Tampilkan postingan dengan label Rupa-rupa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rupa-rupa. Tampilkan semua postingan

10 Juni 2014

"One Last Breath"


Please come now I think I'm falling
holding on to all I think is safe
It seems I found the road to nowhere
And I'm trying to escape
I yelled back when I heard thunder
But I'm down to one last breath
And with it let me say
Let me say

Hold me now
I'm six feet from the edge and I'm thinking
maybe six feet
Ain't so far down

I'm looking down now that it's over
Reflecting on all of my mistakes
I thought I found the road to somewhere
Somewhere in His grace
I cried out heaven save me
But I'm down to one last breath
And with it let me say
Let me say

Hold me now
I'm six feet from the edge and I'm thinking
maybe six feet
Ain't so far down

Sad eyes follow me
But I still believe there's something left for me
So please come stay with me
'Cause I still believe there's something left for you and me
For you and me
For you and me

Hold me now
I'm six feet from the edge and I'm thinking

Hold me now
I'm six feet from the edge and I'm thinking
maybe six feet
Ain't so far down

Please come now I think I'm falling
I'm holding on to all I think is safe

03 September 2013

#From Solo with love

The Love I Found In You

you are the air I need to breathe
the river of life inside of me
you are the half that made me whole
you are the anchor of my soul

and you are strong when I am weak
you are the words when I can't speak
you never fail to see me through
that's the love I found in you

you are my shelter from the storm
you are the road that leads me home
and baby with you here face to face
oh I know I've found my place

and you are strong when I am weak
you are the words when I can't speak
you never fail to see me through
that's the love I found in you

and once in every life
you find the one that's right
and when you say forever it's true
that's the love I found in you

you are strong when I am weak
you are the words when I can't speak
you never fail to see me through
that's the love I found in you
that's the love, love I found in you.

lirik diambil dari sini

27 Maret 2013

#From Solo with Love

Sewu Kutho


Sewo kuto uwis tak liwati
Sewu ati tak takoni
Nanging kabeh
Podo rangerteni
Lungamu neng endi
Pirang tahun anggonku nggoleki
Seprene durung biso nemoni

Wis tak coba
Nglalekake jenengmu
Soko atiku
Sak tenane aku ora ngapusi
Isih tresno sliramu

Umpamane kowe uwis mulyo
Lilo aku lilo
Yo mung siji dadi panyuwunku
Aku pengin ketemu
Senajan sak kedheping moto
Kanggo tombo kangen jroning dodo


25 Maret 2013

#From Solo with Love

Ojo Lamis

Ojo sok gampang janji wong manis
Yen to amung lamis 
Becik aluwung prasojo nimas
Ora agawe cuwo

Tansah ngugemi tresnamu wingi 
Jebul amung lamis
Koyo ngenteni thukuling jamur 
Ing mongso ketigo

Aku iki prasasat
Loro tan antuk jampi 
Mbok ojo amung lamis
Kang uwis dadine banjur didis

Akeh tulodo kang demen cidro 
Uripe rekoso 
Milih sawiji ngendi kang suci
Tanggung biso mukti

09 Agustus 2012

Pajak dan Zakat 1: Selamat Idul Fitri 1433H

Saat lebaran, ingat bayar zakat, ingat bayar pajak. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433H, mohon maaf lahir dan batin.

30 Maret 2012

Lapor Pajak Ternyata Gampang: cuma 5 menit!

Banyak orang bilang urusan pajak itu ribet, mbulet dan sejenisnya. Apa demikian keadaannya? Pengakuan wajib pajak berikut memberikan gambaran lain tentang bagaimana kondisi dan situasi pelaporan pajak (SPT) di hari-hari menjelang batas waktu pelaporan SPT seperti saat ini.

29 November 2011

Kau Yang Kusayang*

cinta yang tulus di dalam hatiku
t'lah bersemi karenamu
hati yang suram kini tiada lagi
telah bersinar karenamu

semua yang ada padamu ooohh...
membuat diriku tiada berdaya
hanyalah bagimu
hanyalah untukmu
seluruh hidup dan cintaku

biarkan hujan membasahi bumi
atau bulan yang tiada berseri
namun jangan kau biarkan cintaku
yang tulus suci hanya padamu.

* Sebuah lagu dari The Rollies, diambil dari sini

30 Oktober 2011

Ain't No Sunshine by Bill Withers

Ain't no sunshine when she's gone.
It's not warm when she's away.
Ain't no sunshine when she's gone
And she's always gone too long anytime she goes away.

Wonder this time where she's gone,
Wonder if she's gone to stay
Ain't no sunshine when she's gone
And this house just ain't no home anytime she goes away.

And I know, I know, I know, I know, I know,
I know, I know, I know, I know, I know, I know, I know,
I know, I know, I know, I know, I know, I know,
I know, I know, I know, I know, I know, I know, I know, I know

Hey, I ought to leave the young thing alone,
But ain't no sunshine when she's gone, only darkness everyday.
Ain't no sunshine when she's gone,
And this house just ain't no home anytime she goes away.

Anytime she goes away.
Anytime she goes away.
Anytime she goes away.
Anytime she goes away.

07 Oktober 2011

09 September 2011

Haryo Penangsang


'Sejarah ditulis oleh para pemenang' – Alex Haley, penulis AS 1921-1992


Selama Ramadhan kemarin, salah satu kegiatan 'ngaji' yang saya lakukan selepas subuh adalah membaca novel. Kali ini, yang menjadi bahan 'ngaji' saya adalah sebuah novel berjudul 'Penangsang-Tembang Rindu Dendam'. Novel ini sendiri sudah saya beli berbulan silam, namun baru sempat baca belakangan ini. Saya tertarik beli dan baca novel ini, karena kisah tentang Haryo Penangsang, seorang adipati dari sebuah wilayah bernama Jipang yang merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kesultanan Demak Bintoro pada abad 16. Sebuah wilayah yang kira-kira meliputi area dari Cepu sampai Rembang.


Berdasarkan pengalaman selama ini, kisah Haryo Penangsang selalu digambarkan sebagai seorang adipati yang sakti madraguna sekaligus haus kekuasaan dan temperamental. Semua karakteristik kepemimpinan yang jelek ada di sana. Terbayang bagaimana pemain memerankan Haryo Penangsang dalam pertunjukan ketoprak di TVRI Jogjakarta tempo dulu. Adegan murkanya Haryo Penangsang setelah mengetahui tukang rawat kudanya dipotong daun telinganya oleh pihak Pajang dan membaca tantangan dari Mas Kerebet untuk melakukan duel. Gambaran yang ditafsirkan dari kisah yang terangkum dalam Babad Tanah Jawi.


Namun, di dalam novel yang ditulis oleh Nassirun ini, penulis hendak melakukan penafisarn yang bisa jadi beda sama sekali dengan penafsiran yang selama ini ada dan jamak dipahami oleh masyarakat (Jawa). Berbeda dengan gambaran karakter Haryo Penangsang yang seperti saya biasa lihat dalam adegan ketoprak, Haryo Penangsang dalam novel ini digambarkan berbeda sama sekali. Haryo Penangsang yang merupakan anak dari Pangeran Sekar (anak laki2 dari isteri ketiga Raden Patah) digambarkan sebagai seorang adipati yang-merupakan anak asuh favorit Sunan Kudus- tidak saja sakti dan paham betul soal olah keprajuritan tetapi juga jago dalam tata pemerintahan dan ilmu agama. Juga digambarkan bagaimana tidak berminatnya penangsang terhadap kekuasaaan, khusunya yang menyangkut menjadi Sultan Demak, meski segala persyaratan ada padanya.


Novel ini juga menguraikan kematian Pangeran Sekar atau Raden Kikin (meninggal di atas jembatan Sungai Tuntang setelah ditusuk dengan keris Setan Kober oleh suruhan Bagus Mukmin, anak Sultan Trenggono-karenanya disebut pangeran Sekar Sedo-meninggal- Lepen-di sungai). Kematian yang menjadi buah kesalahpahaman. Karena kedatangan Pangeran Sekar ke Demak pada hari itu adalah untuk menyatakan penyesalan dan permohonan maaf atas kemarahannya karena diangkatnya Sultan Trenggono sebagai pengganti Pati Unus. Sebuah kedatangan yang disalahpahami sebagai langkah untuk melakukan pembunuhan terhadap Sultan trenggono sebagaimana terucap oleh Pengran Sekar beberapa hari sebelumnya. Yang terakhir ini juga merupakan tafsir yang ada di Babad Tanah Jawi. Sebuah kematian yang dua puluh lima tahun kemudian menjadi pangkal soal pertikaian antara keturunanSultan Trenggono (termasuk mas Kerebet a.k.a Joko Tingkir yang menjadi menantu Trenggono) dengan keturunan Pangeran Sekar (salah satunya Haryo Penangsang).


Sebuah pertikaian yang merupakan kelanjutan dendam lama antara pendukung Majapahit dengan kerajaan baru: Demak. Pertikaian panjang soal perebutan kekuasaan di Tanah Jawa. Pertikaian yang juga timbul karena perbedaan pendapat antara anggota waliyyul amri (Wali 9) utamanya antara Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus tentang bagaimana menguatkan Kesultanan Demak dan menyebarkan agama islam di pedalaman Jawa. Pertikaian yang pada akhirnya dimenangi oleh Trah Trenggono lewat Mas Kerebet, yang pada akhirnya menjadi cikal bakal kerajaan Mataran Baru (Jogja-Solo).


Cerita-cerita versi 'Babad Tanah Jawi' yang beredar selama ini, paling tidak yang saya ketahui- pada akhirnya memang menggambarkan pihak Mas Kerebet sebagai 'good guy' nya dan Penangsang menjadi 'bad guy'-nya. Barangkali karena memang sejarah selalu ditulis oleh sang pemenang. Persoalannya, haruskah sejarah yang ditulis sang pemenang tadi harus diterima sebagai kebenaran mutlak. Tak tahu juga. Mungkin tergantung kejujuran Si Pemenang. Allahu a'lam bissawab.

27 November 2010

You And Your Friends (Dire Straits)

Will you and your friend come around
Are you and your friend gonna get on down
Will you and your friend come around
Or are you and your friend gonna let me down

If you talk to one another
I'm a hungry man
Let me know one way or the other
So I can make my plans

Will you and your friend come around
Or are you and your friend gonna get on down
Will you and your friend come around
Or are you and your friend gonna get on down

I relive the situation
Still see it in my mind
You got my imagination
Working overtime

diambil dari sini


On Every Street (Dire Straits)

there's gotta be a record of you someplace
you gotta be on somebody's books
the lowdown - a picture of your face
your injured looks
the sacred and profane
the pleasure and the pain
somewhere your fingerprints remain concrete
and it's your face i'm looking for an every street

a ladykiller - regulation tattoo
silver spurs on his heels
says - what can I tell you, as I'm standing next to you
she threw herself under my wheels
oh it's a dangerous road
and a hazardous load
and the fireworks over liberty explode in the heat
and it's your face I'm looking for on every street

a three-chord symphony crashes into space
the moon is hanging upside down
I don't know why it is I'm still on the case
it's a ravenous town
and you still refuse to be traced
seems to me such a waste
and every victory has a taste that's bittersweet
and it's your face I'm looking for on every street

diambil dari sini

Why Worry (Dire Straits)

Baby I see this world has made you sad
Some people can be bad
The things they do, the things they say
But baby I'll wipe away those bitter tears
I'll chase away those restless fears
That turn your blue skies into grey

Why worry, there should be laughter after the pain
There should be sunshine after rain
These things have always been the same
So why worry now


Baby when I get down I turn to you
And you make sense of what I do
I know it isn't hard to say

But baby just when this world seems mean and cold
Our love comes shining red and gold
And all the rest is by the way

Why worry, there should be laughter after pain
There should be sunsh ine after rain
These things have always been the same

So why worry now

diambil dari sini

22 September 2010

Anna dan Semangkok Mie Instan


Satu malam, selepas Isya, Anna bertengkar hebat dengan ibunya karena hal sepele, warna baju! Tampaknya Sang Ibu begitu sakit hati karena pertengkaran itu, maka keluarlah kata-kata usiran. Dan, kaburlah Anna dari rumah. Malam itu juga. Beberapa langkah meninggalkan gerbang pagar rumah, Anna baru tersadar kalau ternyata dia tidak membawa uang sepeserpun. Tapi, amarah yang disandangnya mencegahnya dari balik ke rumah. Dia tetap meneruskan langkahnya, entah sampai mana.


Setelah berkilo-kilo berjarak dari rumah, Anna terhenti di depan sbuah warung mie instan rebus. Aroma bumbu mie instan yang sedang dimasak oleh si empunya warung begitu menggoda selera. Syahdan, Anna terpaku di depan warung. Ingin rasanya masuk ke warung dan pesan semangkok mie. "Hmm... betapa sedapnya!", guman Anna dalam hati. Apadaya, tak ada uang sama sekali di sakunnya. Dari kejauhan, Si Pemilik Warung memperhatikan tingkah laku Anna. Setelah beberapa lama, dihampirinya Anna.


"Apa yang sedang kamu lakukan Nak, berdiri dari tadi di luar warung? Apakah kamu mau pesan semangkok mie?", tanya Ibu Warung ramah.


"Eh...i...iya..eh... tidak bu, saya tidak punya uang", jawab Anna terbata-bata.


"Ohh.. tak apa. Ayo masuklah, biar Ibu bikinkan kamu semangkok mie. Tak usah risau soal uang', pinta Ibu Warung, masih dengan keramahan yang sama.


Akhirnya masuklah Anna ke dalam warung, duduk di bangku yang disediakan untuk pembeli menunggu semangkok mie matang.


"Ini..., makanlah", seru Ibu Warung tatkala menyodorkan semangkok mie di depan Anna. Maka, makanlah Anna. Dan, memang ezat bukan kepalang rasa mie itu. Namun, ketika habis suapan ketiga, tiba-tiba air mata Anna mengucur deras. Dia menangis. Tersedu-sedu.


"Kenapa?" tanya Ibu Warung.


"Tak apa-apa", jawab Anna lirih.


"Ayolah..., bicaralah. Siapa tahu Ibu bisa bantu kamu", lanjut Ibu Warung.


Setelah terdiam beberapa saat, Anna berkata, "Aneh rasanya. Ibu, orang yang belum kukenal tiba-tiba datang menyapaku dan menawariku semangkok mie yang lezat ini. Sedangkan di rumah, Ibuku, orang yang kukenal bertahun-tahun, bertengkar denganku dan bahkan mengusirku dari rumah karena hal sepele."


Setelah selesai mendengarkan cerita Anna tentang pertengkaran dengan ibunya, Sang Ibu Warung kemudian bernasihat. "Hmm... kalau cara melihatnya dibalik seperti ini gimana?" Ibu Warung membuka ceramahnya.


"Kadang kita begitu menghargai begitu tinggi untuk hal-hal sepele yang dilakukan oleh orang yang belum atau tidak kita kenal. Sebaliknya, kita sering kali tidak memberi penghargaan yang pantas pada hal-hal besar yang dilakukan oleh orang-orang yang kita kenal, bahkan sangat kita kenal."


"Apa yang kamu bilang tadi, contohnya.' Lanjut Ibu Warung.


"Kamu begitu menghargai pemberian semangkok mie yang kulakukan padamu. Tapi, tampak kamu tidak begitu menghitung pengorbanan yang pernah dilakukan ibumu. Ibumu sudah memasakkan dan menghidangkan untukmu, mungkin ratusan atau bahkan ribuan mangkok mie. Dan juga makanan yang lain. Dan, kamu tidak mengingatnya bahkan bertengkar dengannya untuk urusan yang kecil!"


Demi mendengar nasihat Ibu Warung, Anna memutuskan untu kembali ke rumah. Malam itu juga. Sesampainya di rumah, terlihat ibunya yang dengan cemas menantikan kehadirannya. Dan begitu Anna masuk ke rumah, Sang Ibu langsung memeluk Anna sambil berkata, "Kamu pasti belum makan. Makanlah, Ibu sudah siapkan makan malam untukmu!"



30 Juni 2010

Hujan Bulan Juni

hujan datang menyiram bumi
menutup lembaran hari di bulan Juni
hujan di bulan Juni....

Hujan Bulan Juni*

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

*puisi oleh Sapardi Djoko Damono
dicopy paste dari sini

13 Januari 2010

Batanghari-Kapuas: Journeys to Remember

Batanghari 1993

Karena tugas kantor, satu hari saya harus mengarungi Sungai batanghari di Jambi dengannaik speeboat kecil berpenumpang tiga orang termasuk si nahkoda. Perjalanan Jambi-Muara Sabak kami tempuh lebih kurang empat jam. Lumayan juga, naik kendaraan air yang kecil itu di tengah-tengah sungai terbesar di Pulau Sumatera itu. Terombang-ambing oleh ombak setiap saat berpapasan dengan kendaraan air lain yang lebih besar ukurannya, yang lalau lalang di sungai itu. Perjalanan Jambi-Sabak yang kami tempuh dari pagi hingga tengah hari itu memberikan pengalaman yang menarik, melihat kesibukan di tengah dan dibantaran sungai.

Keberadaan aneka bangunan pabrik di kiri kanan sungai menggambarkan bagaimana kemurahan alam memberikan begitu banyak manfaat bagi umat manusia. Kebanyakan pabrik-pabrik di kiri kanan sungai itu adalah industri dengan bahan baku yang diambil dari hutan di sekitarnya; kayu dan karet. Di sekitaran bangunan-bangunan besar pabrik yang berdiri kokoh itu berderet rumah-rumah panggung kayu. Satu dua rumah dilengkapi dengan antena parabola besar! Tapi, kebanyakan dari rumah-rumah itu termasuk dalam kelompok rumah sangat sederhana. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi keluarga yang mendiami rumah-rumah itu yang tentu akan sagat bertolak belakang dengan kediaman si pemilik pabrik....


Kapuas 2009

Lagi, karena pekerjaan kantor, akhir Desember 2009 lalu saya mengarungi lagi sebuah sungai besar di Pulau Kalimantan, Kapuas. Berbeda dengan pengalaman saya sebelumnya, kali ini saya mengarungi Kapuas dengan kapal yang lebih besar; Kapal Patroli Bea dan Cukai. Tingkat kecemasan tentu jauh lebih kecil, boleh dibilang tidak ada, pada pengalaman yang kedua ini. Lebih karena jenis kapal yang saya tumpangi!
Lebih kurang 2 jam berada di Kapuas, pemandangan di kiri kanan sungai mengingatkan perjalanan saya 16 tahun yang lalu. Kondisi lalu lintas di tengah dan di bantaran sungai, hampir sama. lalu lalang kapal-kapal besar pembawa berbagai jenis komoditi dan perahu-perahu kayu sarat muatan. Perkampungan kumuh di kiri kanan sungai dengan rumah panggung kayu dan aktifitas penghuninya di pagi hari, bangunan-banguan pabrik, semuanya sama! Hanya saja ada satu perbedaan mencolok di banding kondisi 16 tahun lalu; pabrik-pabrik banyak tutup dan keliahatan hanya tak lebih dari onggokan besi karatan. Tampaknya, industri yang berbasis pada bahan baku kayu te;ah menemui ajalnya karena kesulitan bahan baku. Bagaimana tidak, selama mereka hanya paham mengambil kayu dari hutan tanpa pernah berpikir menanam kembali!

Yang membuat miris, kondisi masyarakat di sekitar pabrik, setidaknya dilihat dari kondisi rumah tinggalnya yang saya lihat dari tengah sungai, baik pada perjalanan di Batanghari 1993 maupun Kapuas 2009 ini adalah sama. Rupanya, kemiskinan memang tidak mengenal batas ruang dan waktu.


Foto Batanghari diambil dari sini

20 November 2009

3 Bulan Pertama Perjalanan Di Bumi Katulistiwa

Tak terasa, sudah tiga bulan saya tinggal di Pontianak, kota yang biasa orang sebut dengan Kota Katulistiwa. Catatan ini mencoba merangkum hal-hal yang terjadi dalam tiga bulan pertama dari perjalanan saya di bumi Pontianak ini, yang entah akan berlangsung untuk berapa lama. Kejadian-kejadian yang terekam dan teringat saya coba tulis secara acak, mengingat kemampuan daya ingat yang mulai turun dari waktu ke waktu.

The world is flat
Ketika terbang permata kalinya menuju ke Pontianak, saya menghabiskan waktu di perjalanan dengan membaca bukunya Thomas L. Friedman, The World Is Flat. Dan begitu, mendarat di Bandara Supadio Pontianak, kemudian menempuh perjalanan ke pusat kota, lebih kurang 10 km dan pada gilirannya muter-muter kota Pontianak, saya menyadari bahwa di bumi Pontianak, bumi benar-benar datar dalam arti sebenarnya. Kontur tanah di Pontianak adalah datar sedatar-datarnya, tak ada tanjakan dan turunan curam. Ntah kalau di luar kota. Yang jelas, kontur model beginian memudahkan para tukang becak....

Tiga dosa besar
Ada guyonan khas yang dilontarkan oleh para sesepuh yang lebih dulu tugas di kota ini. Bahwa kota ini mempunyai tiga dosa besar, yang mudah-mudahan tidak akan saya alami. Tapi rupanya, doa-doa itu doa yang tak makbul karena tidak lama saya datang di kota ini, datang serangan tiga dosa besar secara serempak. Apa tiga dosa besar itu? Pertama, mati listrik. Ini memang penyakit yang menjadi wabah hampir diseluruh pelosok negeri. Bahkan ibukota negarapun kabarnya, saat ini dapat gilirannya! Dosa besar kedua, mati air. Air yang berasa asin itupun, ada saatnya tak mau keluar dari kran... entah untuk alasan apa? Dan, dosa besar ketiga adalah asap! Ya, kabut asap dari pembakaran hutan. Sesak napas dan pedih mata dibuatnya. Pada minggu ketiga keberadaan saya di Pontianak, ketiga dosa besar datang secara bersamaan. Pusing. Makanya buru-buru masukin permohonan cuti lebaran..., padahal puasa baru dapat dua minggu, dan balik ke rumah kumpul keluarga di Jakarta!

Nasi ayam
Ketika mau berangkat, ada teman yang pernah tinggal di Pontianak, jauh-jauh hari mengingatkan agar saya tidak sekali-sekali mencoba makan menu 'nasi ayam' yang ada di pasar. Kenapa? Karena menu tersebut adalah menu nasi ayam berkaki empat! Harom...!

Beda rasa
Satu kesulitan yang saya rasakan, rasa masakan di warung-warung ternyata tak terlalu membangkitkan selera makan. Bahkan untuk masakan padang di warung makan minangpun tak seneak di tempat lain. Itu barangkali yang membuat badan jadi tambah langsing....[he3x]

Diversity in harmony
Sekelompok anak SMA, joget-joget, nyanyi-nyanyi bareng, meriah dan berisik banget! Dilihat dari tampilan fisiknya, kebanyakan dari mereka adalah dari etnis Thiong Hoa, nggak semua memang. Etnis Thiong Hoa, memang cukup dominan di Pontianak. Kalau dilihat dari banyaknya tempat peribadatan mereka, sepertinya mereka ini terdiri dari berbagai macam-macam kepercayaan. Dan, ternyata, sekelompok anak SMA tadi dari sebuah sekolah sawata katholik yang sedang mengikuti sebuah acara antar sekolah. Yang menarik, guru pendamping mereka adalah seorang ibu guru yang memakai busana muslim. Perpaduan yang menarik dan visualisasi dari semangat bhineka tunggal ika. Beginilah seharusnya indonesia....!

Tak Harus Jam 12
Dalam tiga bulan di Pontianak, belum pernah saya bisa ikut shalat jumat tepat waktu. Beberapa kali Jumat malah, nggak sempat dapat dengerin khutbah sama sekali. Di sini, shalat jumat tidak harus dimulai jam 12 siang seperti di Jakarta. Asumsi ini yang membuat saya sering kali telat shalat jumat. Begitu jam 12 kurang dikit sampai di masjid, khutbah sudah habis, dalam beberapa kesempatan, jamaah sudah bubar saat jam 12!

Upin dan Ipin
Anak-anak saya tampaknya begitu menikmati suasana Pontianak. Satu hal yang membuat mereka 'nyaman' adalah dialog-dialog model Upin dan Ipin yang biasa ditonton di layar kaca menjadi begitu dekat, mengingat sebagian besar masyarakat Ponatianak adalah petutur dialek Melayu. Upin dan Ipin menjadi begitu hidup di benak anak-anak.

Shin shang
Ketika cedera kaki saya kambuh, dan selalu kambu hampir setiap Jumat karena harus naik turun tangga tiga lantai setiap hari, satu hal yang diingatkan dokter untuk dihindari, orang-orang di kantor menyarankan saya pergi ke shin shang. Makhluk apa shin shang ini? Ternyata adalah sebutan orang sini untuk shin she, dan ternyata... shin shang yang satu ini cukup handal! hampir tiga minggu dalam perawatannya, cedera berangsur-angsur membaik. Semoga demikian seterusnya. Buat Anda yang mempunyai keluhan di pertulangan, barangkali ini bisa jadi alternatif...[jauh amat yak...] namanya Shin Shang Lim Khun Sheng.

Time goes so slowly
Malam cepat sekali turun di Pontianak karena jam setengah 6 sore, saat pulang kantor suasananya, dalam beberapa bulan ini, sudah gelap sekali. Dan malam-malam jadi terasa amat panjang....

19 tahun pembiaran
Dan... di sini baru saya 'ngeh'... ternyata telah terjadi pembiaran untuk waktu yang sangat lama, 19 tahun... *sigh*

31 Agustus 2009

Mimbar Jumat: Tahu Batas*)


Ini cerita tentang seekor kodok dan anak-anaknya. Keluarga kokdok itu sedang asyik 'ngorek' ketika tiba-tiba datang seekor kerbau dan huup... menginjak seekor anak kodok hingga lenyap terbenam dalam lumpur.

Tak berapa lama, sang induk datang dan menghitung anak-anaknya. Ternyata kurang satu. Dicari tahulah kepada anak-anak kodok yang lain, kemana gerangan sang anak kodok. Anak-anak kodok yang lain cerita kepada sang induk kalau salah satu di antara mereka terinjak hingga terbenam oleh sesuatu yang besar dan hitam. Mereka tak tahu apa gerangan yang membenammatikankan saudaranya itu!

"Besar dan hitam, ibu...", kata salah satu anak kodok kepada induknya. Sang induk menggelembungkan perutnya untuk memastikan, "Sebesar inikah anakku?"

"Bukan ibu, lebih besar lagi", seru anak kodok yang lain. "Sebesar inikah?" tanya sang induk sambil memperbesar perutnya. "Tidak ibu, lebih besar lagi. Sudahlah... ibu tidak akan bisa sebesar benda itu!" seru anak kodok yang lain.

Tapi, demi menghapus rasa penasarannya, sang induk tetap memperbesar dan memperbesar lagi perutnya. Sang anak, berusaha mencegah sang induk melakukan itu, sambil meyakinkan bahwa sang induk tidak akan bakal mampu memompa perutnya hingga sebesar kerbau. Tapi sang induk tetap bersikeras, sampai akhirnya, "Pyyaarrrr....!" Pecahlah perut si induk.


*Dari Dongeng Pagi-pagi Bersama Poetri dan Rafiq di 89,6FM, 070809
gambar diambil dari sini

31 Juli 2009

Mimbar Jumat: Pak Polisi Baik Hati, Majulah POLRI!*

Pengalaman masa kecil seseorang kadang mempunyai efek jangka panjang. Bahkan bisa sangat panjang, sampai ketika seseorang tersebut sudah menjadi orang tua. Ini juga menjadi pengalaman pribadi saya. Ketika kecil, saya takut sekali kalau berhadapan dengan aparat berseragam, karena punya seorang tetangga yang anggota salah satu kesatuan, yang tampak luar --juga dalamannya-- sangat galak! Selain itu, setiap lewat depan 'tangsi', ini sebutan orang tua saya untuk markas Kepolisian Sektor (polsek) kakak saya sering kali berkata, 'Diam, ada polisi!" Dua pengalaman ini membuat saya kadang deg-degan setiap kali di jalan diberhentikan oleh Pak Polisi. Tapi tiga pengalaman saya berinteraksi dengan Pak Polisi dalam dua bulan terkahir, ternyata mampu mengikis trauma saya itu.

***

Akhir Mei 2009. Waktu masih menunjukkan pukul 09.00 waktu Tokyo. Saya pada hari itu kebetulan lagi ada tugas ke sana. Saya mencoba telepon ke rumah menanyakan keadaan anak saya, Maliq, karena sehari sebelumnya ketika telepon ke rumah ada kabar si buyung sedang sakit. Tapi, jawaban dari seberang telepon sungguh menganggetkan, "Pak, rumah kita dibobol mali!" Demikian, pekik isteri saya. "Waauw...!" Jawab saya. "Sebentar Pak, ini saya lagi mau ke kantor polisi", sambung isteri saya. "Nggak usahlah...", cegah saya. Pengalaman buruk saya ketika dulu kemalingan membuat saya berusaha mencegah beurusan dengan aparat. Ya sudahlah, ikhlaskan saja.... Tapi isteri saya tetap melapor ke kantor polisi. Dan sampai sekarang, nggak ketahuan gimana kasus pencurian itu ditangani. "Seperti biasanya. Sudahlah!" pikir saya.

Dua hari kemudian, di Tokyo, ada rombongan kepolisian dari Polres Bekasi datang ke asrama di mana saya menginap. Mereka serombongan polisi yang akan studi banding tentang pengembangan 'community police', semacam polisi lebih merakyat gitulah kira-kira. Luar biasa, mudah2an berhasil, kita doakan. Dari obrolan dengan mereka ada beberapa hal baru yang saya ketahui tentang dunia kepolisian. Dari sini, saya menjadi lebih paham, mengapa kadang kelihatan begitu sulit bagi pak polisi untuk mengungkap tindak kejahatan. Satu lagi adalah bagaimana prestasi pak polisi kita begitu diapresiasi oleh kalangan polisi di negara-negara lain karena keberhasilan mengungkap kasus-kasus terorisme. Hal yang mendapat konfirmasi dari mantan Komandan Densus 88 waktu diwawancara Karni Ilyas di TVOne. Satu hal lagi, saya dapat begitu akrab dengan beberapa polisi itu. Tak ada lagi trauma masa kecil. Barangkali karena mereka tidak berseragam,... beberapa Polwan pulak!

Kamis 30 Juli 2009. Waktu menunjukkan pukul 19.40. Kondisi jalan tol dari Semanggi ke arah Tomang macet berat di sekitaran Slipi. Karena berencana keluar di pintu tol Slipi, maka sehabis jembatan layang Slipi, saya berinisiatif mengambil bahu jalan. Toh, sudah dekat pintu tol. Tapi, ternyata di ujung sana sudah menunggu beberapa Pak Polisi. Dan salah satu petugas tersebut memberhentikan laju mobil saya yang telah balik lagi ke lajur paling kiri. Seorang petugas, menyapa, kemudian sesuai dengan protap, menanyakan STNK dan SIM. Meneliti sebentar dan kemudian bertanya kepada saya, "Mau dibantu atau ditilang?" tanya pak polisi.

"Tilang pak", jawab saya cepat. Mendengar jawaban saya pak polisi tertawa sambil berkata, "Kenapa kok milih yang susah, mau dibantu atau ditilang?" ulang pak polisi.

Jujur, saya jadi agak kikuk. "Dibantu macam mana ini pak polisi", tanya saya dalam hati. Lalu, saya bilang, "Kalau memang salah ya tilang aja pak". Lagi-lagi pak polisi itu ketawa, "Wong ditawari yang mudah kok malah pilih yang susah. Kalau Anda bilang dibantu ini sampeyan saya lepas, jalan lagi", lanjut pak polisi setelah memberikan beberapa nasihat singkat tentang kesalahan dan permintaan agar tidak mengulanginya. Akhirnya, saya katakan, "Tolong dibantu Pak".

"Nah, gitu dong," jawab pak polisi. Sambil mengatakan bahwa jangan serta merta berpikiran kalau 'dibantu' itu berarti minta sesuatu. Karena menurut Pak Polisi kita ini, beliau memang tidak berniat untuk itu dan hanya berniat mengingatkan kesalahan saya dan meminta saya untuk tidak mengulanginya lagi. Dan, saya pun berjanji demikian halnya. Kemudian saya tanyakan nama dan unit dari Pak Polisi itu, kenalan ngobrol sedikit, salaman, mengucapkan salam dan pamitan untuk melanjutkan perjalanan.

***

Di sepanjang sisa perjalanan ke rumah, saya begitu gembira. Cerita tentang ide 'community police' dan reformasi kepolisian yang saya dengar dari rombongan Polres Bekasi sepertinya bukan hanya dongeng di negeri mimpi. Paling tidak bagi Pak Polisi yang memberhentikan saya tadi. Mudah-mudahan semua polisi kita akan seperti Pak Polisi Kita tadi itu. Semoga. Bravo Kepolisian RI.... maju terus!

Salam untuk Pak Kusdiharto anggota Patroli Tol Dalam Kota Mobil Patroli #01-951

05 Mei 2009

To Serve and To Enforce

'...janganlah rasa bencimu pada satu kaum, mencegahmu dari berbuat adil'

Sabtu kemarin, kebetulan bertepatan dengan hari pendidikan nasional, kantor tempat saya ngupoyo upo mengadakan kegiatan out-bound. Out-bound diselenggarakan di SLDC (Sentul Leadership Development Centre). Kegiatan ini dilakukan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan di antara teman-teman sekantor, maklum saja banyak orang baru yang masuk. Selain itu juga sebagai acara perpisahan karena beberapa orang yang sudah bertahun-tahun kerja bareng di kantor ini dipindahkan ke tampat lain. Secara pribadi, dari beberapa kali mengikuti kegiatan serupa, baru kali ini saya merasa menikmati. Nggak tahu kenapa, barangkali karena saya termasuk yang ikut sok sibuk menyiapkan acara ini atau mungkin karena manusia-manusia luar biasa yang tergabung di kantor ini. Mungkin dengan out-bound kemarin, beberapa orang yang pindah menjadi sedih karena harus meninggalkan kantor ini... *smile* *narsis mode: on*

Tapi, saya tidak akan bercerita panjang tentang out-bound ini, melainkan cerita tentang tag line acara out-bound, seperti yang tertulis di kaos (ada dua: orange belanda dan hijau) "to serve and to enforce". Ya, dua kata itulah yang menjadi tugas utama kantor ini, yang menjadi bagian dari otoritas pajak Republik Indonesia. Seperti halnya otoritas pajak di belahan lain di muka bumi ini, institusi pemerintah yang satu ini memang unik. Bagaimana tidak, satu institusi dituntut untuk memiliki dua wajah sekaligus pada saat bersamaan. Satu sisi dituntut untuk mampu memberikan pelayanan yang baik (to serve) , yang memudahkan setiap warga negara dalam membayar pajak, tapi pada saat bersamaan, di sisi lain juga dituntut untuk dapat berbuat 'super tegas' apabila ada ketidakpatuhan (to enforce). Ibarat kata, ekstrimnya, otoritas pajak mesti bermuka dua, satu muka seperti Arjuna, tokoh wayang yang lembut, sopan dan baik satu muka lagi seperti Dasamuka, sosok raksasa yang jahat.

Yang menjadi masalah adalah bagaimana menyeimbangkan (tawazun, kata para uztad) antara pelayanan dan penegakan hukum yang optimal yang mampu memberikan efek kepada tingkat kepatuhan pajak dari warga negara. Dari sinilah, perlu dipikirkan kapan kita harus menunjukkan sisi kearjunaan kita dan kapan harus menunjukkan kedasamukaan. Untuk warga negara yang patuh dan secara baik sudah melaksanakan kewajiban perpajakan, sisi kearjunaan, mutlak untuk ditampilkan. Pelayanan yang baik dan prima musti diberikan untuk menjaga tingkat kepatuhan mereka. Sebaliknya untuk para warga negara yang tidak secara benar menjalankan kewajiban perpajakannya, penegakan hukum yang tegas dan tak pandang bulu perlu dilakukan sesuai dengan tingkat ketidakpatuhannya.

Dengan demikian, perlakuan otoritas pajak terhadap satu wajib pajak akan berbeda dengan perlakuan pada wajib pajak lainnya berdasarkan bagaimana perilaku dan kondisi obyektif wajib pajak-wajib pajak tersebut. Dalam manajemen kontemporer, ini disebut dengan manajemen kepatuhan berbasis risiko. Kegagalan melakukan ini akan menimbulkan kecenderungan otoritas pajak untuk bertindak tidak adil; tidak melakukan enforcement kepada pihak-pihak yang seharusnya layak untuk mendapatkannya, atau yang lebih parah, enforcement justru dilakukan kepada mereka yang sudah patuh! Atau, enforcement tidak dilakukan semata-mata karena kondisi obyektif, tetapi karena kepentingan-kepentingan lain. Yang demikian tentulah akan memancing kemurkaan Tuhan, karena Tuhan sudah secara tegas menyatakan bahwa kita musti bertindak adil, hingga jangan sampai kebencian, kedengkian, kejengkelan atau situasi subyektif kita lainnya yang pada seseorang membuat kita berlaku tidak adil padanya.

Mudah-mudahan tag line yang tersablon di kaos waktu out-bound kemarin, mampu mengingatkan saya dan teman-teman sekantor untuk selalu berpikir obyektif dan berbuat adil. Mampu memberikan pelayanan terbaik bagi mereka yang berhak dan sekaligus mampu melakukan penegakan hukum yang tegas dan tak pandang bulu pada mereka yang layak mendapatkannya. Sehingga nilai-nilai kita sebagai sebuah masterpiece dari kreasi Tuhan, tidak tercederai....