28 Juli 2010
Bhineka Tunggal Ika dari Negeri Andalusia
Pada perayaan keliling kota Madrid, kota yang menjadi ibukota Spanyol sekaligus kelompok etnis Castillia, para pemain dari berbagai kelompok etnis mengibarkan bendera dan berbagai atribut etnis mereka masing-masing. Di pinggir jalan, jutaan rakyat Spanyol menyambut mereka dengan kibaran bendera nasional Spanyol. Dan, Raja Juan Carlos serta PM Jose Luis Rodriguez Zapatero tampak membiarkan saja model ‘pembangkangan’ yang dilakukan oleh para pemain Timnas Spanyol itu. Memang, kali ini, Timnas Spanyol diisi dengan pemain-pemain dari semua kelompok etnis yang ada di Negeri Spanyol itu. Total jenderal, ada tujuh pemain dari etnis Catalan, enam dari Castilia, tiga dari Basque, tiga dari Andalusia, dua dari Kepulauan Canari dan seorang pemain masing-masing dari kelompok etnis Asturia dan Valencia yang direkrut oleh pelatih Vicente Del Bosque, seorang Castilia dan eks pemain dan pelatih Real Madrid. "Skuad Spanyol terdiri atas pemain yang berasal dari semua wilayah, namun kami adalah satu kesatuan," demikian ungkap Del Bosque. Kebijakan serupa juga ditempuh oleh pelatih terdahulu yang membawa Spanyol memenangi Piala Eropa, Luis Aragones. Dan asal tahu saja, kebijakan demikian tidak dilakukan oleh pelatih-pelatih Timna Sapnyol sebelumnya.
Para pelatih Spanyol terdahulu, banyak yang mengeksploitasi rasa kesukuan ini ke dalam rejim kepelatihannya; lebih memilih pemain-pemain dari kelangan etnis yang sama dengan etnis sang pelatih. Ini pula yang ditengarai menjadi penyebab mengapa Spanyol lebih banyak mengalami kegagalan dalam kompetsisi internasional, seperti Piala Dunia dan Piala Eropa, meski banyak pemain top dan klub dengan prestasi luar biasa. Javier Clemente, misalnya, pelatih Timnas Spanyol saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 1982, lebih banyak menggunakan pemain dari kelompok etnis Basque, kelompok dia berasal. Kebijakan dengan rasa dasar rasa kesukuan yang demikian sudah pasti berdampak jelek bagi kekompakan tim di tempat latihan dan di lapangan dan tentunya prestasi. Pemain Madrid, misalnya, akan mencemooh pemain Barcelona yang membuat kesalahan dan berlaku juga sebaliknya. Bahkan bintang sekelas Raul Gonzalespun, Castilia, dikabarkan tidak terlepas dari pengaruh buruk fanatisme kesukuan ini ketika bermain di Timnas Spanyol. Beberapa pemain bintang, bahkan menolak ikut gabung timnas karena alasan kesukuan ini: mereka enggan membela Spanyol!
Menarik untuk membaca sebentar sejarah Spanyol, hingga menimbulkan fanatisme kesukuan yang demikian kental ini. Syahdan, berawal dari perang saudara di Spanyol yang terjadi di tahun 1936-1939, antara kelompok republikan dan nasionalis, yang dimenangi oleh kelompok nasionalis pimpinan Jenderal Franco. Franco kemudian menjadikan Castilia dengan Madrid sebagai pusat gerakan dan menjadikan Bahasa Castilia menjadi bahasa nasional dan dikenal sebagai bahasa Spanyol. Orang-orang catalan, kemudian menjadikan Klub Barcelona sebagai simbol perlawanan terhadap Franco yang adalah suporter fanatik Real Madrid. Dari sini kita paham, mengapa duel el classico antara Madrid lawan Barcelona menjadi pertandingan yang begitu panas dan klasik. Atau, Pep Guardiola, eks pemain dan sekarang pelatih Barcelona yang asli Catalan, lebih sering menggunakan Bahasa Catalan dan menolak bicara dalam Bahasa Spanyol saat melakukan konferensi pers tiap usai pertandingan Barcelona. Atau, kenapa klub macam Real Sociedad dan Athletico Bilbao mengharuskan pemainnya berdarah Basque!
Sekat-sekat kesukuan telah merusak prestasi Timnas Sepakbola ketika fanatisme-nya masuk ke ruang ganti pemain. Karena, bagaimanapun sepak bola merupakan permainan kelompok, yang menjadikan kekompakan antara pemainnya dan setiap unsur yang terlibat di dalamnya sebagai prasyarat utama dalam meraih prestasi. Luis Aragones dan Del Bosque telah memberikan pelajaran dan bukti tentang pentingnya kekompakan di tengah sekat-sekat perbedaan yang kuat ini: bhineka tunggal ika yang dipraktikan dan bukan sekedar slogan. Gol kemenangan Spanyol atas Belanda dicetak oleh Iniesta, pemain dari etnis Castilia yang sejak kecil direkrut oleh raksasa Catalan, Barcelona, setelah menerima assist dari Fabregas, produk Barcelona yang lain. Bagaimana dengan kita, pemilik slogan bhineka tunggal ika? Tampaknya kita perlu belajar dari Spanyol, negerinya Ibnu Rusyd (Averose) dan Ibnu Sina (Avecina), negeri dari mana cahaya bagi Eropa berasal, Andalusia!
02 September 2009
Mimbar Jumat: Jantung Sehat A la Liverpudlian
Di belahan lain bumi ini, bulan Agustus juga merupakan bulan dimulainya tempik sorak penggila sepak bola. Di bulan Agustus inilah, sebagian besar Liga Sepak Bola terkemuka dunia dimulai. EPL di Inggris, La Liga di Spanyol, Seri A di Italia dan BundesLiga di Jerman. Sebuah kegaduhan yang akan berakhir lebih kurang sembilan bulan kemudian. Orang mulai ramai bicara tentang peluang-peluang dan pastinya taruhan. Orang akan melihat apakah trilyunan rupiah yang dikeluarkan untuk belanja pemain akan memberi hasil yang memadai di akhir kompetisi. Tapi yang jelas, hasil-hasil pertandingan di minggu-minggu awal di EPL cukup menjajikan dinamika. Dua kekalahan Liverpool dan kekalahan ManU dari tim promosi Burnsley jelas menjanjikan pacuan perebutan gelar EPL yang menarik. Belum lagi, munculnya 'raksasa baru' Man City, yang kemungkinan akan menggoyahkan tradisi dominasi 'the big four'.Tentu akan sangat susah memrediksi siapa yang bakal juara EPL musim ini. lalu, bagaimana peluang Liverpool? Kekuatan Liverpool musim ini hampir tidak ada perbedaan dengan tahun sebelumnya, kecuali perginya pemain tengah Xabi Alonso ke Real Madrid. Banyak yang beranggapan bahwa kepergian Xabi Alonso ini berdampak buruk pada kinerja permainan lapangan tengah Liverpool. Bisa jadi begitu, penampilan yang kurang mengesankan pada pertandingan awal seperti ketika dikalahkan Spurs dan Aston Villa mungkin menjadi alasannya. Tapi apapun, sejarah mencatat bahwa kekalahan di fase awal kompetisi bukan akhir dari segalanya. Pernah dilakukan Liverpool sebelumnya di tahun 80-an, awal yang jelek, kekalahan di fase awal ternyata berakhir dengan direbutnya mahkota Liga Inggris. Sebaliknya, penampilan yang apik hampir sepanjang musim di musim terkahir, hanya kalah dua kali dan men-double manU dan Chelsea, ternyata tak menghasilkan gelar apapun.
Jadi, itulah nikmatnya jadi seorang penggemar Liverpool. Kita tunggu dan lihat saja setiap pertandingan, nikmati dan tetap berharap jantung Anda akan terus sehat.....
Gambar diambil dari sini
29 Juni 2009
Antara Coppa Indonesia dan Confederation Cup
Pertandingan antara Siriwijaya FC vs. Persipura sebenarnya berlangusng menarik. Serangan bergantian dilakukan oleh kedua tim meski sampai berakhirnya babak pertama kedudukan imbang 0-0. Drama terjadi ketika pertandingan memasuki pertengahan babak kedua, ketika Persipura sudah dalam posisi ketinggalan 1-0. Waktu itu, Boaz yang tengah menguasai bola di sisi kanan gawang dalam kotak penalti Sriwijaya FC dan terjatuh ketika penjaga gawang Sriwijaya Ferry melakukan terkaman ke arah kaki Boaz. Bola muntah dan jatuh ke kaki pemain Persipura lainnya, lalu... shoott! Bola dengan deras menuju ke arah tiang dekat gawang Ferry. Beruntung, ada seorang pemain Sriwijaya FC yang berhasil menghalau bola. Di sini masalahnya, pemain Sriwijaya FC menghalau bola dengan tangan kanannya (entah sengaja atau tidak), tapi wasit tidak menyatakan hal itu sebagai hand's ball. Karuan saja, pemain Persipura melakukan protes. Tak ketinggalan para pengurus Perpsiura yang berdiri di bench, di pinggir lapangan. Sampai-sampai mereka memutuskan untuk walk out dan tidak mau meneruskan pertandingan..., too bad!
Di Rustenburg, di waktu yang hampir bersamaan, situasi serupa juga terjadi. Spanyol, sang juara Eropa, diluar dugaan, mengalami kesulitan yang amat sangat, ketika berhadapan dengan tuan rumah Afrika Selatan, tim yang pada babak penyisihan berhasil mereka tekuk 0-2. Alih-alih, Spanyol ketinggalam setelah pada menit ke-75 Mphesala (bener gak nulisnya yak) menggetarkan gawang Casillas. Dalam ketertinggalan Spanyo berusaha keras untuk menyamakan kedudukan, sampailah kejadian di menit awal 80-an, ketika LLorente menerima umpan lambung dari Arbeloa. Sundulan Llorente, berhasil dihalau oleh seorang pemain Afrika Selatan, tapi kali ini juga dengan tangan kiri sang pemain tuan rumah. Kontan, para pemain Spanyol melakukan protes, demikian juga halnya para crew di bench, mengharapkan wasit memberikan penalti kepada Spanyol. Tapi apa lacur, wasit yang berada tak jauh dari tempat kejadian ternyata tak melihat itu sebagai hand's ball dan pertandingan tetap dilanjutkan. Sampai akhir babak perpanjangan waktu Spanyol akhirnya unggul 2-3.
Nah, jadi pertanyaan saya, mungkin juga bagi jutaan pemirsa dan penggemar bola. Dalam menghadapi situasi yang sama mengapa sikap anggota klub Persipura dan Timnas Spanyol begitu berbeda?
Jawabannya, seperti seorang teman pernah kirim imel, bahwa dalam menghadapi satu masalah, pertanyaan pertama yang muncul dibenak kita akan menentukan arah penyelesaiannya. Pertanyaan, mengapa masalah ini bisa terjadi menimpa diri kita, misalnya, akan membawa kita untuk lebih banyak mencari-cari kesalahan orang lain. Tapi, pertanyaan, seperti bagaimana mengatasi permasalahan ini, akan cenderung lebih konstruktif dalam membantu kita mencari bentuk-bentuk solusi. Mungkin, ketika melihat kenyataan bahwa mereka dirugikan oleh keputusan wasit, kubu Persipura bertanya-tanya, apakah wasiti bertindak tidak adil karena pertandingan berlangsung di kandang Sriwijaya FC? Dengan pertanyaan model begini, tak pelak, dengan dibumbui emosi yang meninggi, muncullah keputusan untuk walk out. Lain soal, kalau yang muncul di benak Persipura, bagaimana caranya mengatasi ketertinggalan 0-1, pola bermain kayak mana yang musti dimainkan, teknik sepak bola macam apa yang perlu dilakukan untuk meredam perlawanan Sriwijaya FC? Dan mungkin, pertanyaan-pertanyaan inilah yang muncul di benak anggota Timnas Spanyol ketika dalam posisi tertinggal 1-0 dari tuan rumah dan keuntungan tidak diberikan oleh wasit ketika ada pemain Afrika Selatan yang menyentuh bola dengan tangannya di dalam kotak penalti. Dan mereka, lebih memutuskan untuk meneruskan bermain dengan baik dan kahirnya menang!
Sungguh, pertanyaan pertama yang muncul di benak kita, akan menentukan arah solusi yang akan kita mainkan dalam menghadapi masalah. Dunia sepak bola, setidaknya di pertandingan Confederation Cup, telah memberikan contoh yang baik. Bagaimana kita?
28 Mei 2009
Barcelona 2008/09: Kesempurnaan Sepak Bola
Pertama, karena merupakan umpan ke gawang lawan, berarti untuk menjadikan sebuah gol diperlukan kerja sama yang tertata rapi antar pemain di setiap lini permaian, bahkan sejak bola masih di lapangan sendiri. Sebuah gol, dengan demikian sengaja diciptakan melalui set piece yang tersusun rapi, bukan sesuatu yang sifatnya spekulatif.
Kedua, untuk mewujudkan set piece yang baik diperlukan keterampilan individual pemain yang luar biasa. Kontrol bola, dribel dan passing yang mendekati sempurna menjadi prasyarat mutlak. Dengan semua itu, para pemain akan percaya diri di lapangan dan akan menikmati setiap permainan. Selain itu, setiap pemain juga musti punya visi tentang bagaimana sepak bola menyerang itu dimainkan: dengan gairah, semangat, pantang menyerah tapi juga rileks, dan yang paling penting jujur!
Ketiga, untuk mewujudkan itu semua perlu seorang pelatih yang mampu menyampaikan visinya tentang sepak bola kepada para pemainnya, membimbing bagaimana permainan sepak bola harus dimainkan dan mampu menanamkan keyakinan kepada para pemain bahwa sepak bola yang mereka mainkan adalah sepak bola yang baik dan benar: tampil menghibur dan akan selalu mendatangkan kemenangan.
Hari ini, pagi ini, Pep Guardiola dan pasukan Catalannya memberikan gambaran nyata dari filusufi Menotti tadi. Kemenangan di partai puncak UCL 2009, merupakan klimaks penampilan apik mereka selama musim 2008/09 yang konsisten dengan sepak bola menyerang dan menghasilkan banyak gol. Lebih dari 150 gol dilesakkan ke gawang lawan oleh para pemain Barcelona dalam kompetisi kali ini. Berarti rata-rata, 2 koma sekian gol per pertandingan, sebuah capaian yang fantastis. Dan dari sekianbanyak gol itu, saya yakin lebih banyak gol yang merupakan umpan terakhir ke gawang lawan: lahir karena set piece dan berupa contekan, bukan tendangan spekulatif.
Maka, selayaknyalah tiga gelar juara mereka sandang, sebuah hasil yang sepadan dengan kerja keras dan konsistensi mereka. Selamat dan terima kasih Barcelona, untuk kemenangan dan permainan yang layak dinikmati sepanjang musim! Kepada MU yang menjadi lawan terakhir Barcelona musim ini, tidak perlu bersedih hati karena meski kalah, kalian telah dikalahkan oleh juara sejati.
16 Maret 2009
The Pinky Devils
Bagi para penikmat Liga Inggris, pertandingan 'The England Derby' antara ManU vs. Liverpool tadi malam tentu sangat berarti dan tentu akan menjadi pusat perhatian pada pekan ke 28 ini. Betapa tidak, kedua klub bersama-sama dengan Chelsea merupakan tiga kandidat utama juara EPL musim ini. ManU sementara memimpin dengan selisih 7 poin di atas Liverpool dan Chelsea dengan satu pertandingan sisa lebih banyak di banding kedua pesaingnya itu. Kemenangan bagi ManU tentunya akan semakin memamntabkan peluang juara mereka. Sementara kemenangan bagi Liverpool akan menjaga peluang mereka untuk meraih juara EPL. Dengan latar belakang itu, maka orang berharap pertandingan akan berlangusng dengan ketat, seru dan mengangkan. Apalagi, kedua klub mendapat dorongan moral yang luar biasa dahsyat setelah masing-masing mampu secara meyakinkan menekuk lawan-lawannya dalam babak 16 besar UCL.
Namun, hasil pertandingan tampaknya tak seperti yang diharapkan. Ketika ManU unggul 1-0 setelah CR7 berhasil mengeksekusi penalti setelah Park Ji Sung dijatuhkan oleh Reina harapan pertandingan akan seru sekaligus kekhawatiran Liverpool akan kembali takluk muncul. Kekhawatiran mulai pudar saat Vidic, the hero dalam pertandingan melawan Intermilan berubah menjadi the zero, membuat blunder yang berakibat dia dibalap oleh Torres dan berakhir dengan gol. Jarang-jarang pemain ManU melakukan blunder yang demikian elementer! Maka sesuatu yang luar biasapun terjadilah. Setelah gol Torres, kemudian disusul dengan gol penalti SG8, the fantaztic captain. Skor 1-2.
Ketinggalan 1-2 oleh pesaing utama dalam sejarah klub, tampaknya membuat kosentrasi pemain ManU menjadi kacau. Puncaknya, ketika Vidic melakukan pelanggaran pada SG8 yang berakibat pada dikeluarkanya katru merah oleh wasit. Melawan 10 orang dengan kondisi psikologis yang lebih baik, unggul sementara 1-2, membuat permainan Liverpool makin berkembang. Dan lahirlah dua gol tambahan, masing-masing oleh Aurellio melalui tendangan bebas yang ciamik, dan gol pemain pengganti Dossena. Gol yang mirip kejaidannya dengan gol keempat Liverpool saat lawan Madrid yang kebetulan juga dicetak oleh Dossena. Luar biasa kemengangan 1-4 cukup telak dibuat di kandang ManU.
Jadilah malam itu, Manchester United menjadi 'the pinky devils' di odd traford, the theatre of scream. Dan terbuktilah siapa the real REDS… musim ini!!! Walk on… Reds….
Champion’s League: Ini Soal Tradisi
Buat sebagian besar masyarakat Indonesia, pulang kampung, entah itu dalam rangka hari raya atau tidak, menjadi ritual yang luar biasa mengasyikkan. Orang-orang akan dengan sangat semangat dan antusiasme yang luar biasa mempersiapkan segala sesuatunya sehingga acara 'pulang kampung'nya menjadi kenangan yang terindah. Barangkali buat mereka yang telah lama meninggalkan kota/kampung asal untuk berjibaku dengan kehidupan di rantau, setiap kepulangan ke kota/kampung asal dapat menumbuhkan semangat-semangat baru, harapan baru, dan optimisme baru untuk menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan selanjutnya di rantau. Ya, semacam me-recharge baterai kehidupan dengan energi, semangat, harapan dan optimisme baru. Menemukan lagi suasana yang melingkupi diri kita saat kita tumbuh kembang, bertemu kembali dengan orang-orang yang ikut memberikan warna dalam awal-awal kehidupan kita atau barangkali sekedar berkunjung untuk melihat dan melakukan ziarah ke makam orang tua, akan memberikan efek spiritual yang dahsyat bagi sementara orang. Demikian, kalau pulang kampung dimaknai dengan sikap mental recharge.
Tak jarang pula orang pulang kampung didasari pada sikap mental pamer. Pulang kampung untuk sekedar memamerkan keberhasilan-keberhasilan yang telah diraih di rantau. Biasanya, mentalitas pamer ini ditunjukkan dengan penggunaan berbagai atribut kehidupan perkotaan, dalam beberapa kasus bahkan berlebihan, ketika mereka sedang berada di kampung halaman. Menenteng hape kesana kemari, meski tak ada sinyal sekalipun, memasang headset untuk mendengar lagu dari pemutar musik portabel, penggunaan dialek lu-gue dsb merupakan berbagai contoh perilaku mentalitas pamer yang dapat Anda temui ketika sedang pulang kampung waktu lebaran.
Ada perbedaan mendasar dan besar antara kedua jenis mentalitas pulang kampung tadi. Yang pertama cenderung khusyuk dan lebih bersifat substantial, sehingga persiapan-persiapan yang dilakukannya pun lebih terkait dengan hal-hal yang sifatnya mulia. Yang kedua, biasanya lebih bersifat hura-hura dan artificial. Hasilnya pun sudah pasti akan berbeda, yang pertama ketika datang kembali ke rantau penuh dengan kesegaran dan semangat sementara yang kedua barangkali datang lagi ke rantau penuh dengan kerisauan karena begitu memaksakan ketika pulang kampung sampai-sampai mesti berhutang untuk tampil gaya….
***
Babak pertama fase knock-out UEFA Champion's League (UCL) telah usai dan manyisakan delapan tim untuk masuk fase kedua, babak 8 besar. Sama seperti tahun sebelumnya, keempat wakil EPL mendominasi delapan besar; Liverpool, Manchester United, Arsenal dan Chelsea. Beberapa catatan menarik dari hasil pertandingan babak 16 besar UCL kembali bisa dilihat. Sampai di sini terbukti bahwa gabungan sepak bola cepat model Britania Raya, kekuatan modal raksasa serta kejelian beberapa pelatih jenius mampu mendominasi kompetisi para jura liga Eropa itu. Pesona Liga primer yang mengkilat dalam satu dekade terakhir mampu menyedot para pemodal besar untuk membenamkan duitnya di berbagai klub Liga Primer. Dengan dukungan dana yang tidak ada batasnya itu, anggota Liga Primer berhasil menarik bakat-akat terbaik didunia sepak bola untuk beradu jurus kepintaran mengolah bola.
Sekedar contoh, Chelsea. Klub yang tadinya bukan siapa-siapa ini tiba-tiba menjelma menjadi kekuatan yang cukup mengejutkan ketika seorang kaya raya asal Rusia, Abramovich, mengambil alih klub. Dengan dana milyar dollar, dia datangkan bakat-bakat sepak bola terbaik dunia dan bang! Dua kali tropi Juara EPL berhasil di sambar, plus beberapa kali kesempatan masuk ke babak-babak akhir UCL. Tahun lalu bahkan mereka sampai babak final dan hanya kalah adu kiper lawan Manchester United. Demikian juga Arsenal, berbekal kejeniusan pelatih Arsene Wenger yang ahli meracik bakat-bakat muda, menjelma menjadi kekuatan yang secara tardisional menghuni papan atas EPL dan untuk pertama kalinya masuk babak final UCL tahun 2006 sebelum akhirnya dibekuk Barcelona 1-2.
Masalahnya, cukupkah modal besar dan bakat-bakat muda yang luar biasa itu untuk merengkuh gelar terbaik di UCL? Sejarah mencatat bahwa tidak banyak klub yang mampu meraih gelar terbaik UCL, sebelumnya disebut Piala Champion's. Tercatat tak lebih dari tiga klub yang mampu meraih gelar terbaik lebih dari empat kali dalam sejarah penyelenggaraan turnamen ini. Hanya Real Madrid, AC Milan dan Liverpool yang pernah memenangi paling tidak lima kali juara UCL/Piala Champion's. Bahkan beberapa klub yang begitu dominan di dalam liga domestiknya, menjadi tidak berdaya tatkala bertanding di UCL. Kegagalan Intermilan dan Olimpic Lyon di UCL dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan hal itu. Begitu perkasa di liga domestik, sehingga mampu meraih tujuh kali juara Liga Perancis ternyata tak menjamin Lyon mampu melewati, bahkan, babak 16 besar musim 2007/2008 dan 2008/2009. Demikian juga halnya Intermilan. Dua kali takluk pada klub-klub Inggris: melawan Liverpool di 2008/2009 dan terakhir Machester United.
Pertanyaan berikutnya adalah, apa yang membuat beberapa klub menjadi begitu perkasa ketika tampil di UCL sementara mereka tengah terseok-seok di liga domestik? Anda tentu masih ingat final UCL 2006/2007, ketika AC Milan bertemu Liverpool di partai puncak UCL. Kedua klub waktu itu tengah mengalami hari-hari buruknya dalam liga domestiknya, menempati urutan keempat klasemen, tetapi mereka tampil istimewa di UCL mengalahkan para pimpinan liga domestiknya. Jawabannya barangkali dapat diperoleh melalui analogi mentalitas pulang kampung tadi.
Bagi beberapa klub, main di UCL ibarat pulang kampung dengan mentalitas recharge. Karena faktor kebiasaan tampil di Piala Champion's yang dimulai sejak puluhan tahun yang lalu, penampilan klub di UCL menjadi tradisi. Sekedar kilas balik, sebelum berubah format menjadi UCL seperti saat ini, Piala Champion's hanya diikuti oleh para Juara Liga! Sehingga, tidak mudah memang untuk bisa tampil di Piala Champion's waktu itu. Sekaligus menujukkan betapa hebatnya klub-klub yang mampu meraih juara Piala Champion's. Dan, tradisi yang dilakoni dengan kesungguhan, semangat, dan determinasi tinggi serta konsistensi akan berbuah pada fakta sejarah, bahwa tidak setiap klub mampu tampil baik dalam UCL. Demikianlah, untuk beberapa klub juara masa lalu, partisipasi mereka pada UCL adalah bukan sekedar partisipasi tetapi akan menjadi sarana bagi mereka untuk marasakan kembali kenangan pada era kejayaan masa lalu, untuk menuntaskan kerinduan pada kejayaan masa lalu. Tak heran mereka menjadi sangat termotivasi dan mampu mengeluarkan kemampuan terbaik mereka meski mereka sedang tidak bagus di liga domestik. Bahkan seorang Rafa Benitezpun mungkin tidak pernah menduga timnya bisa tampil begitu apik dan berhasil menggulung Real madrid 4-0 di Anfield kemarin. Sang pelatih bisa jadi tak mengira para pemainnya bisa tampil begitu hebat dan dominan hingga Madrid dibuat seolah-olah sekumpulan anak-anak yang sedang belajar main bola…! Determinasi, kerinduan pada kejayaan masa lalu, konsistensi dan tradisi juara telah masuk ke dalam diri setiap pemain Liverpool.
Bagi sementara klub yang lain, partisipasi dalam UCL adalah lebih dikuasai oleh mentalitas pamer. Mereka sangat bernafsu bisa menjadi yang terbaik, maka jalan apapun ditempuh. Dengan kekuatan modal yang memungkinkan, dibeli semua bakat-bakat terbaik dan pelatih terbaik. Tapi, para jutawan pebisnis bola ini tidak ingat, bahwa juara bukanlah satu hal yang dapat dicapai secara instan. Sehingga, seorang pelatih akan segera dipecat kalau target juara tidak diraih. Bakat muda yang luar biasa tidak memperoleh kesempatan tampil yang memadai karena sang pemilik lebih mengutamakan pemain yang sudah jadi untuk memudahkan meraih ambisinya: juara UCL. Padahal, diperlukan keteguhan, ketekunan, keinginan dan kerja keras untuk dapat menggapai itu. Maka tak heran, kalau sekumpulan bintang sepak bola a la Intermilan dan Chelsea belum juga mampu meraih gelar juara dalam sejarah UCL, meski telah berganti pelatih beberapa kali! Tetapi sebaliknya, sekumpulan pemain tua seperti yang ada di AC Milan mampu menembus final tiga kali dalam kurun waktu lima tahun, dua kali di antaranya menjadi juara! Manchester United barangkali merupakan contoh bagaimana keteguhan, ketekunan dan kerja keras diaplikasikan. Pembinaan yang berkelanjutan, Opa Fergie, sudah melatih MU sejak beberapa pemain yang diasuhnya sekarang bahkan belum lahir, pada akhirnya menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Prestasi MU dalam beberapa tahun terakhir, pasti berkat usaha pembinaan berkelanjutan dari seorang pelatih yang menangani satu tim dalam jangka waktu yang sangat lama. Dan juga, pastinya dukungan dan kesabaran pemilik dan supporter setia. Arsenal, dengan konsistensinya menggunakan pemain muda dan permainan menyerang, hampir meraih ambisinya tatkala berhasil masuk babak final. Hanya saja, sejarah tampaknya belum berpihak pada pasukan muda Arsene Wenger, mereka dituntut untuk lebih bersabar dan bekerja lebih keras lagi!
***
Pertanyaan terakhir, bagaimana peluang para klub juara itu? Jawabannya tergantung, bagaimana mereka mampu menjaga mentalitas recharge pulang kampung. Untuk klub-klub yang lain, bagaimana mereka mampu mengubah mentalitas pamer nafsu menjadi mentalitas recharge? Mampukah mereka, mari kita tunggu jawabannya akhir Mei nanti….
09 Februari 2009
Another Superb Comeback
Hasilnya, sampai dengan menit terakhir the Reds dua kali ketinggalan tapi dua kali pula berhasil menyamakan kedudukan. Pada menit ke-69 Aurelio berhasil menyamakan kedudukan setelah tujuh menit sebelumnya Nugent berhasil melesakkan bola ke gawang Reina. Sepuluh menit kemudian, pemain the Pompey yg lain, Hreidarsson, berhasil kembali menjalakan bola ke gawang Reina. Namun, lagi-lagi the Reds berhasil menyamakan kedudukan lewat Kuyt pada menit ke-85. Sampai di sini skor akhir 2-2 tampaknya merupakan akhir yang fair bagi kedua tim. Dan terbayang, beda poin dengan MU akan semakin melebar, meski MU baru akan main esok hari.Mungkin, Anda yang menonton siaran langsung sudah bersiap-siap melanjutkan tidur, atau misalnya hadir di stadion sudah berkemas untuk pulang. Tetapi, malam itu ada Fernando Torres, yang selalu menjadi pembuat perbedaan dalam setiap pertandingan. Golnya di menit-menit akhir pertandingan
membuahkan kemenangan indah buat the Reds. Menjadikan superb comeback yang kedua musim ini... setelah tahun lalu hal yang sama terjadi di Manchester Stadium. Inikah yang namanya mental juara...? Mungkin, kita lihat saja nanti akhir ceritanya.... Yang jelas, inilah nikmatnya jadi penggemar Liverpool, setiap pertandingan selalu dilalui dengan ketegangan, gairah dan semangat utk menang.
23 Desember 2008
Minggu-minggu Yang Aneh

Bagi Anda penikmat sepak bola Eropa, mungkin berpikiran sama dengan saya bahwa minggu-minggu terakhir ini adalah minggu yang aneh. Kenapa? Coba kita tengok Liga Primer, dalam periode lebih kurang empat minggu sampai dengan minggu kemarin, sudah tiga kali 'the big four' sama-sama memperoleh hasil imbang. Terakhir, ketika Arsenal lawan Liverpool kedua tim berbagi angka 1-1. Dua hari kemudian, Chelsea yang berpeluang menggeser Liverpool dari puncak klasemen sementara justru berbagi angka kacamata, 0-0 ketika bertamu ke Everton. Memang belum lengkap. Aggota 'the big four' lainnya, MU, tidak melakukan pertandingan di Liga Primer karena sedang berlaga di Piala Dunia Antar Klub di Jepang dan mereka juara. Dengan demikian, hingga pekan ke-18, Liverpool masih memimpin klasemen sementara Liga Primer dengan keunggulan satu poin dari saingan terdekat Chelsea. Ancaman mungkin justru datang dari MU, yang masih menyimpan dua pertandingan lebih banyak. Jika MU mampu menang dalam dua laga tersebut bukan tak mungkin MU akan menyalip Liverpool dan Chelsea. Kita tunggu.
Di bagian lain di benua Eropa, keanehan lain juga terjadi. Raksasa Catalan, Barcelona, sedang menapaki hari-hari baiknya. Dalam empat laga terakhir, el Barca mampu mengalahkan empat tim papan atas; Sevilla (0-3), Valencia (4-0), Madrid (2-0) dan terakhir Villareal (1-2). Empat kemenangan beruntun dengan memasukkan 11 gol dan hanya kebobolan satu gol, tentunya sebuah rekor fantastis mengingat kualitas lawan-lawannya. Lebih dari itu, kemenangan-kemenangan tersebut diraih dengan permainan nan indah, enak ditonton dan terbuka, sebuah kualitas yang memungkinkan el Barca meraih gelar musim ini.
Sementara itu, di Italia, klub papan atas AC Milan terlihat terseok-seok menapaki jalannya Liga Serie A. Kekalahan 3-1 lawan Palermo dan 4-2 lawan Juventus cukup memberatkan ambisi AC Milan untuk meraih scudetto musim ini. Apalagi, di sisi lain pesaing mereka, Inter Milan, tak pernah kehilangan poin dalam beberapa laga terakhir. Banyak pemain lanjut usia, terutama di sektor pertahanan mungkin menjadi penyebab tak konsistennya prestasi AC Milan akhir-akhir ini. Jelas, peremajaan pada sektor pertahanan amat dibutuhkan. Akan tetapi, kemenangan 5-1 atas Udinese kemarin tentunya mempunyai arti bagi para pemain AC Milan untuk terus termotivasi dalam sisa musim kompetisi tahun ini.
06 Oktober 2008
Superb Comeback!!!

Ungkapan 'superb comeback' sering digunakan oleh para reporter olah raga, khususnya sepak bola, dalam siaran langsung pertandingan di tv (asing). Ungkapan ini untuk menggambarkan betapa hebatnya sebuah tim, setelah ketinggalan pada awal-awal pertandingan, tetapi akhirnya bisa mencetak gol leboh banyak dari lawan sehingga mampu memenangkan pertandingan. Anda yg gemar maen Football Manager tentu juga akrab dengan istilah ini. Contoh paling anyar adalah pertandingan antara Mancehster City vs. Liverpool tadi malam. Dalam 45 menit pertama, Liverpool ketinggalan 2-0, tetapi pada akhir pertandingan, Liverpool menang 2-3. Luar biasa!
Waktu pulang dari kunjungan lebaran sekitar jam setengah 10, saya lihat di running text Metro TV, Liverpool ketinggalan 0-1, tambah capek, langsung beranjak ke tempat tidur. Jam 3 pagi, bangun langsung nyalain TV, sambil cari-cari siaran pertandingan bola, lagi-lagi liat running text. Betapa kaget dan tidak percayannya, ketika melihat tulisan "Hasil Pertandingan Liga Primer: Manchester City-Liverpool 2-3". Kucek-kucek mata lagi, takut salah liat, ternyata memang benar adanya tulisan tersebut. Senang, Liverpool menang lagi.
Ramadhan yang berusan usai dan Idul Fitri yang saya dan sebagian dari Anda rayakan mudah-mudahan juga menjadi 'superb comeback' bagi jiwa-jiwa kita, menjadi jiwa siap tempur, jiwa yang kembali fully recharged untuk menempuh drama kehidupan sebelas bulan ke depan sebelum ketemu lagi dengan Ramadhan tahun depan. Semoga. Mohon maaf lahir bathin....

Gambar diambil dari sini dan sini
15 September 2008
Akhir penantian panjang...

Belum pernah sebelumnya, dalam satu hari saya beli atau baca lebih dari tiga koran. Ya, kemarin hari Minggu 4 September 2008 pagi, berdua dengan anak ketiga saya, Farisha Jasmine, naek mio biru pergi ke ujung gang untuk beli koran sambil numpang baca. Ada berita besar yang saya pingin baca hari itu. Apa itu? Tarrraaa!!! Berita kemenangan Liverpool atas MU!!! Sebagai seorang Liverpudlian, tentu saja ini bukan berita main-main. Kemenangan atas seteru abadi setelah sekian lama gak pernah sanggup menang adalah ibarat air di padang tandus.... (halah!)
Dalam catatan pertemuan kedua kesebelasan di tiga tahun terakhir, MU selalu berhasil mengalahkan Liverpool. Satu-satunya kemenangan Liverpool adalah pada Final FA Cup 2006, Liverpool JUARA. Apakah sejarah akan berulang? Di dunia sepak bola, tidak bisa dipungkiri bahwa ada kecenderungan pengulangan sejarah. Kalau begitu keadaannya, kemenangan atas MU di Anfiled ini barangkali pertanda di musim 2008/09 ini giliran Liverpool juara EPL. Semoga. Bravo Reds!!!
08 Mei 2008
Final UCL: sejarah baru atau ulangan?
Pertandingan final itu sendiri tentunya menjanjikan permainan sepakbola yang menarik. Kedua tim merupakan dua tim terbaik saat ini di ajang EPL dan saling mengalahkan pada dua pertandingan EPL musim ini. MU mungkin lebih difavoritkan banyak orang, karena selain faktor sejarah juga mereka terbutki lebih haus gol dibandingkan Chelsea di berbagai kompetisi. Yang akan membuat pertandingan final nanti lebih seru tentunya adalah adanya aroma dendam kesumat, karena pada saat pertandingan berlangsung tentunya sudah dipastikan siapa yang menjadi juara EPL. Tim yg gagal jadi juara EPL akan bertarung mati2an meraih gelar UCL untuk memastikan mereka dapat satu gelar tahun ini.
Menarik untuk dilihat apakah Chelsea akan berhasil mengukir sejarah lainnya, menjadi juara baru UCL? Jika Chelsea berhasil menjadi juara, maka ini untuk kali pertama sejak 1997 akan ada juara baru lagi di ajang UCL setelah Borrusia Dortmund melakukannya 11 tahun lalu sewaktu mengalahkan Juventus. Nampaknya Chelsea hrs berjuang ekstra keras dan berharap dewi keberuntungan akan menaungi mereka di moskow nanti. Karena, kalau kita lihat fakta sejarah lagi, dalam abad ke-21 ini, tim debutan final UCL selalu kalah dengan tim yg sebelumnya pernah menjadi juara UCL atau Piala Champions. Ingat final madrid-valencia 2000, madrid-leverkusen 2002 (CMIIW)porto-monaco 2004 dan barcelona-arsenal 2006. Apakah Chelsea akan bernasib seperti debutan2 lainnya atau akan mencatat sejarah baru? Kita tunggu 21 mei nanti....Ada satu mitos di final UCL, yaitu tim yang pemainnya paling 'mupeng' (muka pengen) pada tropi Piala Champions, biasanya akan kalah di final. Kemupengan ini biasanya ditunjukkan dengan sentuhan atau ciuman pemain pada tropi pada saat pemain akan memasuki lapangan.... Nah, siapa yang kira2 lebih mupeng kali ini, pemain MU atau Chelsea.... secara psikologis, tentunya pemain Chelsea lebih mupeng... huehuehe... karena mereka belum pernah sekalipun menyentuh itu piala, apalagi ada dua pemain Chelsea yang menjadi bagian sejarah tersingkirnya debutan di final UCL, Ballak di leverkusen dan Drogba di monaco.
Makanya, akan adakah sejarah baru ... atau hanya pengulangan sejarah... kita lihat saja nanti....
Berharap Liverpool Menang
Horee...!!! Akhirnya bisa juga ngeblog...:) Untuk postingan pertama repost catatan yang pernah gw posting di beberapa milis yang saya ikuti, so enjoy!!!
Catatan ini gw buat pada saat menjelang pertandingan leg pertama semifinal UEFA Champions League. Sebagai seorang Liverpudlian, gw berharap Liverpool yang menang, namun apa daya kenyataannya berbicara lain, Liverpool kalah dari Chelsea dengan agregat 4-3. Bagaimanapun juga, kekalahan ini nggak bisa ngurangin kegemaran saya pada 'the Reds'....
Mendekati akhir kompetisi, situasi persaingan untukmerebutkan gelar EPL semakin seru. Betapa tidak, dua tim yang paling berpeluang menjadi juara, MU dan Chelsea, akan bertemu dalam pertandingan hidup mati pada matchday ke-36. Kemenangan merupakan harga mati bagi keduanya untuk memuluskan langkah menjadi kampiun EPL tahun ini. Situasi ini semakin panas karena kedua tim juga masuk dalam putaran semifinal Liga Champions dan pertandingan semifinal dilakukan sangat berdekatan dengan pertandingan liga domestik.
Bagi Chelsea yang belum pernah sekalipun merasakan nikmatnya gelar Liga Champions, ini kali ketiga mereka sampai ke babak semifinal dan bertemu lawan yang sama, Liverpool, peringkat ke-4 sementara EPL. Kemenangan dalam semifinal tampaknya menjadi keharusan bagi pemilik Chelsea, karena nafsunya untuk dapat menjuarai Liga Champions. Petinggi Chelsea tampaknya akan pusing tujuh keliling, untuk menentukan prioritas mana yang akan diambil, juara EPL atau juara Liga Champions atau keduanya. Pilihan terakhir kayaknya yang akan diambil, nafsu!!!
Untuk itu, mungkin di semifinal leg ke-1 liga champions, Chelsea tidak akan terlalu ngotot mengingat masih akan ada pertandingan kedua. Main aman diAnfield untuk sekedar hasil imbang, kemudian bersiap-siap sepenuh tenaga menghadapi MU untuk memastikan peluang juara EPL, dan baru main habis-habisan lawan Liverpool di Stamford Bridge pekan berikutnya. Tapi, apa iya bisa seperkasa itu si Chelesa ini?
Keuntungan tentunya ada di pihak Liverpool, tim ini hanya perlu konsentrasi di liga Champions karena hampir bisa dipastikan tiket liga Champions tahun depan sudah di tangan setelah jarak dengan peringkat ke-5 Everton melebar menjadi 8 poin dengan tiga sisa pertandingan. Dengan konsentrasi penuh, Liverpool akan berusaha sekuat tenaga meraih kemenangan di Anfield dengan gol sebanyak-banyaknya! Ingat Arsenal kandas dengan 4 gol di pertandingan sebelumnya. Untuk kemudian, main aman waktu bertandang ke Stamford Bridge.
Harapan gw, Liverpool akan bertemu dengan ManchesterUnited di Moskow Mei nanti. Dan kalau kejadiannya memang begitu, dan ternyata Liverpool yang menang...woww!!! What a dream. Tiga klub peringkat teratas EPL kalah lawan Liverpool, peringkat ke-4. Jadi, Liverpool secara tidak langsung akan menjadi Juara Liga Champions dan Juara EPL, dan... The Reds rule the world!!!