15 Agustus 2013
#17an Mengenal Sejarah Pemungutan Pajak Di Indonesia (Bag. 2 dari 3 tulisan)
13 Agustus 2013
#17an Mengenal Sejarah Pemungutan Pajak Di Indonesia (Bag. 1 dari 3 tulisan)
12 Oktober 2012
#17an Pajak dan Zakat 2: memaknai pajak
Tertarik dengan topik yang disampaikan Kiai Masdar, namun tak terlalu jelas mengikuti waktu di seminar, iseng saya mencoba googling di Internet. Dengan bantuan Google ketahuan bahwasannya topik pajak dan zakat seperti disampaikan oleh Pak Kiai ini adalah topik lama. Bahkan Pak Kiai Masdar pernah menulis satu buku tentang itu. Tahun 1991! Agar lebih paham apa yang dimaksud Kaia masdar, saya coba untuk mendapatkan buku. Dapat, beli lewat toko online. Di dalam buku yang diberi Kata Pengantar oleh Gus Dur ini, dijelaskan tentang bagaimana masyarakat (penguasa dan rakyat) memaknai pajak. Makna yang diberikan pada pajak yang dibayar rakyat akan menentukan bagaimana pola hubungan antara penguasa dan rakyatnya.
Pertama, pajak dimaknai sebagai upeti. karena dianggap atau dimaknai sebagai upeti, uang pajak diklaim sebagai milik penguasa selaku pemungut upeti. Penggunaan uang upeti yang ditarik dari rakyat sepenuhnya tergantung pada kemauan penguasa, yang menganggap dirinya sebagai wakil Tuhan di dunia. Hatta, kalau sebagian besar, atau bahkan seluruh uang pajak dihabiskan untuk memuaskan kepentingan penguasa, termauk sanak kerabatnya, rakyat tidak punya hak untuk protes. Paling-paling hanya sebatas mengeluh dalam hati. Beruntung, kalau penguasa yang menjalankan pemerintahan memberi perhatian pada rakyatnya, yakni mengalokasikan uang pajak untuk kepentingan rakyatnya. Penguasa atau negara atau masyarakat yang memaknai pajak dengan konsep seperti ini adalah masayarakat feodal.
Kedua, pajak dimaknai sebagai imbal jasa. berbeda dengan konsep yang pertama, dalam konsep ini mulai ada imbal jasa atas pajak yang dibayar oleh rakyat. Rakyat yang membayar pajak akan memperoleh sesuatu yang diberikan oleh penguasa karena adanya tuntutan dari kelompok masyarakat pembayar pajak. Kesadaran akan manfaat apa yang diperoleh dari pajak yang dibayar mulai tumbuh di kalangan pembayar pajak, yang adalah kelompok masyarakat kaya. Penguasa, untuk menghindari benturan dengan kelompk kaya ini, membuat kesepakatan dengan pambayar pajak yaitu memberikan konsesi-konsesi kepada para orang kaya. Inilah yang disebut dengan konsep negara atau masyarakat kapitalis.
Ketiga, pajak dimaknai sebagai zakat. Yaitu, pajak dikelola dengan semangat dan etika sebagaimana dulu rasulullah dan khalifah mengelola zakat. Zakat dikelola sebagai sarana untuk mewujudkan masyarakat yang berkeadilan sosial.Untuk mewujudkan ini, menurut Kiai Masdar, perlu adanya revolusi dalam memaknai pajak, yakni: (1) bahwa pada dasarnya yang berhak memungut pajak adalah Allah, Sang Pemberi rizki melalui kekayaan alam semesta maupun kreativitas yang dianugerahkan kepada manusia. Jadi pemungutan pajak harus dimaknai sebagai pelaksanaan perintah Tuhan dalam menegakkan keadilan bagi sesama manusia; (2) bahwa mereka yang dianggap mampu, wajib membayar pajak (sebagai sedekah- zakat) dengan penuh kejujuran dan keikhlasan untuk memenuhi tanggung jawab sosial mereka kepada sesama, sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur atas rizki yang dianugrahkan Allah kepadanya; (3) bahwa terhadap uang pajak, posisi Pemerintah bukan sebagai pemilik melainkan hanya sebagai Amil (pengurus dan pelaksana amanat) untuk memungut dan mengelola sesuai dengan prinsip yang digariskan Tuhan, yaitu segala macam pajak yang dipungutnya adalah untuk kepentingan segenap rakyat terutama yang lemah dan untuk mewujudkan kemaslahatan bersama (keadilan sosial) apa pun agama dan keyakinannya; (4) sebagai Amil, Pemerintah harus dapat mempertanggungjawabkan setiap rupiah dari uang Pajak kepada segenap rakyat di dunia, dan kepada Tuhan di akhirat kelak.
Kira-kira, termasuk di manakah konsep atau makna yang kita berikan pada sistim perpajakan kita? Jawabnya terletak pada apakah hasil pungutan pajak yang kita kumpulkan telah dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat? Kalau belum, barangkali kita masih memaknai pajak sebagai upeti, terlepas betapa modernnya administrasi pajak kita, baik dari sisi organisasi, pengelolaan SDM atau teknologi yang kita gunakan.
Lalu, bagaimanakah negara yang tidak mengenakan pajak pada rakyatnya? Menurut Kiai Masdar, ini tipe keempat, negara tanpa pajak. Diberikan sedikit contoh negara yang bisa hidup tanpa bergantung pada pajak rakyatnya seperti negera komunis ortodok dan negara kerajaan absolut dimana sumber kakayaannya yang utama dianggap sebagai milik sang raja dan keluarganya. Namun sejarah membuktikan, negara komunis ortodoks sudah gulung tikar (dan menyusul kemudian kerajaan absolut?). Kenapa demikian? Negara tanpa pajak menyalahi fitrah-nya karena negara "jenis ini tidak menganggap rakyat sebagai stakeholder dalam penentuan kebijakan-kebijakannya. Alasannya sederhana, rakyat tidak memberi apa-apa untuk jalannya roda kekuasaan dan pemerintahan. Rakyat hanyalah orang-orang yang numpang hidup yang musti tunduk pada penguasa", sebuah konsep yang ingin dikoreksi dengan ajaran zakat sebagai landasan spiritual dan moral pemungutan pajak. Melalui pajak (zakat) rakyat dapat meneguhkan hak-haknya terhadap penguasa, sehingga penguasa menjalankan kekuasaannya dengan mendengar aspirasi dan untuk kepentingan rakyat. Sehingga dapat dikatakan berpajak (berzakat) sebenarnya merupakan inti dari hidup bernegara.
Allahu a'lam.
14 Juli 2012
The needs can be met, the greed never
Diambil dari 'The Kite Runner', sebuah novel karya Khaled Hosseini.
09 September 2011
Haryo Penangsang
'Sejarah ditulis oleh para pemenang' – Alex Haley, penulis AS 1921-1992
Selama Ramadhan kemarin, salah satu kegiatan 'ngaji' yang saya lakukan selepas subuh adalah membaca novel. Kali ini, yang menjadi bahan 'ngaji' saya adalah sebuah novel berjudul 'Penangsang-Tembang Rindu Dendam'. Novel ini sendiri sudah saya beli berbulan silam, namun baru sempat baca belakangan ini. Saya tertarik beli dan baca novel ini, karena kisah tentang Haryo Penangsang, seorang adipati dari sebuah wilayah bernama Jipang yang merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kesultanan Demak Bintoro pada abad 16. Sebuah wilayah yang kira-kira meliputi area dari Cepu sampai Rembang.
Berdasarkan pengalaman selama ini, kisah Haryo Penangsang selalu digambarkan sebagai seorang adipati yang sakti madraguna sekaligus haus kekuasaan dan temperamental. Semua karakteristik kepemimpinan yang jelek ada di sana. Terbayang bagaimana pemain memerankan Haryo Penangsang dalam pertunjukan ketoprak di TVRI Jogjakarta tempo dulu. Adegan murkanya Haryo Penangsang setelah mengetahui tukang rawat kudanya dipotong daun telinganya oleh pihak Pajang dan membaca tantangan dari Mas Kerebet untuk melakukan duel. Gambaran yang ditafsirkan dari kisah yang terangkum dalam Babad Tanah Jawi.
Namun, di dalam novel yang ditulis oleh Nassirun ini, penulis hendak melakukan penafisarn yang bisa jadi beda sama sekali dengan penafsiran yang selama ini ada dan jamak dipahami oleh masyarakat (Jawa). Berbeda dengan gambaran karakter Haryo Penangsang yang seperti saya biasa lihat dalam adegan ketoprak, Haryo Penangsang dalam novel ini digambarkan berbeda sama sekali. Haryo Penangsang yang merupakan anak dari Pangeran Sekar (anak laki2 dari isteri ketiga Raden Patah) digambarkan sebagai seorang adipati yang-merupakan anak asuh favorit Sunan Kudus- tidak saja sakti dan paham betul soal olah keprajuritan tetapi juga jago dalam tata pemerintahan dan ilmu agama. Juga digambarkan bagaimana tidak berminatnya penangsang terhadap kekuasaaan, khusunya yang menyangkut menjadi Sultan Demak, meski segala persyaratan ada padanya.
Novel ini juga menguraikan kematian Pangeran Sekar atau Raden Kikin (meninggal di atas jembatan Sungai Tuntang setelah ditusuk dengan keris Setan Kober oleh suruhan Bagus Mukmin, anak Sultan Trenggono-karenanya disebut pangeran Sekar Sedo-meninggal- Lepen-di sungai). Kematian yang menjadi buah kesalahpahaman. Karena kedatangan Pangeran Sekar ke Demak pada hari itu adalah untuk menyatakan penyesalan dan permohonan maaf atas kemarahannya karena diangkatnya Sultan Trenggono sebagai pengganti Pati Unus. Sebuah kedatangan yang disalahpahami sebagai langkah untuk melakukan pembunuhan terhadap Sultan trenggono sebagaimana terucap oleh Pengran Sekar beberapa hari sebelumnya. Yang terakhir ini juga merupakan tafsir yang ada di Babad Tanah Jawi. Sebuah kematian yang dua puluh lima tahun kemudian menjadi pangkal soal pertikaian antara keturunanSultan Trenggono (termasuk mas Kerebet a.k.a Joko Tingkir yang menjadi menantu Trenggono) dengan keturunan Pangeran Sekar (salah satunya Haryo Penangsang).
Sebuah pertikaian yang merupakan kelanjutan dendam lama antara pendukung Majapahit dengan kerajaan baru: Demak. Pertikaian panjang soal perebutan kekuasaan di Tanah Jawa. Pertikaian yang juga timbul karena perbedaan pendapat antara anggota waliyyul amri (Wali 9) utamanya antara Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus tentang bagaimana menguatkan Kesultanan Demak dan menyebarkan agama islam di pedalaman Jawa. Pertikaian yang pada akhirnya dimenangi oleh Trah Trenggono lewat Mas Kerebet, yang pada akhirnya menjadi cikal bakal kerajaan Mataran Baru (Jogja-Solo).
Cerita-cerita versi 'Babad Tanah Jawi' yang beredar selama ini, paling tidak yang saya ketahui- pada akhirnya memang menggambarkan pihak Mas Kerebet sebagai 'good guy' nya dan Penangsang menjadi 'bad guy'-nya. Barangkali karena memang sejarah selalu ditulis oleh sang pemenang. Persoalannya, haruskah sejarah yang ditulis sang pemenang tadi harus diterima sebagai kebenaran mutlak. Tak tahu juga. Mungkin tergantung kejujuran Si Pemenang. Allahu a'lam bissawab.
28 Juli 2010
Bhineka Tunggal Ika dari Negeri Andalusia
Pada perayaan keliling kota Madrid, kota yang menjadi ibukota Spanyol sekaligus kelompok etnis Castillia, para pemain dari berbagai kelompok etnis mengibarkan bendera dan berbagai atribut etnis mereka masing-masing. Di pinggir jalan, jutaan rakyat Spanyol menyambut mereka dengan kibaran bendera nasional Spanyol. Dan, Raja Juan Carlos serta PM Jose Luis Rodriguez Zapatero tampak membiarkan saja model ‘pembangkangan’ yang dilakukan oleh para pemain Timnas Spanyol itu. Memang, kali ini, Timnas Spanyol diisi dengan pemain-pemain dari semua kelompok etnis yang ada di Negeri Spanyol itu. Total jenderal, ada tujuh pemain dari etnis Catalan, enam dari Castilia, tiga dari Basque, tiga dari Andalusia, dua dari Kepulauan Canari dan seorang pemain masing-masing dari kelompok etnis Asturia dan Valencia yang direkrut oleh pelatih Vicente Del Bosque, seorang Castilia dan eks pemain dan pelatih Real Madrid. "Skuad Spanyol terdiri atas pemain yang berasal dari semua wilayah, namun kami adalah satu kesatuan," demikian ungkap Del Bosque. Kebijakan serupa juga ditempuh oleh pelatih terdahulu yang membawa Spanyol memenangi Piala Eropa, Luis Aragones. Dan asal tahu saja, kebijakan demikian tidak dilakukan oleh pelatih-pelatih Timna Sapnyol sebelumnya.
Para pelatih Spanyol terdahulu, banyak yang mengeksploitasi rasa kesukuan ini ke dalam rejim kepelatihannya; lebih memilih pemain-pemain dari kelangan etnis yang sama dengan etnis sang pelatih. Ini pula yang ditengarai menjadi penyebab mengapa Spanyol lebih banyak mengalami kegagalan dalam kompetsisi internasional, seperti Piala Dunia dan Piala Eropa, meski banyak pemain top dan klub dengan prestasi luar biasa. Javier Clemente, misalnya, pelatih Timnas Spanyol saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 1982, lebih banyak menggunakan pemain dari kelompok etnis Basque, kelompok dia berasal. Kebijakan dengan rasa dasar rasa kesukuan yang demikian sudah pasti berdampak jelek bagi kekompakan tim di tempat latihan dan di lapangan dan tentunya prestasi. Pemain Madrid, misalnya, akan mencemooh pemain Barcelona yang membuat kesalahan dan berlaku juga sebaliknya. Bahkan bintang sekelas Raul Gonzalespun, Castilia, dikabarkan tidak terlepas dari pengaruh buruk fanatisme kesukuan ini ketika bermain di Timnas Spanyol. Beberapa pemain bintang, bahkan menolak ikut gabung timnas karena alasan kesukuan ini: mereka enggan membela Spanyol!
Menarik untuk membaca sebentar sejarah Spanyol, hingga menimbulkan fanatisme kesukuan yang demikian kental ini. Syahdan, berawal dari perang saudara di Spanyol yang terjadi di tahun 1936-1939, antara kelompok republikan dan nasionalis, yang dimenangi oleh kelompok nasionalis pimpinan Jenderal Franco. Franco kemudian menjadikan Castilia dengan Madrid sebagai pusat gerakan dan menjadikan Bahasa Castilia menjadi bahasa nasional dan dikenal sebagai bahasa Spanyol. Orang-orang catalan, kemudian menjadikan Klub Barcelona sebagai simbol perlawanan terhadap Franco yang adalah suporter fanatik Real Madrid. Dari sini kita paham, mengapa duel el classico antara Madrid lawan Barcelona menjadi pertandingan yang begitu panas dan klasik. Atau, Pep Guardiola, eks pemain dan sekarang pelatih Barcelona yang asli Catalan, lebih sering menggunakan Bahasa Catalan dan menolak bicara dalam Bahasa Spanyol saat melakukan konferensi pers tiap usai pertandingan Barcelona. Atau, kenapa klub macam Real Sociedad dan Athletico Bilbao mengharuskan pemainnya berdarah Basque!
Sekat-sekat kesukuan telah merusak prestasi Timnas Sepakbola ketika fanatisme-nya masuk ke ruang ganti pemain. Karena, bagaimanapun sepak bola merupakan permainan kelompok, yang menjadikan kekompakan antara pemainnya dan setiap unsur yang terlibat di dalamnya sebagai prasyarat utama dalam meraih prestasi. Luis Aragones dan Del Bosque telah memberikan pelajaran dan bukti tentang pentingnya kekompakan di tengah sekat-sekat perbedaan yang kuat ini: bhineka tunggal ika yang dipraktikan dan bukan sekedar slogan. Gol kemenangan Spanyol atas Belanda dicetak oleh Iniesta, pemain dari etnis Castilia yang sejak kecil direkrut oleh raksasa Catalan, Barcelona, setelah menerima assist dari Fabregas, produk Barcelona yang lain. Bagaimana dengan kita, pemilik slogan bhineka tunggal ika? Tampaknya kita perlu belajar dari Spanyol, negerinya Ibnu Rusyd (Averose) dan Ibnu Sina (Avecina), negeri dari mana cahaya bagi Eropa berasal, Andalusia!
21 Juli 2010
Gagal Ginjal
Ginjal merupakan organ tubuh yang berfungsi untuk menyaring dan membuang cairan sampah atau sisa metabolisme dari dalam tubuh. Setelah sel-sel tubuh mengolah makanan menjadi energi terbentuklah sampah sisa metabolisme yang harus dibuang keluar dari tubuh. Salah satu bentuk sisa metablosime yang dibuang dari dalam tubuh adalah urine setelah sebelumnya diproses di dalam ginjal.
Ginjal sendiri, bersama-sama dengan kandung kemih (ureter) dan saluran kemih (uretra) merupakan bagian dari sistem kemih yang ada di dalam tubuh kita. Ada dua ginjal berbentuk seperti kacang polong dengan ukuran lebih kurang panjang 11 cm dan lebar 6 cm serta berat sekitar 150 gram. Fungsi utama ginjal adalah untuk menyaring zat-zat buangan yang dibawa darah sehingga darah akan terjaga tetap bersih dan menghindarkan tubuh dari keracunan sisa-sisa metabolisme. Setiap hari ginjal memroses sekitar 200 liter darah untuk disaring dan menghasilkan sekitar 2 liter cairan limbah. cairan ini akan dialirkan ke dalam pusat ginjal dimana zat-zat kimia yang dibutuhkan oleh tubuh akan diserap kembali dan sisanya akan dibuang secara berkala melalui urine pada saat buang air kecil.
Ginjal juga berfungsi untuk mempertahankan kadar cairan dalam tubuh, mengatur tekanan darah, mengatur kadar kalsium pada tulang dan mengatur produksi sel darah baru. Ada tiga zat utama yang dihasilkan oleh ginjal pada saat proses penyaringan darah, yaitu:
- eritropoitin, hormon yang berfungsi untuk mematangkan sel darah merah di sumsum tulang, tempat pembuatan darah.
- renin, enzim yang berfungsi mengatur tekanan darah sehingga darah dapat mengalir secara lancar.
- kalsitrol, bentuk vitamin D yang mengatur keseimbangan kadar kalsium yang terlibat dalam mengatur tekanan darah.
Apa yang terjadi kalau terjadi gangguan pada ginjal?
Gangguan fungsi ginjal biasa disebut gagal ginjal yaitu kondisi dimana ginjal tidak berfungsi 100%. Secara umum, ada dua jenis gagal ginjal yaitu (1) gagal ginjal akut dan (2) gagal ginjal kronis. Gagal ginjal akut (GGA) sifatnya mendadak dan kemungkinan besar bisa disembuhkan setelah menjalani beberapa kali terapi cuci darah. GGA bisa timbul karena dehidrasi (kurang minum), ada gangguan batu ginjal, atau karena ada benturan. Sementara itu gagal ginjal kronis (GGK) adalah gangguan fungsi ginjal yang sifatnya menahun. Penurunan fungsi ginjal bersifat sedikit demi sedikit tapi konsiten di waktu yang lama. Secara teoritis, GGK tidak dapat disembuhkan. Terapi yang dapat dilakukan adalah dengan cangkok ginjal atau cuci darah (hemodialisys). Baik GGA maupun GGK dapat menimbulkan gangguan komplikasi pada tubuh si penderita.
Gangguan fungsi ginjal akan berakibat pada terganggunya produksi ketiga zat penting tersebut di atas; eritropoitin, renin dan kalsitrol. Efeknya penderita gangguan ginjal akan mengalami komplikasi seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, anemia, dan osteoporosis.
Fungsi ginjal biasa diukur dengan kemampuan ginjal membuang cairan berlebih (urine), atau biasa disebut dengan cretinine clearance rate, C_crea. C_crea dihtung dengan formula;
C_crea= {[(140 - umur) X BB]/(72 X K_crea)} X FK dengan satuan ml/menit.
Kadar creatinine, K_crea bisa diketahui melalui uji lab dari darah kita. Normalnya, K_crea untuk pria adalah 1,3-1,9 dan wanita 1-1,9. Selain itu, uji fungsi ginjal biasanya juga melihat kadar urea (sisa protein) dalam darah. Tingginya kadar urea menandakan kurangnya fungsi penyaringan oleh ginjal sehingga terjadi penumpukan sisa proetin dalam darah. FK, faktor koreksi gender, 1 untuk pria dan 0,85 untuk wanita. Jadi C_crea untuk seorang pria umur 40 tahun dengan berat badan 55 kg dan kadar creatinine 1,2 adalah (100X55)/(72X1,2) X 1 atau 54,1 ml/menit.
Dalam kondisi normal, tingkat C_crea adalah di atas 90. C_crea antara 50-89 mengindikasikan adanya gangguan ginjal ringan. C_crea 30-59 menandakan gangguan ginjal sedang dan C_crea di bawah 30 menandakan terjadinya gangguan fungsi ginjal berat.
Apa gejalanya seseorang mengalami gangguan ginjal? Secara umum gangguan ginjal kronis dalam tahap ringan tidak menimbulkan tanda-tanda yang nyata bagi penderitanya. Tetapi, apabila Anda pengidap tekanan darah tinggi atau diabetes, Anda layak untuk berhati-hati dan waspada pada ginjal Anda. Untuk gangguan ginjal tahap sedang dan berat beberapa gejala akan dihadapi penderita di antaranya; perubahan frekuensi kencing-- lebih sering di malam hari, pembengkakan pada bagian pergelangan kaki, kram otot pada malam hari, lemah dan lesu serta kurang berenergi, nafsu makan turun, mual, dan muntah, sulit tidur dan mudah terbangun di tengah malam, bengkak seputar mata dan kulit gatal/kering.
Sehat dan waspadalah!
17 Agustus 2009
Mimbar Jumat: 64 Tahun Indonesiaku, hari-hari yang mencerahkan
Pencerahan kedua, ketika hendak berangkat ke tempat tugas baru di Borneo, teman-teman di Pelayanan LTO1 memberikan sebuah bingkisan. Ternyata dua buah buku. Andy's Corn
er-nya Andy F. Noya, hostnya Kick Andy dan The World Is Flat-nya, Thomas L. Friedman. Woww!!! Reading assignment yang cukup berat. Tapi menarik dan satu buku sudah selesai, satunya lagi on progress! Buku Andy's Corner berisi pengalaman batin penulisnya yang cukup inspiratif. Friedman, sama seperti buku-buku sebelumnya cerita bagaimana dunia berubah secara drastis seiring dengan peristiwa globalisasi dan penemuan di bidang teknologi informasi yang terjadi dari era 80-an hingga 90-an. Demikian drastisnya, seolah-olah bumi tak lagi bundar seperti kata para ilmuwan. Buat teman-teman di Palayanan terima kasih banyak atas pencerahannya. That's why I'm so glad having you guys as my men!!!Pencerahan ketiga, pada Kamis 13 Agustus saya berada di satu forum yang melegakan. Melihat teman sekolah dulu yang telah berhasil mengelola satu kantor dengan begitu baik, yang bisa membangkitkan semangat seluruh punggawa kantor untuk bekinerja dengan baik. Juga, ada kelas tentang komunikasi yang menyadarkan saya akan satu hal. Bahwa kita dengan target-target kita, cita-cita kita sebenarnya begitu dekat asal kita punya keyakinan tinggi bahwa kita akan mampu meraihnya. Ini juga mungkin yang terjadi pada diri saya.
Sedikit cerita ke masa lalu, pada saat sekolah dulu, ada seorang dosen yang meminta kami para mahasiswanya untuk membuat rencana karir. Anehnya. subhanallah, semua rencana yang saya tulis dalam penugasan itu, menjadi kenyataanm paling tidak sampai dengan hari ini. Bahkan sampai dengan detil time tablenya, nyaris sama persis! Inikah rahasia keyakinan itu? Wallahu alam.
PS: karena alasan teknis, Mimbar Jumat ini baru terbit hari Senin.
30 Mei 2009
eBook Gratis
Nah, karena gratis, jadi ingat rencana untuk download beberapa judul buku. Cari-cari barangkali ada eBook gratis, dan ternyata dari beberapa judul yang ingin dicari hampir semuanya tersedia dalam bentuk pdf dan gratis. Beberapa eBook yang telah didownload saya kumpulin di sini. Kalau Anda berminat silahkan diunduh.
07 Februari 2009
Buy American: Kacang Tak Lupa Kulitnya
Keesokan harinya, dengan rasa penasaran atas 'buy american' yang tersisa datang dan minta bantuan ke pak dhe google. Dan inilah salah satu hasilnya. Pada intinya 'buy american' ini adalah bentuk kebijakan yang dipropose oleh Senat Amerika sebagai bentuk stimulus ekonomi yang sedang lesu darah. Dalam kebijakan ini nantinya, setiap proyek infrastruktur di Amerika harus menggunakan bahan buatan Amerika. Kabarnya Presiden Obama nggak setuju dengan klausul ini, meski yg propose mayoritas anggota senat dari Partai Demokrat. Argumen penolakan antaranya adalah kemungkinan pelanggaran kesepakatan dagang bebas dengan negara partner dagang: proteksi, subsidi dsb dan kekhawatiran perlakuan yang sama oleh negara partner dagang.
***
Melihat kecenderungan di atas, saya jadi ingat satu buku yang ditulis oleh Ha-Joon Chang. Seorang ekonom Korea jebolan Cambridge University, UK. Mungkin Anda pernah juga membaca bukunya. Ya, judulnya 'Bad Samaritans'. Dalam bukunya ini, Chang menjelaskan secara panjang lebar, jernih dan mudah dipahami tentang sejarah paham perekonomian dunia, yang sering disebut dengan 'neo-liberal'. Bagaimana kelahiran, kapan dan apa efeknya paham ini terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dibahas secara detil di buku ini.
Beberapa hal yang menarik, menurut pemahaman saya, antara lain adalah bahwa instrumen-instrumen ekonomi yang menjadi musuh neo-liberal; subsidi dan proteksi, sebenarnya merupakan instrumen yang dulu dipakai oleh negara-negara penyebar paham neo-liberal (US dan UK) sebelum mereka menjadi negara yang seperti sekarang ini. Setelah mencapai kemajuan ekonomi yang luar biasa, barulah mereka kutbah tentang perdagangan bebas, anti subsidi, anti porteksi dan yang sejenisnya kepada negara-negara lain, termasuk Indonesia. Kutbah ini tentunya dibalut dengan berbagai argumen ilmiah, bukti empiris dan lainnya yang meyakinkan. Tapi, menurut Chang, semua itu hanyalah upaya negara maju untuk mengelak dari kejaran negara-negara lain hingga mereka tak punya pesaing berarti. Hasilnya, mudah ditebak, mereka akan tetap punya kuasa atas negara-negara lain (yang sedang berkembang) dan gampang mengaturnya. Perumpamaan yang digunakan adalah ibarat lomba naik ke atap dengan satu tangga. Begitu berhasil naik ke atap, negara penganut paham neo-liberal ini, membuang tangga begitu saja sehingga tidak ada orang lain yang akan dapat naik ke atap. Jadilah dia juaranya....Chang juga memberikan contoh yang lebih kontemporer tentang bagaimana instrumen-instrumen haram neo-liberal ini ternyata juga ampuh mengangkat perekonomian satu negara, yang dianggap mbalelo terhadap mazab neo-liberal. Negara tersebut adalah Korea (Selatan). Korea pada dekade 60-an termasuk dalam kelompok negara termiskin di dunia (kayak judul lagu dangdut!). Akan tetapi dengan kebijakan pembangunan yang saarat dengan subsidi, proteksi dan orientasi ekspor (kalau perlu dumping harga), Korea menjelma menjadi negara super kaya, bahkan pada tahun 90-an masuk dalam kelompok OECD, klub negara kaya dan maju! Ini sebuah keajaiban, karena hanya perlu waktu kurang dari 50 tahun. Sementara UK dan US, untuk mencapai level yang sama seperti Korea dari negara miskin ke kaya pada tahun 1990-an perlu waktu masing-masing 2,5 abad dan satu abad.
***
Balik lagi ke soal 'buy american' tadi, sepertinya para senator di DC sana, ibarat kacang yang nggak lupa akan kulitnya. Dalam keadaan ekonomi yang terpuruk seperti saat ini, mereka jadi panik. Dalam kepanikan, muncullah ego dan watak asli, dan... muncul kembalilah paham-paham yang dianut oleh nenek moyang mereka dalam membangun perekonomian dulu kala. APakah ini akan berhasil, kita lihat perkembangannya....
18 September 2008
Tyranny of The Bottom Line (1): Acara Ramadhan Di TV

Ramadhan sudah berjalan lebih dari separuh bulan. Dua atau tiga tahun terakhir ada fenomena menarik di pertelevisian kita setiap Ramadhan datang. TV berlomba-lomba bikin acara khusus untuk menyambut Ramadhan, dari mulai sinetron, acara musik, sampai gosip, semuanya disisipin hal-hal yang terkait dengan Ramadhan atau disisipin hal-hal yang seolah-olah berbau keislaman. Misalnya, penyiar atau pembawa acaranya tiba-tiba jadi tampil dengan pakaian yang super sopan, pakai kerudung. Atau, di tengah-tengah hingar bingarnya suara musik, tiba-tiba muncul seorang ustadz, yang tiba-tiba ngasih ceramah keagamaan, maksa! Sinetron juga dibuat sedemikian rupa sehingga seolah-olah menjadi sinetron religius. Dan yang paling heboh, acara TV pada saat jam-jam makan sahur. Semua TV, hanya satu TV yg tidak, menampilkan acara lucu2an yang cenderung norak. Pantaslah, kalau banyak pihak mengeluh kalau acara-acara tersebut pada hakikatnya tidak sejalan dengan semangat Ramadhan itu sendiri; tenang, khusuk dan semangat untuk menahan diri.
Pertanyaannya, mengapa demikian?
Satu hal yang bisa dipakai untuk menjelaskan fenomena tersebut adalah: Tyranny of the Bottom Line. Ya, tirani bottom line atau tirani laba bersih! Bagaimana tirani jenis ini bisa menjelaskan fenomena berbagai acara Ramadhan di TV-TV seperti tersebut di atas?
Tyranny of The Bottom Line merupakan judul sebuah buku yang ditulis oleh Ralph Estes di tahun 1995. Estes menjelaskan bagaimana pergeseran tujuan dibentuknya perusahaan, dari tujuan semula untuk menangani berbagai urusan publik yang tidak sanggup dilaksanakan negara secara efisien, kini berubah menjadi tujuan yang semata-mata berorientasi pada laba bersih (bottom line). Pergeseran tujuan ini berdampak pada perubahan fokus kinerja perusahaan. Orientasi yang lebih menitikberatkan pada laba bersih membuat fokus kinerja perusahaan juga lebih berorientasi pada shareholder bukan stakeholder.
Siapa stakeholder sebuah perusahaan?
Banyak.
Masyarakat umum, konsumen, suplier, pemerintah, merupakan contoh para stakeholder satu perusahaan. Nggak peduli bagaimana efek kinerja perusahaan pada masyarakat, konsumen dan stakeholder lainnya, yang penting kinerja perusahaan tersebut dapat mendatangkan laba bersih yang tinggi. Nah, balik lagi ke fenomena pertelevisian, dalam membuat acara Ramadhan, stasiun TV tidak peduli bagaimana kesesuaian acara dengan semangat dan nilai-nilai Ramadhan, yang penting adalah bagaimana acara tersebut dapat mendatangkan banyak iklan, yang berujung pada peningkatan laba bersih. Tidak peduli bagaimana reaksi masyarakat terhadap kualitas acara Ramadhan, yang penting rating acara tersebut bagus! Di sinilah filosofi bottom line diwujudkan dalam betuk yang sangat riil.
Lalu, bagaimana seharunya sikap kita yang tidak setuju dengan acara-acara Ramadhan model tiran laba bersih tadi?
Jawabannya, gampang. Matikan TV dan pergi tidur...!
