Tampilkan postingan dengan label Ngomongin kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngomongin kehidupan. Tampilkan semua postingan

26 Desember 2013

Tanggung jawab, Peduli dan Memaafkan

Alkisah pada masa pemerintahan Khalifah Umar Ibnu Khatab. Seorang gembala lalai akan binatang gembalaannya hingga mereka memakan tanaman di kebun seseorang. Tanaman di padang pasir itu habis dimakan binatang. Murkalah Sang Pemilik tanaman. Begitu murkanya, sampai-sampai dia membunuh Sang Gembala.

Keluarga Sang Gembala tidak terima dengan pembunuhan ini. Mereka menghadap Khalifah Umar dan menunutut balas, qisash!

Syahdan, diputuskanlah hukum qisash pada Si Pemilik tanaman. Pada hari H pelaksanaan hukuman terhukum minta ijin kepada Khalifah Umar untuk menemui keluarga guna menunaikan sejumlah tanggung jawab yang belum terselesaikan. Khalifah Umar, khawatir terhukum akan melarikan diri, menolak memberikan ijin.

Maka, datanglah seorang sahabat menghadap Khalifah dan memintanya untuk memberikan ijin kepada terhukum. Sahabat ini memberikan jaminan kepada Khalifah: kalau nanti Terhukum melarikan diri, dia yang akan menggantikan posisinya sebagai terhukum!

Lalu, datanglah saat pelaksanaan qisash. Dan, Terhukum ternyata hadir. Umar bertanya, "Hai Fulan, kenapa engkau tidak melarikan diri selagi peluang itu ada?"

"Aku memang punya peluang untuk melarikan diri. Tapi aku takut kepada Allah. Takut satu hari nanti orang berkata bahwa di kolong langit ini sudah tidak ada lagi orang yang mampu bertanggung jawab."

Khalifahpun lalu bertanya kepada Sahabat. "Mengapa engkau mau menjadi jaminan Si Fulan?"

Sahabat menjawab, "Aku takut pada Allah. Takut satu haru nanti orang berkata bahwa di kolong langit ini sudah tidak ada lagi orang yang peduli pada saudaranya."

Demi mendengar percakapan ini, keluarga penggembala berkata kepada Khalifah Umar bahwa mereka telah memaafkan Pemilik Tanaman dan meminta Khalifah untuk membatalkan hukuman qisash. "Mengapa demikian?" tanya Khalifah heran.

Keluarga Penggembala itu menyampaikan alasannya, "Kami takut kepada Allah. Takut satu hari nanti orang berkata bahwa di kolong langit ini sudah tidak ada lagi orang yang mau memaafkan saudaranya."

Maha Suci Allah..., Dzat yang membolak-balikkan hati.

dari khutbah Jumat 6/12/13 @Masjid Pertamina Cilacap.

03 September 2013

#From Solo with love

The Love I Found In You

you are the air I need to breathe
the river of life inside of me
you are the half that made me whole
you are the anchor of my soul

and you are strong when I am weak
you are the words when I can't speak
you never fail to see me through
that's the love I found in you

you are my shelter from the storm
you are the road that leads me home
and baby with you here face to face
oh I know I've found my place

and you are strong when I am weak
you are the words when I can't speak
you never fail to see me through
that's the love I found in you

and once in every life
you find the one that's right
and when you say forever it's true
that's the love I found in you

you are strong when I am weak
you are the words when I can't speak
you never fail to see me through
that's the love I found in you
that's the love, love I found in you.

lirik diambil dari sini

21 Maret 2013

Penyakit Hati Dan Penghuni Surga

Alkisah, Nabi sedang duduk dalam satu majelis bersama para sahabat di dalam masjid ketika tiba-tiba beliau berkata, "Sebentar lagi calon ahli surga akan masuk masjid." Maka para sahabat bersiap-siap denganpenuh penasaran, ingin melihat siapa gerangan Si Ahli Surga itu. Lalu, datanglah sorang pria yang berwudu, kemudian merapikan sandalnya dan melakukan shalat.

Pada hari berikutnya, Nabi sedang duduk bersama majelis yang sama menyampaikan hal yang sama, bahwa akan datang Si Ahli Surga. Dan, lelaki yang sama muncul. Pada kali ketiga, beliau lagi-lagi menyampaikan hal yang sama. Ahli surga akan tiba. Lalu, laki-laki yang samapun muncul.

Di antara yang hadir di dalam majelis adalah Abdullah bin Amru bin Ash. Dia begitu penasaran, "Siapa gerangan laki-laki itu. Pasti ada yang tak biasa dengannya."

Syahdan, Abdullah menemui laki-laki yang tak ia kenal itu dan mencari alasan. "Wahai saudaraku, aku bertengkar dengan orang tuaku, bolehkah aku menumpang barang sehari dua di rumahmu?" pinta Abdullah. permintaan itu dipenuhi dan Abdullah tinggal di rumah keluarga itu selama tiga hari.

Kehidupan laki-laki itu teramat biasa. Abdullah akhirnya bertanya, "Apa gerangan yang membuatmu menjadi calon penghuni surga?" Tak ada jawaban yang luar biasa, kecuali satu. Sesuatu yang tak bisa dikatakan karena ada di dalam hati. Lelaki sederhana itu tak ada iri dan dengki dalam hatinya. Itulah yang membuatnya menjadi calon ahli surga.

14 Juli 2012

The needs can be met, the greed never

Kisah seorang papa yang menemukan sebuah cangkir ajaib. Tiap kali air matanya menetes ke dalam cangkir, butiran airmata akan berubah menjadi batu permata. Menjadi soal, meski demikian miskin kehidupan pria ini, dia selalu merasa bahagia dan tidak pernah menangis. Hatta, dia berusaha menciptakan kesedihan agar bisa menitikkan air mata. Demi permata. Pria ini berhasil. Seiring makin banyaknya permata yang dikumpulkan dari tetesan air matanya, pun demikian ketamakannya. Akhir cerita, satu hari pria ini duduk di gundukan permata, dengan menggenggam pisau di tangan kanannya, dan jasad sang istri di pangkuannya. 

Diambil dari 'The Kite Runner', sebuah novel karya Khaled Hosseini.

20 Juni 2012

Menua bersama: dari mama utk papa oleh icha

HBD suamiku

Smoga Tuhan selalu berkenan beri Kesehatan
juga umur panjang
dan Kita menua bersama

Selalu terbayang pabila kita menua nanti
Cucu -cucu kita bermain
Yang perempuan membaca koleksi buku cerita ayah ibu nya selagi kecil
Yang laki-laki main kajar -kejaran di halaman rumah kita ...

Ku bayangkan kita duduk berdua
sepoci tehangat segarkan badan ...
Menjaga cucu - cucu kita ...
Karena ayah ibu nya ingin berkencan
dan dengan manja bergandeng tangan

Kita jadi ingat masa muda
Betapa cepatnya waktu tinggalkan kita
Ah, semoga kau slalu semangat
Walau kutahu sunyi bermain di depan waktu

Tetap semangat...

Biarkan sepasang ginjal di punggungmu tak berfungsi
Kita akan terus berjuang!
Sungguh betapa kuingin
Kau tetap menua bersamaku


Solo, 20 Juni 2012
Diketik oleh icha dr sms mama @YARSIS
gambar diambil dari sini

30 Maret 2012

Lapor Pajak Ternyata Gampang: cuma 5 menit!

Banyak orang bilang urusan pajak itu ribet, mbulet dan sejenisnya. Apa demikian keadaannya? Pengakuan wajib pajak berikut memberikan gambaran lain tentang bagaimana kondisi dan situasi pelaporan pajak (SPT) di hari-hari menjelang batas waktu pelaporan SPT seperti saat ini.

12 Februari 2012

Angelina Sondakh Dan Tingkatan Moralitas Kita


Sudah seminggu ini, setiap pagi saya menerima paket promo dari Harian Seputar Indonesia, koran gratis! Pagi ini ada Kolom Sarlito W. Sarwono yang psikolog itu. Sebuah tulisan menarik tentang moral, yaitu tingkatan perkembangan moral manusia yang disadur dari pendapat Lawrence Kohlberg. Teori Pak Kohlberg tentang perkembangan moral ini populer disebut dengan 'stage of moral development'. Info lengkap tentang Pak Kohlberg dapat dicek di sini. Intinya, teori ini menjelaskan tahapan-tahapan tingkat moralitas seseorang.

Pak Sarlito mengawali tulisannya dengan cerita pribadi soal pertemuan dan, kemudian, interaksinya dengan anggota DPR Angelina Sondakh. Dan, ketidakpercayaannya, kalau bisa dibilang begitu, bagaimana sosok Angie yang selama ini dinilainya, dan mungkin juga oleh kita, sebagai politisi baik, cantik, cerdas, dan harmonis rumah tangganya, ternyata terjerat kasus korupsi. Lalu apa hubungan antara Angie dan teori perkembangan moral Kohlberg? Kira-kira, yang ingin dijelaskan Pak Sarlito adalah bahwa tingkat moralitas seseorang tergantung pada perkembangan kesadarannya sesuai dengan fase seperti dijelaskan oleh Kohlberg.

Kohlberg membagi tingkat kesadaran moral ke dalam tiga fase: (1) pra-konvensional, (2) konvensional, dan (3) pasca-konvensional. Masing-masing fase ini terdiri dari dua sub-fase. Fase pra-konvensional merupakan fase terendah moralitas seseorang di bawah fase konvensional dan pasca-konvensional.

Pra-konvensional
Fase moralitas pra-konvensional umumnya terdapat pada diri anak-anak dan bersifat egosentris, meski tidak tertutup kemungkinan seorang dewasa juga bisa berada pada fase moralitas ini. Orang dengan fase moralitas pra-konvensional biasanya akan menilai baik buruknya perbuatan dengan melihat bagaimana akibat langsung dari perbuatan itu. Fase ini terdiri dari dua sub-fase yaitu (a) moralitas yang didorong oleh kepatuhan dan hukuman (obedience and punishment driven) dan (b) moralitas yang didorong kepentingan diri sendiri (self-interest driven). Dalam moralitas kepatuhan dan hukuman, seseorang menilai baik buruknya tindakan dari apakah pelaku dihukum karena melakukan tindakan tersebut. Jika sesoerang ternyata dihukum karena melakukan suatu tindakan, meski tindakan tersebut mempunyai justifikasi, maka tindakan tersebut atau orang tersebut akan dinilai salah secara moral. Sementara, moralitas yang didorong oleh kepentingan diri sendiri adalah moralitas 'keuntungan apa yang saya peroleh'. Suatu tindakan akan dinilai secara moral baik-baik saja sepanjang tindakan tersebut mendatangkan keuntungan bagi dirinya. Mentalitas tak apa memberi suap asal proyek didapat bisa jadi contoh dari sub-fase moralitas ini.

Konvensional
Fase konvensional biasa terdapat pada diri orang dewasa. Seseorang dengan moralitas konvensional akan membandingkan Moralitas suatu tindakan dengan norma sosial yang berlaku. Dalam fase ini seseorang akan patuh pada aturan meski keptuhan tersebut tidak menimbulkan konsekuensi apapun bagi dirinya. Fase ini meliputi sub-fase (c) moralitas yang didorong oleh hubungan baik dan keserasian dengan lingkungan (interpersonal accord and confirmity driven) dan (d) moralitas yang didorong oleh penegakan ketertiban dan otoritas (authority and social order obedience driven). Orang dengan moralitas yang didorong oleh hubungan baik dan keserasian akan cenderung mengikuti nilai-nilai yang ada di masyarakatnya. Sedangkan orang dengan moralitas yang didorong penegakan ketertiban dan otoritas akan mengikuti norma yang berlaku di masyarakatnya terlepas apakah orang tersebut setuju akan norma itu. Orang lain yang tidak mengikuti norma akan dinilai salah secara moral.

Pasca-konvensional

Fase moralitas pasca-konvensional juga disebut dengan fase prinsip. Dalam fase ini, ada kesadaran bahwa individu merupakan entitas yang berbeda dengan masyarakatnya. Karennya, moralitas seseorang akan mengalahkan moralitas masyarakat. Seseorang dengan fase moralitas ini akan bertindak menyimpang dari norma yang ada di masyarakatnya apabila norma tersebut berbeda dengan prinsip yang dianutnya. Fase ini meliputi dua sub-fase: (e) moralitas yang didorong oleh kontrak sosial (social contract driven) dan (f) moralitas yang didorong oleh prinsip-prinsip etika universal (universal ethical priciples driven). Orang dengan moralitas yang didorong oleh kontrak sosial akang beranggapan bahwa masyarakat mempunyai nilai-nilai, pendapat dan hak-hak yang berbeda-beda yang masing-masing berhak untuk dihormati. Aturan yang ada dimasyarakat merupakan sesuatu yang dapat diubah-ubah sepanjang aturan tersebut tidak memberikan kemaslahatan bagi anggota masyarakat. Di lain pihak, orang dengan moralitas yang didorong oleh prinsip etika universal beranggapan bahwa aturan boleh diikuti sepanjang aturan tersebut didasarkan pada prinsip-prinsip keadilan. Prinsip ini juga menghendaki pelanggaran terhadap aturan yang tidak didasarkan pada prinsip keadilan adalah sah. Pak Sarlito menjelaskan orang dengan tingkat moralitas pada fase pasca konvensional akan mempunyai visi dan misi sendiri serta berhasil mengubah lingkungannya menjadi lebih baik. Contoh nyata adalah para nabi.

Pertanyaannya, di tingkat moralitas manakah kita; saya, anda dan Angie? Yang jelas, menurut Pak Kohlberg, fase moral seseorang dapat berkembang. Tetapi, tidak bisa lompat, akan berurutan. Sanggupkah kita mencapai tahapan sub-fase moral ke-6? Baik untuk kita renungkan.

gambar diambil dari sini

29 November 2011

Kau Yang Kusayang*

cinta yang tulus di dalam hatiku
t'lah bersemi karenamu
hati yang suram kini tiada lagi
telah bersinar karenamu

semua yang ada padamu ooohh...
membuat diriku tiada berdaya
hanyalah bagimu
hanyalah untukmu
seluruh hidup dan cintaku

biarkan hujan membasahi bumi
atau bulan yang tiada berseri
namun jangan kau biarkan cintaku
yang tulus suci hanya padamu.

* Sebuah lagu dari The Rollies, diambil dari sini

01 Oktober 2011

Ilir-ilir

Catatan tentang tembang ‘Ilir-ilir’ dicopy dari sini. Sebuah nyanyian yang jamak (masyarakat Jawa) didendangkan orang tua utnuk meninabobokan buah hatinya. Atau sebuah lagu yang biasa dinyanyikan oleh anak-anak manakala sedang ‘dolanan’ sambil menikmati terang sinar bulan purnama.


Membedah Tembang "Lir-Ilir" (Sunan Kalijaga)

Karya besar (tembang Ilir-ilir) ini dibuat oleh Sunan Kalijaga, yang terkenal dengan dakwah Islam ala Jawa yang telah dikenal masyarakat pada zamannya hingga sekarang. Sunan Kalijaga ialah anggota Wali Songo (sembilan Waliullah) yang dikenal sebagai sosok bijaksana dan cerdas.Beliau adalah satu-satunya anggota Wali Songo yang asli keturunan Jawa. Oleh karena itu, dalam misi menyebarkan agama Islam, beliau menggunakan cara-cara kejawen yang mudah dimengerti oleh kalangan orang Jawa yang pada waktu itu masih ada pengaruh budaya Hindu. Dakwahnya tidak hanya dikenal di kalangan rakyat jelata, namun kalangan ningrat pun mengetahuinya. Oleh karena itu, beliau dikenal oleh kaum muslim yang fanatik sebagai pemimpin “IslaIlirm abangan”. Maksud “abangan” dalam konteks ini ialah (cara dakwah) tidak seperti Islam aslinya di Negeri Arab, khususnya dalam hal budayanya.
Kebijaksanaan dalam hal kebudayaan memang beliau ambil sendiri (diterapkan secara lokal). Bangsa Jawa saat itu memang murni Bangsa Jawa yang berkebudayaan Jawa, tidak perlu diganti dengan kebudayaan Bangsa Arab. Hanya dalam hal kepercayaan saja harus diganti dengan kepercayaan Islam, dengan pengertian yang dalam. Maka (pada waktu itu), seni dan kebudayaan Jawa tidak dihapus oleh Sunan Kalijaga, namun diberi warna Islam, upacara ritual seperti selamatan doanya diganti dengan doa Islam. Wayang kulitpun diubah sedemikian rupa bentuknya, sehingga tidak menyalahi hukum Islam. Hingga pada perjalanannya, beliau menghasilkan karya besar berbudaya Jawa dengan membuat tembang seperti Ilir-ilir dan Dandang Gula yang di dalamnya terdapat nilai-nilai dakwah.
Tembang Ilir-ilir ini akan kita kaji lebih dalam dalam pembahasan ini, karena di dalamnya banyak sekali pelajaran-pelajaran yang patut kita teladani. Berikut adalah syair tembang tersebut:

ILIR – ILIR

Lir-ilir, Lir-ilir,
Tandure wus sumilir,
Tak ijo royo-royo,
Tak sengguh penganten anyar.

Cah angon – cah angon,
Penekno blimbing kuwi,
Lunyu-lunyu penekno,
Kanggo mbasuh dodotiro.

Dodotiro – dodotiro,
Kumitir bedah ing pinggir,
Dondomana jlumatana,
Kanggo seba mengko sore.

Mumpung padang rembulane,
Mumpung jembar kalangane,
Yo suraka, surak hiyo.

Syair tersebut sangat indah jika kita merenungkannya secara mendalam.

Nasihat Dibalik Tembang ILIR – ILIR

Tembang ini mengandung nasihat bagaimana untuk menjadi muslim yang baik. Secara garis besar tembang tersebut berisi:

Bait pertama menerangkan mulai bangkitnya iman Islam.
Bait kedua ialah perintah untuk melaksanakan Rukun Islam yang lima.
Bait ketiga tentang taubat, memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan untuk bekal kelak.
Bait keempat menerangkan tentang adanya kesempatan-kesempatan (yang baik).

Berikut adalah uraian-uraian secara rinci :

Uraian “Lir-ilir Tandure Wis Sumilir”
Kata Lir-ilir berasal dari bahasa Jawa “Ngelilir” yang bahasa Indonesianya ialah terjaga/bangun dari tidur. Maksudnya ialah, orang yang belum masuk (agama Islam) dikatakan masih tidur / belum sadar. Pada tembang di atas, kata “Lir-ilir, Lir-ilir” (diulang sebanyak dua kali), maksudnya ialah “bangun-bangun”, bangun ke alam pemikiran yang baru, yaitu Islam.

Sedangkan baris “tandure wis sumilir”, terdiri dari :
“tandure” berarti “benih” yang ditanam.
“wis sumilir” berarti sudah tumbuh.

Jadi, baris “tandure wis sumilir” sama dengan benih yang ditanam sudah mulai tumbuh. Benih di sini berarti iman, yaitu iman Islam. Pada dasarnya semua manusia yang terlahir di muka bumi ini telah dianugerahi benih berupa iman oleh Allah swt. Disadari atau tidak bergantung pada orang-orang yang bersangkutan. Jika orang yang bersangkutan tersebut “sadar” akan adanya benih itu dalam dirinya dan mau merawat dengan baik setiap harinya, maka benih itu akan tumbuh subur, tentunya akan menghasilkan buah yang baik pula. Perawatan benih iman itu dapat berupa :
Membaca Al Quran atau bacaan-bacaan Islam lainnya.
Menghadiri pengajian.
Mendengarkan khutbah mimbar agama Islam
Menjalin hubungan baik / silaturrahmi dengan sesama.
Masih banyak lagi pupuk-pupuk (makanan rohaniah) lainnya, yang tentunya dilaksanakan dengan penuh keikhlasan.

Uraian “Tak Ijo Royo-Royo, Tak Sengguh Pengantin Anyar”

“Tak ijo royo-royo” – Dibuat tumbuh subur, daunnya hijau nan segar. Maksud kalimat tersebut nampaknya menekankan “penampilan” tentang pribadi muslim yang menyenangkan. Adanya benih iman yang selalu dirawat yang menjadikan pribadi muslim sehat jasmani dan rohani. “Ijo-royo-royo” merupakan lambang tanaman yang subur karena dirawat dengan baik.

“Tak sengguh penganten anyar” – pengantin baru. Pengantin ialah pasangan mempelai. Analogi ini disangkutkan dengan manusia atas keyakinan imannya, yang baru bertemu menjadi pengantin. Pasangan / pengantin baru ialah orang yang sangat berbahagia hidupnya. Begitu pula dengan “tak sengguh penganten anyar,” orang yang telah bersanding dengan keyakinan iman Islam.

Jadi, maksud dari “Tak ijo royo-royo, tak sengguh pengantin anyar” berarti benih iman seseorang yang dirawat dengan baik akan menghasilkan seorang muslim yang baik pula. Kebahagiaan seorang muslim di sini ibarat pengantin baru. Iman yang kokoh yang digambarkan dengan “tak ijo royo-royo” tadi, haruslah selalu dijaga dan dirawat dengan baik. Tumbuhan bisa tidak “tak ijo royo-royo” lagi bila terkena hama. Analogi ini bisa kita kaitkan dengan iman seorang muslim. Penjagaan iman supaya tetap kokoh haruslah mampu menghalau hama-hamanya (contoh : tindakan kemungkaran). Berjudi, mencuri, zina, minum minuman keras, dan sejenisnya merupakan hama iman yang harus segera dibasmi.

Uraian “Cah Angon – Cah Angon, Penekno Blimbing Kuwi”

“Cah angon” berarti anak gembala. Kata-kata tersebut diulang bahkan dua kali, yang berarti di sini terdapat penekanan, adanya perintah yang penting. Perintahnya yaitu: “penekno blimbing kuwi” (panjatlah belimbing itu). Perintah ini diberikan kepada bawahan / kedudukan yang lebih rendah dari atasan / kedudukan yang lebih tinggi. Analogi ini sepintas berkesan “orang tua yang memerintah anaknya.” Mengapa yang harus diperintah ialah “cah angon?” Ada gembala, pasti ada yang digembalakannya. Arti cah angon (bukan hanya anak semata) ialah manusia. Manusia yang sebagai gembala menggembalakan nafsu-nafsunya sendiri. Nafsu-nafsu yang dimiliki setiap orang ini, kalau tidak digembalakan, bisa merusak dan tentunya banyak melanggar perintah / aturan agama. Pribadi manusia haruslah bisa berperan sebagai gembala yang baik. Intinya, “cah angon” merupakan sebutan yang diperuntukkan untuk seorang muslim yang menjadi gembala atas nafsu-nafsunya sendiri.

“Penekno blimbing kuwi.” Ini bukan berarti harus memanjat buah belimbingnya, namun “panjatlah pohon belimbing itu.” Perintah yang harus dipanjat ialah pohon belimbingnya (untuk meraih buahnya). Timbul pertanyaan, mengapa harus belimbing yang dijadikan contoh di sini, kok tidak durian atau strawberi? Kita tahu bahwa belimbing mempunyai 5 sisi. Nah gambaran ini sebenarnya merujuk kepada rukun Islam yang lima, yaitu :
(Dua kalimat) syahadat
Mendirikan sholat
Membayar zakat
Berpuasa Ramadhan
Menunaikan ibadah haji

Uraian “Lunyu – Lunyu yo Penekno kanggo Mbasuh Dodotiro”

Bahasa Indonesia dari “Lunyu-lunyu yo penekno” ialah “Meskipun licin, tetap panjatlah” (baris ini berhubungan dengan baris sebelumnya “Cah angon-cah angon, peneken blimbing kuwi”). Licin merupakan sebuah penghambat bagi si pemanjat. Haruslah memanjat dengan sungguh-sungguh dan hati-hati. Jika tidak, maka akan tergelincir jatuh. Sama halnya dengan perintah agama. Jika tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin bila tergelincir ke neraka. Analogi secara kasat mata, jalan turun memang lebih mudah daripada jalan naik, jalan menuju neraka lebih mudah daripada jalan menuju ke surga. Bukankan minum minuman keras, judi, berzina, berdusta, memfitnah lebih mudah daripada mencegah kemungkaran, mengerjakan sholat dan berpuasa? Namun, bagi “cah angon” yang taat, perintah Allah untuk memanjat “blimbing” tadi bukanlah beban dan bukan sesuatu yang berat baginya (untuk meraih buah yang lezat, yaitu surga).

“Kanggo mbasuh dodotiro” mempunyai maksud : berguna untuk membersihkan atau mensucikan kepercayaan kita, hingga benar-benar menjadi kepercayaan yang suci. Dodot ialah pakaian kebesaran di lingkungan kraton. Dodot = pakaian. Analogi ini diibaratkan sebagai “kepercayaan.” Pada zaman “WaliSongo” dulu, banyak orang yang memeluk agama Hindu, Buddha, dan Animisme. Hal-hal seperti itu dicuci dengan “iman Islam” oleh WaliSongo, hingga jadilah agama yang bersih dan benar yaitu agama Islam. Salah satu pembersihnya yaitu rukun Islam yang lima.

Uraian “Dodotiro – Dodotiro Kumitir Bedah ing Pinggir, Dondomana Jlumatana, Kanggo Seba Mengko Sore”
Keterangan sebelumnya menerangkan bahwa “dodot” untuk menggambarkan agama atau kepercayaan yang dianut. “Kumitir bedah ing pinggir” artinya : banyak robekan-robekan di bagian tepi. Berikutnya terdapat perintah “dondomana jlumatana” – dijahit/diperbaiki. Pakaian yang rusak tadi hendaklah diperbaiki agar pantas dipakai lagi. Demikian halnya dengan kepercayaan kita. Bila rusak (karena dosa-dosa yang telah dilakukan), hendaknya diperbaiki dengan jalan memohon ampun kepada Allah (taubat) dan melakukan rukun Islam sebaik-baiknya. “Kanggo seba” mengandung arti : “datang, menghadap Yang Maha Kuasa, yaitu Allah.” Sedangkan “sore” mengandung maksud “akhir dari perjalanan.” Akhir dari perjalanan manusia.

Jadi, maksud dari “Kanggo seba mengko sore” yaitu : “untuk menghadap Allah nanti bila perjalanan hidup sudah berakhir.” Hikmahnya yaitu bagaima kita melaksanakan perintah dalam mengamalkan rukun Islam dengan baik sebagai bekal untuk menghadap Allah kelak ketika hidup sudah berakhir.

Uraian “Mumpung Padang Rembulane, Mumpung Jembar Kalangane”

Terjemahan Bahasa Indonesia-nya ialah : “selagi terang sinar bulannya, selagi luas tempatnya.” terang bulan yang jelas saat malam hari.
Tanpa cahaya bulan pada malam hari (tanpa penerang apapun) akan gelap gulita, tidak dapat melihat apa-apa. Maksudnya, disaat “gelap” orang akan sulit (bahkan tidak mampu) membedakan yang haq dan batil (mana yang baik/benar dan mana yang buruk/salah/haram). Namun, pada suasana gelap itu sesungguhnya terdapat “sinar penerangan” dari cahaya bulan (Sinar Islam), sehingga bisa nampak jelas mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang haq dan mana yang batil. “Mumpung jembar kalangane” – Luas cakupan sinar bulan, mampu menerangi daerah yang luas.
Jadi, maksud dari “Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane” adalah mumpung masih ada kesempatan bertaubat untuk meraih surga (menek blimbing) itu / untuk melaksanakan perintah agama, yaitu rukun Islam yang lima tadi. Hal ini dikarenakan dengan adanya Sinar Islam itu, kita bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kesempatan yang baik dan luas itu jangan sampai disia-siakan begitu saja. Semua itu merupakan ajakan untuk seluruh umat manusia agar melaksanakan kelima rukun Islam dengan baik dan benar.

Uraian “Yo Surako, Surak Hiyo”

Baris di atas (mari bersorak-mari bersorak) ialah ajakan untuk bersorak. Sorak merupakan ekspresi kebahagiaan dan kesenangan bagi yang bersangkutan. Mengapa harus berbahagia? Tak lain ialah karena ia sudah berhasil melaksanakan perintah “Peneken blimbing kuwi, lunyu-lunyu ya peneken.” Bahagia atau senang ini diperoleh sebagai hadiah dari pekerjaannya “memanjat belimbing itu” (surga).
Inti dari baris tersebut ialah, mengajak “Si Cah Angon” (seorang muslim) yang telah melaksanakan perintah “peneken blimbing kuwi” dengan baik, untuk berbahagia karena akan memperoleh pahala yang berupa surga.
Demikian uraian ini semoga bermanfaat bagi kita semua.

thanks to Bulus Jimbung

from: http://warsun.wordpress.com/2008/11/24/membedah-tembang-ilir-%E2%80%93-ilir-sunan-kalijaga

22 September 2010

Anna dan Semangkok Mie Instan


Satu malam, selepas Isya, Anna bertengkar hebat dengan ibunya karena hal sepele, warna baju! Tampaknya Sang Ibu begitu sakit hati karena pertengkaran itu, maka keluarlah kata-kata usiran. Dan, kaburlah Anna dari rumah. Malam itu juga. Beberapa langkah meninggalkan gerbang pagar rumah, Anna baru tersadar kalau ternyata dia tidak membawa uang sepeserpun. Tapi, amarah yang disandangnya mencegahnya dari balik ke rumah. Dia tetap meneruskan langkahnya, entah sampai mana.


Setelah berkilo-kilo berjarak dari rumah, Anna terhenti di depan sbuah warung mie instan rebus. Aroma bumbu mie instan yang sedang dimasak oleh si empunya warung begitu menggoda selera. Syahdan, Anna terpaku di depan warung. Ingin rasanya masuk ke warung dan pesan semangkok mie. "Hmm... betapa sedapnya!", guman Anna dalam hati. Apadaya, tak ada uang sama sekali di sakunnya. Dari kejauhan, Si Pemilik Warung memperhatikan tingkah laku Anna. Setelah beberapa lama, dihampirinya Anna.


"Apa yang sedang kamu lakukan Nak, berdiri dari tadi di luar warung? Apakah kamu mau pesan semangkok mie?", tanya Ibu Warung ramah.


"Eh...i...iya..eh... tidak bu, saya tidak punya uang", jawab Anna terbata-bata.


"Ohh.. tak apa. Ayo masuklah, biar Ibu bikinkan kamu semangkok mie. Tak usah risau soal uang', pinta Ibu Warung, masih dengan keramahan yang sama.


Akhirnya masuklah Anna ke dalam warung, duduk di bangku yang disediakan untuk pembeli menunggu semangkok mie matang.


"Ini..., makanlah", seru Ibu Warung tatkala menyodorkan semangkok mie di depan Anna. Maka, makanlah Anna. Dan, memang ezat bukan kepalang rasa mie itu. Namun, ketika habis suapan ketiga, tiba-tiba air mata Anna mengucur deras. Dia menangis. Tersedu-sedu.


"Kenapa?" tanya Ibu Warung.


"Tak apa-apa", jawab Anna lirih.


"Ayolah..., bicaralah. Siapa tahu Ibu bisa bantu kamu", lanjut Ibu Warung.


Setelah terdiam beberapa saat, Anna berkata, "Aneh rasanya. Ibu, orang yang belum kukenal tiba-tiba datang menyapaku dan menawariku semangkok mie yang lezat ini. Sedangkan di rumah, Ibuku, orang yang kukenal bertahun-tahun, bertengkar denganku dan bahkan mengusirku dari rumah karena hal sepele."


Setelah selesai mendengarkan cerita Anna tentang pertengkaran dengan ibunya, Sang Ibu Warung kemudian bernasihat. "Hmm... kalau cara melihatnya dibalik seperti ini gimana?" Ibu Warung membuka ceramahnya.


"Kadang kita begitu menghargai begitu tinggi untuk hal-hal sepele yang dilakukan oleh orang yang belum atau tidak kita kenal. Sebaliknya, kita sering kali tidak memberi penghargaan yang pantas pada hal-hal besar yang dilakukan oleh orang-orang yang kita kenal, bahkan sangat kita kenal."


"Apa yang kamu bilang tadi, contohnya.' Lanjut Ibu Warung.


"Kamu begitu menghargai pemberian semangkok mie yang kulakukan padamu. Tapi, tampak kamu tidak begitu menghitung pengorbanan yang pernah dilakukan ibumu. Ibumu sudah memasakkan dan menghidangkan untukmu, mungkin ratusan atau bahkan ribuan mangkok mie. Dan juga makanan yang lain. Dan, kamu tidak mengingatnya bahkan bertengkar dengannya untuk urusan yang kecil!"


Demi mendengar nasihat Ibu Warung, Anna memutuskan untu kembali ke rumah. Malam itu juga. Sesampainya di rumah, terlihat ibunya yang dengan cemas menantikan kehadirannya. Dan begitu Anna masuk ke rumah, Sang Ibu langsung memeluk Anna sambil berkata, "Kamu pasti belum makan. Makanlah, Ibu sudah siapkan makan malam untukmu!"



28 Juli 2010

Bhineka Tunggal Ika dari Negeri Andalusia

Laporan ‘Gaya Hidup’ Majalah Berita Mingguan Tempo edisi 26 juli-1 Agustus 2010 menyajikan artikel menarik tentang sisi sejarah Spanyol dan perannya dalam prestasi sepak bola negara tersebut, juara dunia sepak bola 2010. Artikel itu menggambarkan bagaimana tingginya rasa kesukuan di kalangan etnis yang ada di negara para matador itu, yang juga merasuk ke dalam tubuh para pemain timnas sepakbolanya. Fanatisme kesukuan itu antara lain ditunjukkan oleh Xavi Hernandez dan Carlos Puyol, dua pilar utama Timnas Spanyol dan FC Barcelona, yang kebetulan berasal dari etnis Catalan atau Catalonia, satu kelompok etnis yang tinggal di bagian timur laut Spanyol dengan Kota Barcelona sebagai pusatnya. Alih-alih merentang bedera nasional Spayol, Xavi dan Puyol justru merentang dan mencium bendera Catalonia ketika menuruni tangga pesawat sepulangnya dari Afrika Selatan. Hal serupa juga dilakukan oleh Xabi Alonso ketika Timnas Spanyol memenangi Piala Eropa dua tahun berselang. Tapi, Xabi melakukan hal yang sama pada bendera Basque, kelompok etnis di bagian utara Spanyol di mana Xabi berasal.

Pada perayaan keliling kota Madrid, kota yang menjadi ibukota Spanyol sekaligus kelompok etnis Castillia, para pemain dari berbagai kelompok etnis mengibarkan bendera dan berbagai atribut etnis mereka masing-masing. Di pinggir jalan, jutaan rakyat Spanyol menyambut mereka dengan kibaran bendera nasional Spanyol. Dan, Raja Juan Carlos serta PM Jose Luis Rodriguez Zapatero tampak membiarkan saja model ‘pembangkangan’ yang dilakukan oleh para pemain Timnas Spanyol itu. Memang, kali ini, Timnas Spanyol diisi dengan pemain-pemain dari semua kelompok etnis yang ada di Negeri Spanyol itu. Total jenderal, ada tujuh pemain dari etnis Catalan, enam dari Castilia, tiga dari Basque, tiga dari Andalusia, dua dari Kepulauan Canari dan seorang pemain masing-masing dari kelompok etnis Asturia dan Valencia yang direkrut oleh pelatih Vicente Del Bosque, seorang Castilia dan eks pemain dan pelatih Real Madrid. "Skuad Spanyol terdiri atas pemain yang berasal dari semua wilayah, namun kami adalah satu kesatuan," demikian ungkap Del Bosque. Kebijakan serupa juga ditempuh oleh pelatih terdahulu yang membawa Spanyol memenangi Piala Eropa, Luis Aragones. Dan asal tahu saja, kebijakan demikian tidak dilakukan oleh pelatih-pelatih Timna Sapnyol sebelumnya.

Para pelatih Spanyol terdahulu, banyak yang mengeksploitasi rasa kesukuan ini ke dalam rejim kepelatihannya; lebih memilih pemain-pemain dari kelangan etnis yang sama dengan etnis sang pelatih. Ini pula yang ditengarai menjadi penyebab mengapa Spanyol lebih banyak mengalami kegagalan dalam kompetsisi internasional, seperti Piala Dunia dan Piala Eropa, meski banyak pemain top dan klub dengan prestasi luar biasa. Javier Clemente, misalnya, pelatih Timnas Spanyol saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 1982, lebih banyak menggunakan pemain dari kelompok etnis Basque, kelompok dia berasal. Kebijakan dengan rasa dasar rasa kesukuan yang demikian sudah pasti berdampak jelek bagi kekompakan tim di tempat latihan dan di lapangan dan tentunya prestasi. Pemain Madrid, misalnya, akan mencemooh pemain Barcelona yang membuat kesalahan dan berlaku juga sebaliknya. Bahkan bintang sekelas Raul Gonzalespun, Castilia, dikabarkan tidak terlepas dari pengaruh buruk fanatisme kesukuan ini ketika bermain di Timnas Spanyol. Beberapa pemain bintang, bahkan menolak ikut gabung timnas karena alasan kesukuan ini: mereka enggan membela Spanyol!

Menarik untuk membaca sebentar sejarah Spanyol, hingga menimbulkan fanatisme kesukuan yang demikian kental ini. Syahdan, berawal dari perang saudara di Spanyol yang terjadi di tahun 1936-1939, antara kelompok republikan dan nasionalis, yang dimenangi oleh kelompok nasionalis pimpinan Jenderal Franco. Franco kemudian menjadikan Castilia dengan Madrid sebagai pusat gerakan dan menjadikan Bahasa Castilia menjadi bahasa nasional dan dikenal sebagai bahasa Spanyol. Orang-orang catalan, kemudian menjadikan Klub Barcelona sebagai simbol perlawanan terhadap Franco yang adalah suporter fanatik Real Madrid. Dari sini kita paham, mengapa duel el classico antara Madrid lawan Barcelona menjadi pertandingan yang begitu panas dan klasik. Atau, Pep Guardiola, eks pemain dan sekarang pelatih Barcelona yang asli Catalan, lebih sering menggunakan Bahasa Catalan dan menolak bicara dalam Bahasa Spanyol saat melakukan konferensi pers tiap usai pertandingan Barcelona. Atau, kenapa klub macam Real Sociedad dan Athletico Bilbao mengharuskan pemainnya berdarah Basque!

Sekat-sekat kesukuan telah merusak prestasi Timnas Sepakbola ketika fanatisme-nya masuk ke ruang ganti pemain. Karena, bagaimanapun sepak bola merupakan permainan kelompok, yang menjadikan kekompakan antara pemainnya dan setiap unsur yang terlibat di dalamnya sebagai prasyarat utama dalam meraih prestasi. Luis Aragones dan Del Bosque telah memberikan pelajaran dan bukti tentang pentingnya kekompakan di tengah sekat-sekat perbedaan yang kuat ini: bhineka tunggal ika yang dipraktikan dan bukan sekedar slogan. Gol kemenangan Spanyol atas Belanda dicetak oleh Iniesta, pemain dari etnis Castilia yang sejak kecil direkrut oleh raksasa Catalan, Barcelona, setelah menerima assist dari Fabregas, produk Barcelona yang lain. Bagaimana dengan kita, pemilik slogan bhineka tunggal ika? Tampaknya kita perlu belajar dari Spanyol, negerinya Ibnu Rusyd (Averose) dan Ibnu Sina (Avecina), negeri dari mana cahaya bagi Eropa berasal, Andalusia!

30 Juni 2010

Hujan Bulan Juni

hujan datang menyiram bumi
menutup lembaran hari di bulan Juni
hujan di bulan Juni....

Hujan Bulan Juni*

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

*puisi oleh Sapardi Djoko Damono
dicopy paste dari sini

31 Maret 2010

My Name's Gayus And I'm Not A Markus [part2]

Sekali lagi cerita lebih jauh tentang Gayus yang bukan GT. Menarik untuk disimak dan berharap setelah membaca cerita-cerita ini timbul kesadaran bahwa ternyata banyak gayus-gayus lain yang bukan GT-like. Selamat menikmati dengan mengklik link ini: http://www.4shared.com/file/251826529/ea5d1b5a/My_Name_is_Gayus_And_I_am_Not_.html

14 Januari 2010

Mimbar Jumat: Renungan Maghrib di FM 90,8 Pontianak

Setiap pulang sore, saya selalu pulang dari tempat kerja setelah maghrib. Usai menunaikan shalat maghrib di musholla kantor, baru meluncur menuju rumah. Dalam perjalanan pulang itu, seringkali saya mendengarkan satu acara di radio. Saya tak paham betul apa judul acara itu, yang jelas setiap hari dalam acara itu diputarkan rekaman ceramah seorang ustadz. Saya sebut saja acara itu sebagai 'renungan maghrib'. Yang menarik, ceramah yang diputar itu-itu saja sampai-sampai setelah seminggu mendengarkan ceramah itu, saya sudah hapal isinya, yang menurut saya cukup menarik dan menggelitik. Inilah kira-kira isi cermah itu...

Bahwasannya, ada resep generik yang cukup ampuh yang dapat digunakan oleh umat manusia dalam menempuh pasang surutnya kehidupan ini hingga dia bisa menghadapi hidup dengan baik. Saya sebut saja resep tersebut dengan 'Resep Lima O'.

O yang pertama adalah 'otot', bahwa kita semua menghadapai hidup harus dengan 'otot' atau kerja keras. Tanpaa kerja keras, kita tak akan pernah bisa mencapai apa yang kita cita-citakan, kata sang ustadz.

O yang kedua adalah 'otak'. Dalam menjalani hdiup dan kehidupan, sudah pasti kita dituntut untuk selalu berpikir, berpikir tentang apa yang menjadi cita-cita kita dan berpikir tentang bagimana upaya menggapai cita-cita itu. Bahkan, Tuhan, secara khusus lewat kitab suciNya meminta orang-orang yang beriman kepadaNya untuk berpikir tentang apa-apa yang mereka persiapkan untuk masa depannya (baca: hari akhir).

O yang ketiga 'ongkos', yaitu sudah barang tentu seseorang memerlukan biaya dalam setiap detik kehidupannya.

O yang keempat adalah 'obat'. Ada saatnya, ketiga 'O' yang pertama tadi tidak cukup dalam menghadapi pahitnya hidup, sehingga sementara orang beralih kepada obta-obatan untuk mencari sedikit ketenangan.

O yang kelima "Oh.. Tuhanku'. Keempat 'O' tadi kadang belum cukup. Untuk itu selalu diperlukan 'O' yang terakhir, yaitu doa dan pasrah kepada Tuhan....


dari 90,8FM Pontianak, ba'da maghrib

13 Januari 2010

Batanghari-Kapuas: Journeys to Remember

Batanghari 1993

Karena tugas kantor, satu hari saya harus mengarungi Sungai batanghari di Jambi dengannaik speeboat kecil berpenumpang tiga orang termasuk si nahkoda. Perjalanan Jambi-Muara Sabak kami tempuh lebih kurang empat jam. Lumayan juga, naik kendaraan air yang kecil itu di tengah-tengah sungai terbesar di Pulau Sumatera itu. Terombang-ambing oleh ombak setiap saat berpapasan dengan kendaraan air lain yang lebih besar ukurannya, yang lalau lalang di sungai itu. Perjalanan Jambi-Sabak yang kami tempuh dari pagi hingga tengah hari itu memberikan pengalaman yang menarik, melihat kesibukan di tengah dan dibantaran sungai.

Keberadaan aneka bangunan pabrik di kiri kanan sungai menggambarkan bagaimana kemurahan alam memberikan begitu banyak manfaat bagi umat manusia. Kebanyakan pabrik-pabrik di kiri kanan sungai itu adalah industri dengan bahan baku yang diambil dari hutan di sekitarnya; kayu dan karet. Di sekitaran bangunan-bangunan besar pabrik yang berdiri kokoh itu berderet rumah-rumah panggung kayu. Satu dua rumah dilengkapi dengan antena parabola besar! Tapi, kebanyakan dari rumah-rumah itu termasuk dalam kelompok rumah sangat sederhana. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi keluarga yang mendiami rumah-rumah itu yang tentu akan sagat bertolak belakang dengan kediaman si pemilik pabrik....


Kapuas 2009

Lagi, karena pekerjaan kantor, akhir Desember 2009 lalu saya mengarungi lagi sebuah sungai besar di Pulau Kalimantan, Kapuas. Berbeda dengan pengalaman saya sebelumnya, kali ini saya mengarungi Kapuas dengan kapal yang lebih besar; Kapal Patroli Bea dan Cukai. Tingkat kecemasan tentu jauh lebih kecil, boleh dibilang tidak ada, pada pengalaman yang kedua ini. Lebih karena jenis kapal yang saya tumpangi!
Lebih kurang 2 jam berada di Kapuas, pemandangan di kiri kanan sungai mengingatkan perjalanan saya 16 tahun yang lalu. Kondisi lalu lintas di tengah dan di bantaran sungai, hampir sama. lalu lalang kapal-kapal besar pembawa berbagai jenis komoditi dan perahu-perahu kayu sarat muatan. Perkampungan kumuh di kiri kanan sungai dengan rumah panggung kayu dan aktifitas penghuninya di pagi hari, bangunan-banguan pabrik, semuanya sama! Hanya saja ada satu perbedaan mencolok di banding kondisi 16 tahun lalu; pabrik-pabrik banyak tutup dan keliahatan hanya tak lebih dari onggokan besi karatan. Tampaknya, industri yang berbasis pada bahan baku kayu te;ah menemui ajalnya karena kesulitan bahan baku. Bagaimana tidak, selama mereka hanya paham mengambil kayu dari hutan tanpa pernah berpikir menanam kembali!

Yang membuat miris, kondisi masyarakat di sekitar pabrik, setidaknya dilihat dari kondisi rumah tinggalnya yang saya lihat dari tengah sungai, baik pada perjalanan di Batanghari 1993 maupun Kapuas 2009 ini adalah sama. Rupanya, kemiskinan memang tidak mengenal batas ruang dan waktu.


Foto Batanghari diambil dari sini

20 November 2009

3 Bulan Pertama Perjalanan Di Bumi Katulistiwa

Tak terasa, sudah tiga bulan saya tinggal di Pontianak, kota yang biasa orang sebut dengan Kota Katulistiwa. Catatan ini mencoba merangkum hal-hal yang terjadi dalam tiga bulan pertama dari perjalanan saya di bumi Pontianak ini, yang entah akan berlangsung untuk berapa lama. Kejadian-kejadian yang terekam dan teringat saya coba tulis secara acak, mengingat kemampuan daya ingat yang mulai turun dari waktu ke waktu.

The world is flat
Ketika terbang permata kalinya menuju ke Pontianak, saya menghabiskan waktu di perjalanan dengan membaca bukunya Thomas L. Friedman, The World Is Flat. Dan begitu, mendarat di Bandara Supadio Pontianak, kemudian menempuh perjalanan ke pusat kota, lebih kurang 10 km dan pada gilirannya muter-muter kota Pontianak, saya menyadari bahwa di bumi Pontianak, bumi benar-benar datar dalam arti sebenarnya. Kontur tanah di Pontianak adalah datar sedatar-datarnya, tak ada tanjakan dan turunan curam. Ntah kalau di luar kota. Yang jelas, kontur model beginian memudahkan para tukang becak....

Tiga dosa besar
Ada guyonan khas yang dilontarkan oleh para sesepuh yang lebih dulu tugas di kota ini. Bahwa kota ini mempunyai tiga dosa besar, yang mudah-mudahan tidak akan saya alami. Tapi rupanya, doa-doa itu doa yang tak makbul karena tidak lama saya datang di kota ini, datang serangan tiga dosa besar secara serempak. Apa tiga dosa besar itu? Pertama, mati listrik. Ini memang penyakit yang menjadi wabah hampir diseluruh pelosok negeri. Bahkan ibukota negarapun kabarnya, saat ini dapat gilirannya! Dosa besar kedua, mati air. Air yang berasa asin itupun, ada saatnya tak mau keluar dari kran... entah untuk alasan apa? Dan, dosa besar ketiga adalah asap! Ya, kabut asap dari pembakaran hutan. Sesak napas dan pedih mata dibuatnya. Pada minggu ketiga keberadaan saya di Pontianak, ketiga dosa besar datang secara bersamaan. Pusing. Makanya buru-buru masukin permohonan cuti lebaran..., padahal puasa baru dapat dua minggu, dan balik ke rumah kumpul keluarga di Jakarta!

Nasi ayam
Ketika mau berangkat, ada teman yang pernah tinggal di Pontianak, jauh-jauh hari mengingatkan agar saya tidak sekali-sekali mencoba makan menu 'nasi ayam' yang ada di pasar. Kenapa? Karena menu tersebut adalah menu nasi ayam berkaki empat! Harom...!

Beda rasa
Satu kesulitan yang saya rasakan, rasa masakan di warung-warung ternyata tak terlalu membangkitkan selera makan. Bahkan untuk masakan padang di warung makan minangpun tak seneak di tempat lain. Itu barangkali yang membuat badan jadi tambah langsing....[he3x]

Diversity in harmony
Sekelompok anak SMA, joget-joget, nyanyi-nyanyi bareng, meriah dan berisik banget! Dilihat dari tampilan fisiknya, kebanyakan dari mereka adalah dari etnis Thiong Hoa, nggak semua memang. Etnis Thiong Hoa, memang cukup dominan di Pontianak. Kalau dilihat dari banyaknya tempat peribadatan mereka, sepertinya mereka ini terdiri dari berbagai macam-macam kepercayaan. Dan, ternyata, sekelompok anak SMA tadi dari sebuah sekolah sawata katholik yang sedang mengikuti sebuah acara antar sekolah. Yang menarik, guru pendamping mereka adalah seorang ibu guru yang memakai busana muslim. Perpaduan yang menarik dan visualisasi dari semangat bhineka tunggal ika. Beginilah seharusnya indonesia....!

Tak Harus Jam 12
Dalam tiga bulan di Pontianak, belum pernah saya bisa ikut shalat jumat tepat waktu. Beberapa kali Jumat malah, nggak sempat dapat dengerin khutbah sama sekali. Di sini, shalat jumat tidak harus dimulai jam 12 siang seperti di Jakarta. Asumsi ini yang membuat saya sering kali telat shalat jumat. Begitu jam 12 kurang dikit sampai di masjid, khutbah sudah habis, dalam beberapa kesempatan, jamaah sudah bubar saat jam 12!

Upin dan Ipin
Anak-anak saya tampaknya begitu menikmati suasana Pontianak. Satu hal yang membuat mereka 'nyaman' adalah dialog-dialog model Upin dan Ipin yang biasa ditonton di layar kaca menjadi begitu dekat, mengingat sebagian besar masyarakat Ponatianak adalah petutur dialek Melayu. Upin dan Ipin menjadi begitu hidup di benak anak-anak.

Shin shang
Ketika cedera kaki saya kambuh, dan selalu kambu hampir setiap Jumat karena harus naik turun tangga tiga lantai setiap hari, satu hal yang diingatkan dokter untuk dihindari, orang-orang di kantor menyarankan saya pergi ke shin shang. Makhluk apa shin shang ini? Ternyata adalah sebutan orang sini untuk shin she, dan ternyata... shin shang yang satu ini cukup handal! hampir tiga minggu dalam perawatannya, cedera berangsur-angsur membaik. Semoga demikian seterusnya. Buat Anda yang mempunyai keluhan di pertulangan, barangkali ini bisa jadi alternatif...[jauh amat yak...] namanya Shin Shang Lim Khun Sheng.

Time goes so slowly
Malam cepat sekali turun di Pontianak karena jam setengah 6 sore, saat pulang kantor suasananya, dalam beberapa bulan ini, sudah gelap sekali. Dan malam-malam jadi terasa amat panjang....

19 tahun pembiaran
Dan... di sini baru saya 'ngeh'... ternyata telah terjadi pembiaran untuk waktu yang sangat lama, 19 tahun... *sigh*

31 Agustus 2009

Mimbar Jumat: Tahu Batas*)


Ini cerita tentang seekor kodok dan anak-anaknya. Keluarga kokdok itu sedang asyik 'ngorek' ketika tiba-tiba datang seekor kerbau dan huup... menginjak seekor anak kodok hingga lenyap terbenam dalam lumpur.

Tak berapa lama, sang induk datang dan menghitung anak-anaknya. Ternyata kurang satu. Dicari tahulah kepada anak-anak kodok yang lain, kemana gerangan sang anak kodok. Anak-anak kodok yang lain cerita kepada sang induk kalau salah satu di antara mereka terinjak hingga terbenam oleh sesuatu yang besar dan hitam. Mereka tak tahu apa gerangan yang membenammatikankan saudaranya itu!

"Besar dan hitam, ibu...", kata salah satu anak kodok kepada induknya. Sang induk menggelembungkan perutnya untuk memastikan, "Sebesar inikah anakku?"

"Bukan ibu, lebih besar lagi", seru anak kodok yang lain. "Sebesar inikah?" tanya sang induk sambil memperbesar perutnya. "Tidak ibu, lebih besar lagi. Sudahlah... ibu tidak akan bisa sebesar benda itu!" seru anak kodok yang lain.

Tapi, demi menghapus rasa penasarannya, sang induk tetap memperbesar dan memperbesar lagi perutnya. Sang anak, berusaha mencegah sang induk melakukan itu, sambil meyakinkan bahwa sang induk tidak akan bakal mampu memompa perutnya hingga sebesar kerbau. Tapi sang induk tetap bersikeras, sampai akhirnya, "Pyyaarrrr....!" Pecahlah perut si induk.


*Dari Dongeng Pagi-pagi Bersama Poetri dan Rafiq di 89,6FM, 070809
gambar diambil dari sini

17 Agustus 2009

Mimbar Jumat: 64 Tahun Indonesiaku, hari-hari yang mencerahkan

Seroang laki-laki tergopoh-gopoh kepanikan ketika datang mengetuk pintu pagar rumah kami. Hari ini, 17 Agustus 2009 tepat 64 tahun kemerdekaan Indonesia, jarum jam dinding baru menunjukkan angka 8. Pagi yang cerah, untuk Indonesia yang sedang berulang tahun. Tapi tentu tidak cerah bagi laki-laki usia 30-an itu. Ya. Malamnya, istrinya keguguran yang tengah hamil 6 bulan keguguran dan harus dibawa ke rumah sakit. Kepanikan menyergap tatkala ketika hendak membawa pulang sang istri, diminta untuk menyediakann sejumlah uang, jumlah yang mungkin tak pernah berani dia bayangkan bagaimana rasanya memiliki uang sebanyak itu. Maka, ketika permintaan tolong itu begitu saja meluncur dari lelaki itu, barangkali itu adalah langkah terakhir yang dia bisa lakukan. Dan rasanya, akan sangat berdosa sekali kalau tak mengulurkan sedikit bantuan. Mungkin ini cara Tuhan menguji kadar keimanan. Pertanyaannya kemudian, benarkah kita sebagai bangsa telah benar-benar merdeka?! Barangkali, inilah dua sisi wajah Indoensia kita, merdeka tapi tidak merdeka! Pencerahan pertama.

Pencerahan kedua, ketika hendak berangkat ke tempat tugas baru di Borneo, teman-teman di Pelayanan LTO1 memberikan sebuah bingkisan. Ternyata dua buah buku. Andy's Corner-nya Andy F. Noya, hostnya Kick Andy dan The World Is Flat-nya, Thomas L. Friedman. Woww!!! Reading assignment yang cukup berat. Tapi menarik dan satu buku sudah selesai, satunya lagi on progress! Buku Andy's Corner berisi pengalaman batin penulisnya yang cukup inspiratif. Friedman, sama seperti buku-buku sebelumnya cerita bagaimana dunia berubah secara drastis seiring dengan peristiwa globalisasi dan penemuan di bidang teknologi informasi yang terjadi dari era 80-an hingga 90-an. Demikian drastisnya, seolah-olah bumi tak lagi bundar seperti kata para ilmuwan. Buat teman-teman di Palayanan terima kasih banyak atas pencerahannya. That's why I'm so glad having you guys as my men!!!

Pencerahan ketiga, pada Kamis 13 Agustus saya berada di satu forum yang melegakan. Melihat teman sekolah dulu yang telah berhasil mengelola satu kantor dengan begitu baik, yang bisa membangkitkan semangat seluruh punggawa kantor untuk bekinerja dengan baik. Juga, ada kelas tentang komunikasi yang menyadarkan saya akan satu hal. Bahwa kita dengan target-target kita, cita-cita kita sebenarnya begitu dekat asal kita punya keyakinan tinggi bahwa kita akan mampu meraihnya. Ini juga mungkin yang terjadi pada diri saya.

Sedikit cerita ke masa lalu, pada saat sekolah dulu, ada seorang dosen yang meminta kami para mahasiswanya untuk membuat rencana karir. Anehnya. subhanallah, semua rencana yang saya tulis dalam penugasan itu, menjadi kenyataanm paling tidak sampai dengan hari ini. Bahkan sampai dengan detil time tablenya, nyaris sama persis! Inikah rahasia keyakinan itu? Wallahu alam.

PS: karena alasan teknis, Mimbar Jumat ini baru terbit hari Senin.
Gambar diambil dari sini

31 Juli 2009

Mimbar Jumat: Pak Polisi Baik Hati, Majulah POLRI!*

Pengalaman masa kecil seseorang kadang mempunyai efek jangka panjang. Bahkan bisa sangat panjang, sampai ketika seseorang tersebut sudah menjadi orang tua. Ini juga menjadi pengalaman pribadi saya. Ketika kecil, saya takut sekali kalau berhadapan dengan aparat berseragam, karena punya seorang tetangga yang anggota salah satu kesatuan, yang tampak luar --juga dalamannya-- sangat galak! Selain itu, setiap lewat depan 'tangsi', ini sebutan orang tua saya untuk markas Kepolisian Sektor (polsek) kakak saya sering kali berkata, 'Diam, ada polisi!" Dua pengalaman ini membuat saya kadang deg-degan setiap kali di jalan diberhentikan oleh Pak Polisi. Tapi tiga pengalaman saya berinteraksi dengan Pak Polisi dalam dua bulan terkahir, ternyata mampu mengikis trauma saya itu.

***

Akhir Mei 2009. Waktu masih menunjukkan pukul 09.00 waktu Tokyo. Saya pada hari itu kebetulan lagi ada tugas ke sana. Saya mencoba telepon ke rumah menanyakan keadaan anak saya, Maliq, karena sehari sebelumnya ketika telepon ke rumah ada kabar si buyung sedang sakit. Tapi, jawaban dari seberang telepon sungguh menganggetkan, "Pak, rumah kita dibobol mali!" Demikian, pekik isteri saya. "Waauw...!" Jawab saya. "Sebentar Pak, ini saya lagi mau ke kantor polisi", sambung isteri saya. "Nggak usahlah...", cegah saya. Pengalaman buruk saya ketika dulu kemalingan membuat saya berusaha mencegah beurusan dengan aparat. Ya sudahlah, ikhlaskan saja.... Tapi isteri saya tetap melapor ke kantor polisi. Dan sampai sekarang, nggak ketahuan gimana kasus pencurian itu ditangani. "Seperti biasanya. Sudahlah!" pikir saya.

Dua hari kemudian, di Tokyo, ada rombongan kepolisian dari Polres Bekasi datang ke asrama di mana saya menginap. Mereka serombongan polisi yang akan studi banding tentang pengembangan 'community police', semacam polisi lebih merakyat gitulah kira-kira. Luar biasa, mudah2an berhasil, kita doakan. Dari obrolan dengan mereka ada beberapa hal baru yang saya ketahui tentang dunia kepolisian. Dari sini, saya menjadi lebih paham, mengapa kadang kelihatan begitu sulit bagi pak polisi untuk mengungkap tindak kejahatan. Satu lagi adalah bagaimana prestasi pak polisi kita begitu diapresiasi oleh kalangan polisi di negara-negara lain karena keberhasilan mengungkap kasus-kasus terorisme. Hal yang mendapat konfirmasi dari mantan Komandan Densus 88 waktu diwawancara Karni Ilyas di TVOne. Satu hal lagi, saya dapat begitu akrab dengan beberapa polisi itu. Tak ada lagi trauma masa kecil. Barangkali karena mereka tidak berseragam,... beberapa Polwan pulak!

Kamis 30 Juli 2009. Waktu menunjukkan pukul 19.40. Kondisi jalan tol dari Semanggi ke arah Tomang macet berat di sekitaran Slipi. Karena berencana keluar di pintu tol Slipi, maka sehabis jembatan layang Slipi, saya berinisiatif mengambil bahu jalan. Toh, sudah dekat pintu tol. Tapi, ternyata di ujung sana sudah menunggu beberapa Pak Polisi. Dan salah satu petugas tersebut memberhentikan laju mobil saya yang telah balik lagi ke lajur paling kiri. Seorang petugas, menyapa, kemudian sesuai dengan protap, menanyakan STNK dan SIM. Meneliti sebentar dan kemudian bertanya kepada saya, "Mau dibantu atau ditilang?" tanya pak polisi.

"Tilang pak", jawab saya cepat. Mendengar jawaban saya pak polisi tertawa sambil berkata, "Kenapa kok milih yang susah, mau dibantu atau ditilang?" ulang pak polisi.

Jujur, saya jadi agak kikuk. "Dibantu macam mana ini pak polisi", tanya saya dalam hati. Lalu, saya bilang, "Kalau memang salah ya tilang aja pak". Lagi-lagi pak polisi itu ketawa, "Wong ditawari yang mudah kok malah pilih yang susah. Kalau Anda bilang dibantu ini sampeyan saya lepas, jalan lagi", lanjut pak polisi setelah memberikan beberapa nasihat singkat tentang kesalahan dan permintaan agar tidak mengulanginya. Akhirnya, saya katakan, "Tolong dibantu Pak".

"Nah, gitu dong," jawab pak polisi. Sambil mengatakan bahwa jangan serta merta berpikiran kalau 'dibantu' itu berarti minta sesuatu. Karena menurut Pak Polisi kita ini, beliau memang tidak berniat untuk itu dan hanya berniat mengingatkan kesalahan saya dan meminta saya untuk tidak mengulanginya lagi. Dan, saya pun berjanji demikian halnya. Kemudian saya tanyakan nama dan unit dari Pak Polisi itu, kenalan ngobrol sedikit, salaman, mengucapkan salam dan pamitan untuk melanjutkan perjalanan.

***

Di sepanjang sisa perjalanan ke rumah, saya begitu gembira. Cerita tentang ide 'community police' dan reformasi kepolisian yang saya dengar dari rombongan Polres Bekasi sepertinya bukan hanya dongeng di negeri mimpi. Paling tidak bagi Pak Polisi yang memberhentikan saya tadi. Mudah-mudahan semua polisi kita akan seperti Pak Polisi Kita tadi itu. Semoga. Bravo Kepolisian RI.... maju terus!

Salam untuk Pak Kusdiharto anggota Patroli Tol Dalam Kota Mobil Patroli #01-951

29 Juni 2009

Antara Coppa Indonesia dan Confederation Cup

Minggu, 28 Juni 2009. Sungguh hari yang menyajikan dinamika perasaan bagi saya. Di pagi hari, saya diliputi kelegaan karena dua anak saya dinyatakan naik kelas sehari sebelumnya. Lega menengok pengalaman lima bulan sebelumnya, kedua anak saya lagi doyan main dan malas belajar. Siangnya, rasa sumpek mulai datang ketika anak-anak mulai cerewet menagih janji saya untuk bawa mereka main layang-layang ke monas. Saya, dihinggapi rasa malas keluar rumah luar biasa siang itu. Tapi, akhirnya jam 14.30 siang pergi juga ke monas dengan perubahan rencana, lihat karnaval ulang tahun Jakarta. Kegairahan pergi ramai-ramai bersama keluarga naik busway, ternyata memberikan kenikmatan tersendiri. Sesampainya di monas pukul 15.30, suasana begitu hirukpikuk. Ribuan manusia, tumpek blek di sekitaran monas melihat pawai dimulai. Termasuk diantaranya saya, yang akhirnya merasa keletihan yang luar biasa setelah hampir 2 jam berdiri menggendong anak ketiga saya! Balik ke rumah, ngidupin TV, lihat pertandingan bola, kebetulan ada dua siaran langsung pertandingan bola: final Coppa Indonesia di Palembang dan perebutan tempat ketiga Confederation Cup di Rustenburg, Afrika Selatan. Dua pertandingan di dua belahan bumi yang berbeda dengan situasi yang serupa, tapi cara penyelesaian yang sama sekali berbeda, yang akhirnya menimbulkan kegelian pada diri saya.

Pertandingan antara Siriwijaya FC vs. Persipura sebenarnya berlangusng menarik. Serangan bergantian dilakukan oleh kedua tim meski sampai berakhirnya babak pertama kedudukan imbang 0-0. Drama terjadi ketika pertandingan memasuki pertengahan babak kedua, ketika Persipura sudah dalam posisi ketinggalan 1-0. Waktu itu, Boaz yang tengah menguasai bola di sisi kanan gawang dalam kotak penalti Sriwijaya FC dan terjatuh ketika penjaga gawang Sriwijaya Ferry melakukan terkaman ke arah kaki Boaz. Bola muntah dan jatuh ke kaki pemain Persipura lainnya, lalu... shoott! Bola dengan deras menuju ke arah tiang dekat gawang Ferry. Beruntung, ada seorang pemain Sriwijaya FC yang berhasil menghalau bola. Di sini masalahnya, pemain Sriwijaya FC menghalau bola dengan tangan kanannya (entah sengaja atau tidak), tapi wasit tidak menyatakan hal itu sebagai hand's ball. Karuan saja, pemain Persipura melakukan protes. Tak ketinggalan para pengurus Perpsiura yang berdiri di bench, di pinggir lapangan. Sampai-sampai mereka memutuskan untuk walk out dan tidak mau meneruskan pertandingan..., too bad!

Di Rustenburg, di waktu yang hampir bersamaan, situasi serupa juga terjadi. Spanyol, sang juara Eropa, diluar dugaan, mengalami kesulitan yang amat sangat, ketika berhadapan dengan tuan rumah Afrika Selatan, tim yang pada babak penyisihan berhasil mereka tekuk 0-2. Alih-alih, Spanyol ketinggalam setelah pada menit ke-75 Mphesala (bener gak nulisnya yak) menggetarkan gawang Casillas. Dalam ketertinggalan Spanyo berusaha keras untuk menyamakan kedudukan, sampailah kejadian di menit awal 80-an, ketika LLorente menerima umpan lambung dari Arbeloa. Sundulan Llorente, berhasil dihalau oleh seorang pemain Afrika Selatan, tapi kali ini juga dengan tangan kiri sang pemain tuan rumah. Kontan, para pemain Spanyol melakukan protes, demikian juga halnya para crew di bench, mengharapkan wasit memberikan penalti kepada Spanyol. Tapi apa lacur, wasit yang berada tak jauh dari tempat kejadian ternyata tak melihat itu sebagai hand's ball dan pertandingan tetap dilanjutkan. Sampai akhir babak perpanjangan waktu Spanyol akhirnya unggul 2-3.

Nah, jadi pertanyaan saya, mungkin juga bagi jutaan pemirsa dan penggemar bola. Dalam menghadapi situasi yang sama mengapa sikap anggota klub Persipura dan Timnas Spanyol begitu berbeda?

Jawabannya, seperti seorang teman pernah kirim imel, bahwa dalam menghadapi satu masalah, pertanyaan pertama yang muncul dibenak kita akan menentukan arah penyelesaiannya. Pertanyaan, mengapa masalah ini bisa terjadi menimpa diri kita, misalnya, akan membawa kita untuk lebih banyak mencari-cari kesalahan orang lain. Tapi, pertanyaan, seperti bagaimana mengatasi permasalahan ini, akan cenderung lebih konstruktif dalam membantu kita mencari bentuk-bentuk solusi. Mungkin, ketika melihat kenyataan bahwa mereka dirugikan oleh keputusan wasit, kubu Persipura bertanya-tanya, apakah wasiti bertindak tidak adil karena pertandingan berlangsung di kandang Sriwijaya FC? Dengan pertanyaan model begini, tak pelak, dengan dibumbui emosi yang meninggi, muncullah keputusan untuk walk out. Lain soal, kalau yang muncul di benak Persipura, bagaimana caranya mengatasi ketertinggalan 0-1, pola bermain kayak mana yang musti dimainkan, teknik sepak bola macam apa yang perlu dilakukan untuk meredam perlawanan Sriwijaya FC? Dan mungkin, pertanyaan-pertanyaan inilah yang muncul di benak anggota Timnas Spanyol ketika dalam posisi tertinggal 1-0 dari tuan rumah dan keuntungan tidak diberikan oleh wasit ketika ada pemain Afrika Selatan yang menyentuh bola dengan tangannya di dalam kotak penalti. Dan mereka, lebih memutuskan untuk meneruskan bermain dengan baik dan kahirnya menang!

Sungguh, pertanyaan pertama yang muncul di benak kita, akan menentukan arah solusi yang akan kita mainkan dalam menghadapi masalah. Dunia sepak bola, setidaknya di pertandingan Confederation Cup, telah memberikan contoh yang baik. Bagaimana kita?