya otoritas pajak di belahan lain di muka bumi ini, institusi pemerintah yang satu ini memang unik. Bagaimana tidak, satu institusi dituntut untuk memiliki dua wajah sekaligus pada saat bersamaan. Satu sisi dituntut untuk mampu memberikan pelayanan yang baik (to serve) , yang memudahkan setiap warga negara dalam membayar pajak, tapi pada saat bersamaan, di sisi lain juga dituntut untuk dapat berbuat 'super tegas' apabila ada ketidakpatuhan (to enforce). Ibarat kata, ekstrimnya, otoritas pajak mesti bermuka dua, satu muka seperti Arjuna, tokoh wayang yang lembut, sopan dan baik satu muka lagi seperti Dasamuka, sosok raksasa yang jahat.
Yang menjadi masalah adalah bagaimana menyeimbangkan (tawazun, kata para uztad) antara pelayanan dan penegakan hukum yang optimal yang mampu memberikan efek kepada tingkat kepatuhan pajak dari warga negara. Dari sinilah, perlu dipikirkan kapan kita harus menunjukkan sisi kearjunaan kita dan kapan harus menunjukkan kedasamukaan. Untuk warga negara yang patuh dan secara baik sudah melaksanakan kewajiban perpajakan, sisi kearjunaan, mutlak untuk ditampilkan. Pelayanan yang baik dan prima musti diberikan untuk menjaga tingkat kepatuhan mereka. Sebaliknya untuk para warga negara yang tidak secara benar menjalankan kewajiban perpajakannya, penegakan hukum yang tegas dan tak pandang bulu perlu dilakukan sesuai dengan tingkat ketidakpatuhannya.
Dengan demikian, perlakuan otoritas pajak terhadap satu wajib pajak akan berbeda dengan perlakuan pada wajib pajak lainnya berdasarkan bagaimana perilaku dan kondisi obyektif wajib pajak-wajib pajak tersebut. Dalam manajemen kontemporer, ini disebut dengan manajemen kepatuhan berbasis risiko. Kegagalan melakukan ini akan menimbulkan kecenderungan otoritas pajak untuk bertindak tidak adil; tidak melakukan enforcement kepada pihak-pihak yang seharusnya layak untuk mendapatkannya, atau yang lebih parah, enforcement justru dilakukan kepada mereka yang sudah patuh! Atau, enforcement tidak dilakukan semata-mata karena kondisi obyektif, tetapi karena kepentingan-kepentingan lain. Yang demikian tentulah akan memancing kemurkaan Tuhan, karena Tuhan sudah secara tegas menyatakan bahwa kita musti bertindak adil, hingga jangan sampai kebencian, kedengkian, kejengkelan atau situasi subyektif kita lainnya yang pada seseorang membuat kita berlaku tidak adil padanya.
Mudah-mudahan tag line yang tersablon di kaos waktu out-bound kemarin, mampu mengingatkan saya dan teman-teman sekantor untuk selalu berpikir obyektif dan berbuat adil. Mampu memberikan pelayanan terbaik bagi mereka yang berhak dan sekaligus mampu melakukan penegakan hukum yang tegas dan tak pandang bulu pada mereka yang layak mendapatkannya. Sehingga nilai-nilai kita sebagai sebuah masterpiece dari kreasi Tuhan, tidak tercederai....

