02 September 2009

Mimbar Jumat: Jantung Sehat A la Liverpudlian

Agustus. Bulan penuh berkah kemeriahan. Biasanya di bulan ini, orang ramai bikin hajatan, tujuhbelasan. Lomba-lomba, upacara, dan diakhiri malamnya dengan pesta suka cita menyambut ulang tahun republik.



Di belahan lain bumi ini, bulan Agustus juga merupakan bulan dimulainya tempik sorak penggila sepak bola. Di bulan Agustus inilah, sebagian besar Liga Sepak Bola terkemuka dunia dimulai. EPL di Inggris, La Liga di Spanyol, Seri A di Italia dan BundesLiga di Jerman. Sebuah kegaduhan yang akan berakhir lebih kurang sembilan bulan kemudian. Orang mulai ramai bicara tentang peluang-peluang dan pastinya taruhan. Orang akan melihat apakah trilyunan rupiah yang dikeluarkan untuk belanja pemain akan memberi hasil yang memadai di akhir kompetisi. Tapi yang jelas, hasil-hasil pertandingan di minggu-minggu awal di EPL cukup menjajikan dinamika. Dua kekalahan Liverpool dan kekalahan ManU dari tim promosi Burnsley jelas menjanjikan pacuan perebutan gelar EPL yang menarik. Belum lagi, munculnya 'raksasa baru' Man City, yang kemungkinan akan menggoyahkan tradisi dominasi 'the big four'.

Tentu akan sangat susah memrediksi siapa yang bakal juara EPL musim ini. lalu, bagaimana peluang Liverpool? Kekuatan Liverpool musim ini hampir tidak ada perbedaan dengan tahun sebelumnya, kecuali perginya pemain tengah Xabi Alonso ke Real Madrid. Banyak yang beranggapan bahwa kepergian Xabi Alonso ini berdampak buruk pada kinerja permainan lapangan tengah Liverpool. Bisa jadi begitu, penampilan yang kurang mengesankan pada pertandingan awal seperti ketika dikalahkan Spurs dan Aston Villa mungkin menjadi alasannya. Tapi apapun, sejarah mencatat bahwa kekalahan di fase awal kompetisi bukan akhir dari segalanya. Pernah dilakukan Liverpool sebelumnya di tahun 80-an, awal yang jelek, kekalahan di fase awal ternyata berakhir dengan direbutnya mahkota Liga Inggris. Sebaliknya, penampilan yang apik hampir sepanjang musim di musim terkahir, hanya kalah dua kali dan men-double manU dan Chelsea, ternyata tak menghasilkan gelar apapun.

Jadi, itulah nikmatnya jadi seorang penggemar Liverpool. Kita tunggu dan lihat saja setiap pertandingan, nikmati dan tetap berharap jantung Anda akan terus sehat.....




Gambar diambil dari sini

31 Agustus 2009

Mimbar Jumat: Tahu Batas*)

Ini cerita tentang seekor kodok dan anak-anaknya. Keluarga kokdok itu sedang asyik 'ngorek' ketika tiba-tiba datang seekor kerbau dan huup... menginjak seekor anak kodok hingga lenyap terbenam dalam lumpur.

Tak berapa lama, sang induk datang dan menghitung anak-anaknya. Ternyata kurang satu. Dicari tahulah kepada anak-anak kodok yang lain, kemana gerangan sang anak kodok. Anak-anak kodok yang lain cerita kepada sang induk kalau salah satu di antara mereka terinjak hingga terbenam oleh sesuatu yang besar dan hitam. Mereka tak tahu apa gerangan yang membenammatikankan saudaranya itu!

"Besar dan hitam, ibu...", kata salah satu anak kodok kepada induknya. Sang induk menggelembungkan perutnya untuk memastikan, "Sebesar inikah anakku?"

"Bukan ibu, lebih besar lagi", seru anak kodok yang lain. "Sebesar inikah?" tanya sang induk sambil memperbesar perutnya. "Tidak ibu, lebih besar lagi. Sudahlah... ibu tidak akan bisa sebesar benda itu!" seru anak kodok yang lain.

Tapi, demi menghapus rasa penasarannya, sang induk tetap memperbesar dan memperbesar lagi perutnya. Sang anak, berusaha mencegah sang induk melakukan itu, sambil meyakinkan bahwa sang induk tidak akan bakal mampu memompa perutnya hingga sebesar kerbau. Tapi sang induk tetap bersikeras, sampai akhirnya, "Pyyaarrrr....!" Pecahlah perut si induk.


*Dari Dongeng Pagi-pagi Bersama Poetri dan Rafiq di 89,6FM, 070809

17 Agustus 2009

Mimbar Jumat: 64 Tahun Indonesiaku, hari-hari yang mencerahkan

Seroang laki-laki tergopoh-gopoh kepanikan ketika datang mengetuk pintu pagar rumah kami. Hari ini, 17 Agustus 2009 tepat 64 tahun kemerdekaan Indonesia, jarum jam dinding baru menunjukkan angka 8. Pagi yang cerah, untuk Indonesia yang sedang berulang tahun. Tapi tentu tidak cerah bagi laki-laki usia 30-an itu. Ya. Malamnya, istrinya keguguran yang tengah hamil 6 bulan keguguran dan harus dibawa ke rumah sakit. Kepanikan menyergap tatkala ketika hendak membawa pulang sang istri, diminta untuk menyediakann sejumlah uang, jumlah yang mungkin tak pernah berani dia bayangkan bagaimana rasanya memiliki uang sebanyak itu. Maka, ketika permintaan tolong itu begitu saja meluncur dari lelaki itu, barangkali itu adalah langkah terakhir yang dia bisa lakukan. Dan rasanya, akan sangat berdosa sekali kalau tak mengulurkan sedikit bantuan. Mungkin ini cara Tuhan menguji kadar keimanan. Pertanyaannya kemudian, benarkah kita sebagai bangsa telah benar-benar merdeka?! Barangkali, inilah dua sisi wajah Indoensia kita, merdeka tapi tidak merdeka! Pencerahan pertama.

Pencerahan kedua, ketika hendak berangkat ke tempat tugas baru di Borneo, teman-teman di Pelayanan LTO1 memberikan sebuah bingkisan. Ternyata dua buah buku. Andy's Corner-nya Andy F. Noya, hostnya Kick Andy dan The World Is Flat-nya, Thomas L. Friedman. Woww!!! Reading assignment yang cukup berat. Tapi menarik dan satu buku sudah selesai, satunya lagi on progress! Buku Andy's Corner berisi pengalaman batin penulisnya yang cukup inspiratif. Friedman, sama seperti buku-buku sebelumnya cerita bagaimana dunia berubah secara drastis seiring dengan peristiwa globalisasi dan penemuan di bidang teknologi informasi yang terjadi dari era 80-an hingga 90-an. Demikian drastisnya, seolah-olah bumi tak lagi bundar seperti kata para ilmuwan. Buat teman-teman di Palayanan terima kasih banyak atas pencerahannya. That's why I'm so glad having you guys as my men!!!

Pencerahan ketiga, pada Kamis 13 Agustus saya berada di satu forum yang melegakan. Melihat teman sekolah dulu yang telah berhasil mengelola satu kantor dengan begitu baik, yang bisa membangkitkan semangat seluruh punggawa kantor untuk bekinerja dengan baik. Juga, ada kelas tentang komunikasi yang menyadarkan saya akan satu hal. Bahwa kita dengan target-target kita, cita-cita kita sebenarnya begitu dekat asal kita punya keyakinan tinggi bahwa kita akan mampu meraihnya. Ini juga mungkin yang terjadi pada diri saya.

Sedikit cerita ke masa lalu, pada saat sekolah dulu, ada seorang dosen yang meminta kami para mahasiswanya untuk membuat rencana karir. Anehnya. subhanallah, semua rencana yang saya tulis dalam penugasan itu, menjadi kenyataanm paling tidak sampai dengan hari ini. Bahkan sampai dengan detil time tablenya, nyaris sama persis! Inikah rahasia keyakinan itu? Wallahu alam.

PS: karena alasan teknis, Mimbar Jumat ini baru terbit hari Senin.

31 Juli 2009

Mimbar Jumat: Pak Polisi Baik Hati, Majulah POLRI!*

Pengalaman masa kecil seseorang kadang mempunyai efek jangka panjang. Bahkan bisa sangat panjang, sampai ketika seseorang tersebut sudah menjadi orang tua. Ini juga menjadi pengalaman pribadi saya. Ketika kecil, saya takut sekali kalau berhadapan dengan aparat berseragam, karena punya seorang tetangga yang anggota salah satu kesatuan, yang tampak luar --juga dalamannya-- sangat galak! Selain itu, setiap lewat depan 'tangsi', ini sebutan orang tua saya untuk markas Kepolisian Sektor (polsek) kakak saya sering kali berkata, 'Diam, ada polisi!" Dua pengalaman ini membuat saya kadang deg-degan setiap kali di jalan diberhentikan oleh Pak Polisi. Tapi tiga pengalaman saya berinteraksi dengan Pak Polisi dalam dua bulan terkahir, ternyata mampu mengikis trauma saya itu.

***

Akhir Mei 2009. Waktu masih menunjukkan pukul 09.00 waktu Tokyo. Saya pada hari itu kebetulan lagi ada tugas ke sana. Saya mencoba telepon ke rumah menanyakan keadaan anak saya, Maliq, karena sehari sebelumnya ketika telepon ke rumah ada kabar si buyung sedang sakit. Tapi, jawaban dari seberang telepon sungguh menganggetkan, "Pak, rumah kita dibobol mali!" Demikian, pekik isteri saya. "Waauw...!" Jawab saya. "Sebentar Pak, ini saya lagi mau ke kantor polisi", sambung isteri saya. "Nggak usahlah...", cegah saya. Pengalaman buruk saya ketika dulu kemalingan membuat saya berusaha mencegah beurusan dengan aparat. Ya sudahlah, ikhlaskan saja.... Tapi isteri saya tetap melapor ke kantor polisi. Dan sampai sekarang, nggak ketahuan gimana kasus pencurian itu ditangani. "Seperti biasanya. Sudahlah!" pikir saya.

Dua hari kemudian, di Tokyo, ada rombongan kepolisian dari Polres Bekasi datang ke asrama di mana saya menginap. Mereka serombongan polisi yang akan studi banding tentang pengembangan 'community police', semacam polisi lebih merakyat gitulah kira-kira. Luar biasa, mudah2an berhasil, kita doakan. Dari obrolan dengan mereka ada beberapa hal baru yang saya ketahui tentang dunia kepolisian. Dari sini, saya menjadi lebih paham, mengapa kadang kelihatan begitu sulit bagi pak polisi untuk mengungkap tindak kejahatan. Satu lagi adalah bagaimana prestasi pak polisi kita begitu diapresiasi oleh kalangan polisi di negara-negara lain karena keberhasilan mengungkap kasus-kasus terorisme. Hal yang mendapat konfirmasi dari mantan Komandan Densus 88 waktu diwawancara Karni Ilyas di TVOne. Satu hal lagi, saya dapat begitu akrab dengan beberapa polisi itu. Tak ada lagi trauma masa kecil. Barangkali karena mereka tidak berseragam,... beberapa Polwan pulak!

Kamis 30 Juli 2009. Waktu menunjukkan pukul 19.40. Kondisi jalan tol dari Semanggi ke arah Tomang macet berat di sekitaran Slipi. Karena berencana keluar di pintu tol Slipi, maka sehabis jembatan layang Slipi, saya berinisiatif mengambil bahu jalan. Toh, sudah dekat pintu tol. Tapi, ternyata di ujung sana sudah menunggu beberapa Pak Polisi. Dan salah satu petugas tersebut memberhentikan laju mobil saya yang telah balik lagi ke lajur paling kiri. Seorang petugas, menyapa, kemudian sesuai dengan protap, menanyakan STNK dan SIM. Meneliti sebentar dan kemudian bertanya kepada saya, "Mau dibantu atau ditilang?" tanya pak polisi.

"Tilang pak", jawab saya cepat. Mendengar jawaban saya pak polisi tertawa sambil berkata, "Kenapa kok milih yang susah, mau dibantu atau ditilang?" ulang pak polisi.

Jujur, saya jadi agak kikuk. "Dibantu macam mana ini pak polisi", tanya saya dalam hati. Lalu, saya bilang, "Kalau memang salah ya tilang aja pak". Lagi-lagi pak polisi itu ketawa, "Wong ditawari yang mudah kok malah pilih yang susah. Kalau Anda bilang dibantu ini sampeyan saya lepas, jalan lagi", lanjut pak polisi setelah memberikan beberapa nasihat singkat tentang kesalahan dan permintaan agar tidak mengulanginya. Akhirnya, saya katakan, "Tolong dibantu Pak".

"Nah, gitu dong," jawab pak polisi. Sambil mengatakan bahwa jangan serta merta berpikiran kalau 'dibantu' itu berarti minta sesuatu. Karena menurut Pak Polisi kita ini, beliau memang tidak berniat untuk itu dan hanya berniat mengingatkan kesalahan saya dan meminta saya untuk tidak mengulanginya lagi. Dan, saya pun berjanji demikian halnya. Kemudian saya tanyakan nama dan unit dari Pak Polisi itu, kenalan ngobrol sedikit, salaman, mengucapkan salam dan pamitan untuk melanjutkan perjalanan.

***

Di sepanjang sisa perjalanan ke rumah, saya begitu gembira. Cerita tentang ide 'community police' dan reformasi kepolisian yang saya dengar dari rombongan Polres Bekasi sepertinya bukan hanya dongeng di negeri mimpi. Paling tidak bagi Pak Polisi yang memberhentikan saya tadi. Mudah-mudahan semua polisi kita akan seperti Pak Polisi Kita tadi itu. Semoga. Bravo Kepolisian RI.... maju terus!

Salam untuk Pak Kusdiharto anggota Patroli Tol Dalam Kota Mobil Patroli #01-951

24 Juli 2009

Mimbar Jumat: Stop Complaining, Do Something*

Seorang petani sedang mangarahkan jalan kuda-kuda penarik gerobaknya di tengah pagi buta. Lumpur kering akibat hujan beberapa hari sebelumnya membuat jalan kereta terseok-seok pagi itu. Ketika tiba ditengah-tengah jalan yang menghubungkan dua desa, tiba-tiba "prakk!", roda kereta pak tani tadi terperosok ke lubang bekas kubangan. Pak tani gusar bukan kepalang, barang bawaannya musti sampai di pasar sebelum matahari meninggi, kalau tidak, akan layulah sayuran hasil panennya itu. Dan, bayangan segepok uang hasil penjualan yang sudah ada di depan mata akan musnah begitu saja.

"Sial", umpat pak tani dalam hati. "Ya, Tuhan, mengapa roda keretaku masuk lubang, mengapa Kau persulit rejekiku hari ini. Coba roda keretaku nggak terperosok ke lubang sialan itu, mungkin aku sudah sampai di pasar..... Mana nggak ada orang yang bisa bantuin lagi...." Pak tani mengeluh berkepanjangan mengutuk nasibnya sambil berdiri terpaku menatap roda keretanya. Tanpa melakukan apapun!

Tiba-tiba, pak tani teringat satu nama yang dia yakini mampu membantunya mengangkat roda kereta. "Hercules!" pekik pak tani kegirangan. "Ya, kalau aku panggil Hercules, mungkin dia akan datang dan membantuku mengangkat roda kereta ini", guman pak tani dalam hati. Lalu, "Herculesss... datanglah!" teriak pak tani lantang. Tiba-tiba, wuusshhhhh... angin bertiup kencang menerbangkan debu jalanan. Dari balik debu muncullah sesosok laki-laki . "Ya, Hercules datang..." pak tani berkata dalam hati.

"Aha... syukurlah, kau datang wahai Hercules!" ujar pak tani tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.

"Ada apa pak tani?" tanya laki-laki itu.

"Ini, Her, aku inging minta tolong kamu untuk angkatin roda keretaku. Kamu 'kan seorang laki-laki yang kuat dan perkasa... hehehe", jawab pak tani.

"Hmm... kenapa nggak kau lakukan sendiri, mengangkat roda keretamu?" tanya laki-laki itu lagi.

"Aduh..., aku ini kan hanya petani, badanku kecil, tenagaku lemah, mana mungkin mampu mengangkat roda kereta segede gini. Pasti nggak kuatlah Her, saiapalah aku ini...." Pak tani terus menerus merendahkan dirinya di hadapan laki-laki itu, dengan harapan laki-laki itu bersedia membantunya. "Nggak, kamu angkat sendiri saja", jawab laki-laki itu.

"Ayolah Her, bantu aku...." pinta pak tani memelas. Demikianlah, pak tani terus menerus mengeluh dan memelas minta tolong, tetapi laki-laki itu tak mau memenuhi permintaah pak tani. Setelah sekian lama, akhirnya laki-laki itu melunak juga. "Baik..." kata laki-laki itu. "Aku akan bantu, tapi ada syaratnya!" lanjut laki-laki itu.

"Apa itu?" balik pak tani cepat. "Aku akan bantu angkat, tapi kau juga harus ikut mengangkat roda keretamu itu. Kamu angkat sedikit saja sambil kau suruh jalan kudamu, akau akan bantu dari belakang", jawab laki-laki itu. "Baik kalau gitu, ayo kita mulai", kata pak tani semangat.

Pak tani itupun mulai mengangkat roda keretanya. Begitu roda terangkat sedikit, dia perintahkan kudanya untuk maju. Sementara laki-laki itu hanya berdiri di belakang kereta tanpa mau menyentuh sedikitpun kereta pak tani. Dia hanya berteriak-teriak meberi aba-aba kepada pak tani. Sedikit demi sedikit, sampai akhirnya rodak kereta keluar dari lubang lumpur. Tapi, tampaknya pak tani sempat melirik kelakuan laki-laki itu. Maka ketika dia bersiap akan naik kereta, pak tani bertanya kepada Hercules. kenapa tidak membantu sama sekali kecuali berteriak-teriak memberi aba-aba.

Laki-laki itu menjawab, "Aku nggak mau bantu sampai kau berusaha mencoba melakukannya sendiri! Karena kalau kau hanya berdiam sambil menggerutu dan mengutuk diri dan nasibmu, roda keretamu nggak akan pernah keangkat! Lagian, mana aku kuat mengangkat roda keretamu??" "Lho, Hercules kok nggak kuat", sergah pak tani.

"Siapa bilang aku Hercules, namaku Mughni.... tau!!" jawab laki-laki itu sambil tersenyum.

"??^*%^*#&"

*Diceritakan kembali dari dongeng pagi-pagi bersama Poetri dan Rafiq di 89,6FM 24/07/09