20 Juni 2012
Menua bersama: dari mama utk papa oleh icha
Smoga Tuhan selalu berkenan beri Kesehatan
juga umur panjang
dan Kita menua bersama
Selalu terbayang pabila kita menua nanti
Cucu -cucu kita bermain
Yang perempuan membaca koleksi buku cerita ayah ibu nya selagi kecil
Yang laki-laki main kajar -kejaran di halaman rumah kita ...
Ku bayangkan kita duduk berdua
sepoci tehangat segarkan badan ...
Menjaga cucu - cucu kita ...
Karena ayah ibu nya ingin berkencan
dan dengan manja bergandeng tangan
Kita jadi ingat masa muda
Betapa cepatnya waktu tinggalkan kita
Ah, semoga kau slalu semangat
Walau kutahu sunyi bermain di depan waktu
Tetap semangat...
Biarkan sepasang ginjal di punggungmu tak berfungsi
Kita akan terus berjuang!
Sungguh betapa kuingin
Kau tetap menua bersamaku
Solo, 20 Juni 2012
Diketik oleh icha dr sms mama @YARSIS
gambar diambil dari sini
14 September 2010
Mengukur Efektivitas Cuci Darah
Ada dua cara untuk mengukur efektivitas proses HD, biasa disebut dengan adekuasi HD (HD adecuacy) yang dijalani pasien GGT, yaitu dengan menghitung (1) tingkat pengurangan urea (URR, urea reduction rate) dan (2) tingkat pengurangan urea dari tiap volume cairan tubuh pasien selama HD (biasa disebut dengan tingkat Kt/V).
Bagaimana menentukan URR dan Kt/V?
Untuk dapat menentukan besarnya tingkat penurunan urea dalam satu proses HD, harus diketahui kadar urea dalam darah baik pada saat pra-HD maupun pasca-HD. Ini dapat dilakukan dengan datang ke laboratorium klinik dan melakukan pengujian sample darah pasien GGT. Nah, setelah diketahui kadar urea pra dan pasca HD baru kemudian dihitung berapa persen penurunan kadar urea yang dihasilkan dari proses HD tersebut.
Sebagai contoh, jika kadar urea praHD adalah 62 (mg/dL darah) dan kadar urea pasca HD adalah 19 mg/dL darah maka URR dari HD yang dijalani adalah (62-19)/62 atau sekitar 69%. Berapa tingkat URR standar sehingga HD bisa dikatakan efektif? Beberapa penelitian menyebutkan bahwa URR 65% atau lebih dianggap sebagai standar minimal bahwa proses HD efektif dan mengurangi risiko morbilitas dan mortalitas pasien GGT
Kt /V merupakan cara lain untuk mengukur efektivitas HD. Formula ini mengukur berapa banyak urea dibuang selama HD, dengan mempertimbangkan jangka waktu atau seberapa lama satu proses HD dilakukan. Dalam pengukuran Kt/V ini:
- K adalah dialyzer's clearance tingkatan seberapa banyak darah yang dialirkan ke dalam dialyzer (tabung pencuci darah) dan dinyatakan dalam mililiter per menit (mL /min), biasa juga disebut dengan quick of blood,Qb. Angka ini bisa dilihat di mesin cuci darah. Biasanya diatur pada angka 200 mL/min.
- t adalah waktu lamanya proses tiap HD (dalam menit). Standar proses HD di Indonesia adalah 2 kali seminggu masing-masing 5 jam. Dengan demikian besarnya t pada satu kali proses HD adalah 5 X 60 menit atau 300 menit.
- V adalah volume air dalam tubuh pasien. Tubuh kita sekitar 60% terdiri air, dengan demikian 60% berat badan kita adalah volume air yang ada di tubuh kita sehingga besaran V di sini adalah 60% X berat badan.
Contoh, dalam satu proses HD dialyzer's clearance adalah 220 mL/menit dan sesi HD berlangsung selama 5 jam atau 300 menit. Berat badan pasein sbelum HD sebanyak 60kg. Maka tingkat Kt/V pasien tersebut adalah 300 X 220 atau 66.000 mL (66 liter) dibagi dengan 60% dari 60Kg atau 36. Sehingga Kt/V dari proses HD tersebut adalah 1,8.
Berapa tingkat Kt/V yang ideal? Para ahli berpendapat bahwa rata-rata tingkat Kt/V sebesar 1,2 atau lebih merupakan ukuran ideal dari satu proses HD.
Bagaimana meningkatkan URR atau Kt/V?
Jika rata-rata tingkat Kt/V seorang pasien GGT konsisten di bawah 1,2 perlu dilakukan langkah-langkah untuk meningkatkan tingkat Kt/V-nya. Ini dilakukan antara lain dengan meningkatkan K, nilai Qb atau t, lamanya proses HD. Hanya saja, meningkatkan Qb bisa berakibat timbulnya berbagai keluhan pada pasien selama proses HD seperti pusing, sakit di dada dsb. Tingkat Qb ideal untuk psein dewasa adalah 350 mL/menit.
21 Juli 2010
Gagal Ginjal
Ginjal merupakan organ tubuh yang berfungsi untuk menyaring dan membuang cairan sampah atau sisa metabolisme dari dalam tubuh. Setelah sel-sel tubuh mengolah makanan menjadi energi terbentuklah sampah sisa metabolisme yang harus dibuang keluar dari tubuh. Salah satu bentuk sisa metablosime yang dibuang dari dalam tubuh adalah urine setelah sebelumnya diproses di dalam ginjal.
Ginjal sendiri, bersama-sama dengan kandung kemih (ureter) dan saluran kemih (uretra) merupakan bagian dari sistem kemih yang ada di dalam tubuh kita. Ada dua ginjal berbentuk seperti kacang polong dengan ukuran lebih kurang panjang 11 cm dan lebar 6 cm serta berat sekitar 150 gram. Fungsi utama ginjal adalah untuk menyaring zat-zat buangan yang dibawa darah sehingga darah akan terjaga tetap bersih dan menghindarkan tubuh dari keracunan sisa-sisa metabolisme. Setiap hari ginjal memroses sekitar 200 liter darah untuk disaring dan menghasilkan sekitar 2 liter cairan limbah. cairan ini akan dialirkan ke dalam pusat ginjal dimana zat-zat kimia yang dibutuhkan oleh tubuh akan diserap kembali dan sisanya akan dibuang secara berkala melalui urine pada saat buang air kecil.
Ginjal juga berfungsi untuk mempertahankan kadar cairan dalam tubuh, mengatur tekanan darah, mengatur kadar kalsium pada tulang dan mengatur produksi sel darah baru. Ada tiga zat utama yang dihasilkan oleh ginjal pada saat proses penyaringan darah, yaitu:
- eritropoitin, hormon yang berfungsi untuk mematangkan sel darah merah di sumsum tulang, tempat pembuatan darah.
- renin, enzim yang berfungsi mengatur tekanan darah sehingga darah dapat mengalir secara lancar.
- kalsitrol, bentuk vitamin D yang mengatur keseimbangan kadar kalsium yang terlibat dalam mengatur tekanan darah.
Apa yang terjadi kalau terjadi gangguan pada ginjal?
Gangguan fungsi ginjal biasa disebut gagal ginjal yaitu kondisi dimana ginjal tidak berfungsi 100%. Secara umum, ada dua jenis gagal ginjal yaitu (1) gagal ginjal akut dan (2) gagal ginjal kronis. Gagal ginjal akut (GGA) sifatnya mendadak dan kemungkinan besar bisa disembuhkan setelah menjalani beberapa kali terapi cuci darah. GGA bisa timbul karena dehidrasi (kurang minum), ada gangguan batu ginjal, atau karena ada benturan. Sementara itu gagal ginjal kronis (GGK) adalah gangguan fungsi ginjal yang sifatnya menahun. Penurunan fungsi ginjal bersifat sedikit demi sedikit tapi konsiten di waktu yang lama. Secara teoritis, GGK tidak dapat disembuhkan. Terapi yang dapat dilakukan adalah dengan cangkok ginjal atau cuci darah (hemodialisys). Baik GGA maupun GGK dapat menimbulkan gangguan komplikasi pada tubuh si penderita.
Gangguan fungsi ginjal akan berakibat pada terganggunya produksi ketiga zat penting tersebut di atas; eritropoitin, renin dan kalsitrol. Efeknya penderita gangguan ginjal akan mengalami komplikasi seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, anemia, dan osteoporosis.
Fungsi ginjal biasa diukur dengan kemampuan ginjal membuang cairan berlebih (urine), atau biasa disebut dengan cretinine clearance rate, C_crea. C_crea dihtung dengan formula;
C_crea= {[(140 - umur) X BB]/(72 X K_crea)} X FK dengan satuan ml/menit.
Kadar creatinine, K_crea bisa diketahui melalui uji lab dari darah kita. Normalnya, K_crea untuk pria adalah 1,3-1,9 dan wanita 1-1,9. Selain itu, uji fungsi ginjal biasanya juga melihat kadar urea (sisa protein) dalam darah. Tingginya kadar urea menandakan kurangnya fungsi penyaringan oleh ginjal sehingga terjadi penumpukan sisa proetin dalam darah. FK, faktor koreksi gender, 1 untuk pria dan 0,85 untuk wanita. Jadi C_crea untuk seorang pria umur 40 tahun dengan berat badan 55 kg dan kadar creatinine 1,2 adalah (100X55)/(72X1,2) X 1 atau 54,1 ml/menit.
Dalam kondisi normal, tingkat C_crea adalah di atas 90. C_crea antara 50-89 mengindikasikan adanya gangguan ginjal ringan. C_crea 30-59 menandakan gangguan ginjal sedang dan C_crea di bawah 30 menandakan terjadinya gangguan fungsi ginjal berat.
Apa gejalanya seseorang mengalami gangguan ginjal? Secara umum gangguan ginjal kronis dalam tahap ringan tidak menimbulkan tanda-tanda yang nyata bagi penderitanya. Tetapi, apabila Anda pengidap tekanan darah tinggi atau diabetes, Anda layak untuk berhati-hati dan waspada pada ginjal Anda. Untuk gangguan ginjal tahap sedang dan berat beberapa gejala akan dihadapi penderita di antaranya; perubahan frekuensi kencing-- lebih sering di malam hari, pembengkakan pada bagian pergelangan kaki, kram otot pada malam hari, lemah dan lesu serta kurang berenergi, nafsu makan turun, mual, dan muntah, sulit tidur dan mudah terbangun di tengah malam, bengkak seputar mata dan kulit gatal/kering.
Sehat dan waspadalah!
17 Maret 2010
Cuci Darah
Itulah kalimat yang diucapkan oleh dokter yang menangani saya waktu diopname di RS St. Antonius Pontianak. Hari itu Kamis tanggal 4 Maret 2010. Fungsi ginjal dapat dilihat dari kandungan ureum dan kreatinin di dalam darah kita. Tingginya kadar ureum dan kreatini dalam darah menunjukkan ketidakmampuan ginjal menyaring dan mengeluarkan sampah protein ini keluar tubuh melalui air seni. Jadilah para sampah ini mengalir dalam darah kita. Akibatnya, yang jelas bisa dirasakan apabila kadar ureum dalam darah tinggi adalah adanya rasa mual berkepanjangan. hari itu, berdasarkan hasil tes darah, uruem saya 413 dari kadar normal dalam darah adalah maksimal 50 mg/liter darah. satu angka yang luar biasa di atas normal! Kretaini saya lebih dari 14, padahal normalnya harus kurang dari 5!
Jadilah hari itu vonis bahwa saya harus menjalani terapi cuci darah! Kamis sore akhirnya saya didorong ke ruang hemodialisys (HD), istilah kerennya cuci darah. Rasa penasaran yang selama ini saya pendam, seperti apa sih cuci darah?, hari itu terpuaskan sudah. Satu proses selama 3 jam yang harus saya lalui hanya dengan berbaring tenang, tanpa boleh bergerak sedikitpun karena dua jarum menancap di tangan dan paha saya. Satu hal yang amat melelahkan, tapi harus dijalani dan dinikmati.
15 Maret 2010
Rabu Pagi, 3-03-2010
Setelah laporan pada mesin absen, saya buru menuju lapangan untuk mulai ikut senam. Tapi, begitu sampai di lobby kantor, tiba-tiba rasa pusing yang amat berat menyerang kepala saya. Saya berhenti sejenak, untuk menunggu rasa pusing biar hilang dulu. Beberapa menit kemudian, rasa pusing tadai belum hilang juga. Ini membuat saya mengurungkan niat untuk mengikuti senam, taku pingsan di lapangan. Menunggu di lobby, saya bergeser ke sofa yang lebih landa. Dalam hati saya berkata, mungkin rasa pusing yang hebat ini akan hilang bila saya berbaring. Nyatanya, setelah kira-kira5 menit baringa di sofa, rasa pusing tak hilang juga. Malah tambah parah, pandangan mulai kabur. Dan nafaspun sesak serta pendek-pendek. Satu hal yang belum pernah saya alami, dan karenanya ada kekhawatiran yang luar biasa. Akhirnya, begitu ada yang lewat di depan saya, saya panggil untuk mengantarkan saya ke dokter. Jadilah pagi itu saya ke UGD RS St. Antonius Pontianak. Begitu baringan di ranjang di ruang UGD, dokter jaga datang liat-liat dan... pasang transfusi set: tambah darah! Ya, saya kekurangan darah katanya. Setelah diambil darah untuk dilakukan beberapa tese, dapau dilihat bahwa Hb saya rendah sekali, hanya 5 dari minimal 12-13. *fiuh* Jadilah saya hari itu mulai opname di rumah sakit, untuk lima hari berikutnya.
Hasil pemeriksaan lanjutan mengkonfirmasi apa yang dulu pernah dikatakan dokter di 2007.
