09 September 2011

Haryo Penangsang


'Sejarah ditulis oleh para pemenang' – Alex Haley, penulis AS 1921-1992


Selama Ramadhan kemarin, salah satu kegiatan 'ngaji' yang saya lakukan selepas subuh adalah membaca novel. Kali ini, yang menjadi bahan 'ngaji' saya adalah sebuah novel berjudul 'Penangsang-Tembang Rindu Dendam'. Novel ini sendiri sudah saya beli berbulan silam, namun baru sempat baca belakangan ini. Saya tertarik beli dan baca novel ini, karena kisah tentang Haryo Penangsang, seorang adipati dari sebuah wilayah bernama Jipang yang merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kesultanan Demak Bintoro pada abad 16. Sebuah wilayah yang kira-kira meliputi area dari Cepu sampai Rembang.


Berdasarkan pengalaman selama ini, kisah Haryo Penangsang selalu digambarkan sebagai seorang adipati yang sakti madraguna sekaligus haus kekuasaan dan temperamental. Semua karakteristik kepemimpinan yang jelek ada di sana. Terbayang bagaimana pemain memerankan Haryo Penangsang dalam pertunjukan ketoprak di TVRI Jogjakarta tempo dulu. Adegan murkanya Haryo Penangsang setelah mengetahui tukang rawat kudanya dipotong daun telinganya oleh pihak Pajang dan membaca tantangan dari Mas Kerebet untuk melakukan duel. Gambaran yang ditafsirkan dari kisah yang terangkum dalam Babad Tanah Jawi.


Namun, di dalam novel yang ditulis oleh Nassirun ini, penulis hendak melakukan penafisarn yang bisa jadi beda sama sekali dengan penafsiran yang selama ini ada dan jamak dipahami oleh masyarakat (Jawa). Berbeda dengan gambaran karakter Haryo Penangsang yang seperti saya biasa lihat dalam adegan ketoprak, Haryo Penangsang dalam novel ini digambarkan berbeda sama sekali. Haryo Penangsang yang merupakan anak dari Pangeran Sekar (anak laki2 dari isteri ketiga Raden Patah) digambarkan sebagai seorang adipati yang-merupakan anak asuh favorit Sunan Kudus- tidak saja sakti dan paham betul soal olah keprajuritan tetapi juga jago dalam tata pemerintahan dan ilmu agama. Juga digambarkan bagaimana tidak berminatnya penangsang terhadap kekuasaaan, khusunya yang menyangkut menjadi Sultan Demak, meski segala persyaratan ada padanya.


Novel ini juga menguraikan kematian Pangeran Sekar atau Raden Kikin (meninggal di atas jembatan Sungai Tuntang setelah ditusuk dengan keris Setan Kober oleh suruhan Bagus Mukmin, anak Sultan Trenggono-karenanya disebut pangeran Sekar Sedo-meninggal- Lepen-di sungai). Kematian yang menjadi buah kesalahpahaman. Karena kedatangan Pangeran Sekar ke Demak pada hari itu adalah untuk menyatakan penyesalan dan permohonan maaf atas kemarahannya karena diangkatnya Sultan Trenggono sebagai pengganti Pati Unus. Sebuah kedatangan yang disalahpahami sebagai langkah untuk melakukan pembunuhan terhadap Sultan trenggono sebagaimana terucap oleh Pengran Sekar beberapa hari sebelumnya. Yang terakhir ini juga merupakan tafsir yang ada di Babad Tanah Jawi. Sebuah kematian yang dua puluh lima tahun kemudian menjadi pangkal soal pertikaian antara keturunanSultan Trenggono (termasuk mas Kerebet a.k.a Joko Tingkir yang menjadi menantu Trenggono) dengan keturunan Pangeran Sekar (salah satunya Haryo Penangsang).


Sebuah pertikaian yang merupakan kelanjutan dendam lama antara pendukung Majapahit dengan kerajaan baru: Demak. Pertikaian panjang soal perebutan kekuasaan di Tanah Jawa. Pertikaian yang juga timbul karena perbedaan pendapat antara anggota waliyyul amri (Wali 9) utamanya antara Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus tentang bagaimana menguatkan Kesultanan Demak dan menyebarkan agama islam di pedalaman Jawa. Pertikaian yang pada akhirnya dimenangi oleh Trah Trenggono lewat Mas Kerebet, yang pada akhirnya menjadi cikal bakal kerajaan Mataran Baru (Jogja-Solo).


Cerita-cerita versi 'Babad Tanah Jawi' yang beredar selama ini, paling tidak yang saya ketahui- pada akhirnya memang menggambarkan pihak Mas Kerebet sebagai 'good guy' nya dan Penangsang menjadi 'bad guy'-nya. Barangkali karena memang sejarah selalu ditulis oleh sang pemenang. Persoalannya, haruskah sejarah yang ditulis sang pemenang tadi harus diterima sebagai kebenaran mutlak. Tak tahu juga. Mungkin tergantung kejujuran Si Pemenang. Allahu a'lam bissawab.

Poskan Komentar